PENGARUH LATIHAN  CIRCUIT TRANNING ZIG – ZAG RUN TERHADAP  KEMAMPUAN LOMPAT JAUH GAYA JONGKOK SISWA KELAS XI SMA NEGERI 1 SO’A

PENGARUH LATIHAN  CIRCUIT TRANNING ZIG – ZAG RUN TERHADAP  KEMAMPUAN LOMPAT JAUH GAYA JONGKOK SISWA KELAS XI SMA NEGERI 1 SO’A

 Maria Florantina Dhiu1, Yovinianus Mbede Wea2, Nikodemus Bate, M. Pd3

1)MahasiswaProgram Studi PJKR2,3),Dosen STKIP Citra Bakti

 

Program Studi PJKR,STKIP Citra Bakti

MARIA.FLORANTINA.DHIU@gmail.com

 

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh latian circuit tranning zig zag run terhadap kemampuan  lompat jauh gaya jongkok siswa kelas XI SMAN 1 Soa. Jenis penelitian ini adalah dengan penelitian eksperimen dengan The Statics-group pretteest-posttes design. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas XI SMAN1 Soa yang berjumlah 40 orang. Sampai pada penelitian ini adalah seluruh siswa kelas X1 SMAN 1 soa yang berjumlah 40 orang yang terdiri atas dua kelas yang setara masing-masing 20 0rang kelompok eksperimen dan 20 orang kelompok kontrol. Data dikumpulkan dengan menggunakan teknik tes dan pengukuran lompat jauh gaya jongkok dengan tiga kali  pengulangan, jarak terjauh menjadi hasil tes. Data dianalisis dengan menggunakan statistik inferensial dengan uji-t untuk menguji hipotesis penelitian. Dari perhitungan uji-t diperoleh t-hitung 6,12 karena n= n2 dan homogen, maka t-tabel dengan derajat kebebasan= 20+20-2=38 dengan taraf signifikan α= 0,05 ( uji dua pihak) adalah 1,12. Ternyata t-hitung 6,12>t-tabel 1,68. Sehinggah H0 di tolak dan H1 di terima. Rata-rata gain score kemampuan lompat jauh gaya jongkok pada kelompok eksperimen 0,363 dan kelas kontrol 0,330. Dengan demikian maka dapat di simpulkan bahwa ada pengaruh latihan circuit tranning zig zag run terhadap kemampuan  lompat jauh gaya jongkok siswa kelas XI SMAN 1 soa.

 

Kata-kata kunci:  Latihan Circuit Tranning Zig Zag Run, Kemampuan LompatJauh Gaya Jongkok

 

ABSTRACT                This study aims to determine the effect of latian circuit tranning zig zag run on the ability of squat style long jump students of class XI of SMAN 1 Soa. This type of research is an experimental study with The Statics-group pretteest-posttes design. The population in this study were all students of class XI of Soa Senior High School 1 totaling 40 people. Up to this study were all students of class X1 of SMAN 1 Soa, amounting to 40 people consisting of two equal classes, each of 20 students in the experimental group and 20 in the control group. Data were collected using the squat style long jump style test and measurement technique with three repetitions, the farthest distance being the test results. Data were analyzed using inferential statistics with a t-test to test the research hypothesis. From the calculation of the t-test obtained t-count 6.12 because n = n2 and homogeneous, then the t-table with degrees of freedom = 20 + 20-2 = 38 with a significant level α = 0.05 (two-party test) is 1, 12 It turns out that t-count is 6.12> t-table 1.68. After leaving H0 is rejected and H1 is accepted. The average gain score of squat style long jump ability in the experimental group was 0.363 and the control class was 0.330. Thus, it can be concluded that there is an effect of zig zag run circuit tranning training on the ability of squat style long jump students of class XI of SMAN 1 soa. Keywords: Circuit Tranning Zig Zag Run Exercise, Squat Style Long Jump Ability

 PENDAHULUAN

Pendidikan Jasmani merupakan proses pendidikan yang memanfaatkan aktivitas jasmani dan direncanakan secara sistematik bertujuan untuk meningkatkan individu secara organik, neuromuskuler, perseptual, kognitif, sosial dan emosional, dengan fokus pengembangan aspek kebugaran jasmani, keterampilan gerak, keterampilan berfikir kritis, stabilitas emosional, keterampilan sosial, penalaran dan tindakan moral melalui aktivitas jasmani (Subagiyo dkk, 2008: 18).

Olahraga merupakan salah satu kegiatan yang dilakukan manusia untuk mencapai kesehatan dan kondisi fisik yang bugar. Berbagai cara dapat dilakukan untuk mencapai tujuan tersebut baik dengan olahraga ringan sampai pada olahraga berat atau melalui sarana yang mudah sampai yang kompleks. Salah satu cabang olahraga yang dapat mewujudkan kesehatan dan kondisi fisik yang bugar adalah atletik.

Atletik adalah aktivitas jasmani atau latihan jasmani yang berisikan gerak alamiah atau wajar seperti jalan, lari, lompat, dan lempar. Atletik dilakukan di semua negara, karena nilai nilai edukatif yang terdapat didalamnya juga memegang peranan penting dalam pengembangan kondisi fisik, sehingga dapat menjadi dasar pokok untuk pengembangan atau peningkatan prestasi yang optimal bagi cabang olahraga lain dan bahkan diperhitungkan sebagai ukuran kemajuan suatu negara, khususnya dalam prestasi olahraga, (Persatuan Atletik Seluruh Indonesia, 1994: 5-6).

Lompat jauh adalah salah satu nomor dari cabang olahraga atletik yang sudah dikenal oleh banyak orang atau dengan kata lain lompat jauh sudah dikenal oleh masyarakat kuno sejak lahir/ ada, dimana dalam kesehariannya mereka dipaksa oleh alam untuk lompat atau berlari guna mempertahankan kehidupan. lompat jauh adalah suatu bentuk gerakan melompat mengangkat kaki ke atas ke depan dalam upaya membawa titik berat badan selama mungkin di udara (melayang di udara) yang dilakukan dengan cepat dengan jalan melakukan tolakan pada satu kaki untuk mencapai jarak yang sejauh-jauhnya. Tehnik yang digunakan untuk mendapatkan prestasi yang tinggi di bidang olahraga khususnya lompat jauh memang tidak mudah. Selain ketekunan, latihan yang rutin dan tingkat kedisiplinan juga mempengaruhi penciptaan atlet lompat jauh yang profesional, serta tentunya dalam pencapaian prestasi atlet tersebut, (Saputra ,2001: 47).

Teknik lompat jauh  termasuk yang paling sederhana dibandingkan  dengan gaya yang lain. Mencapai prestasi yang baik di dalam lompat jauh perlu didukung dengan latihan yang baik melalui pendekatan-pendekatan ilmiah dengan melibatkan berbagai ilmu pengetahuan. Kaitannya dengan latihan untuk mencapai prestasi ada beberapa unsur yang perlu diperhatikan dan ditingkatkan. Banyak sekolah-sekolah yang tidak memiliki fasilitas pendidikan jasmani yang layak dan memadai. Salah satu kendala kurang lancarnya pembelajaran pendidikan jasmani disekolah-sekolah, adalah kurang memadainya sarana yang dimiliki oleh sekolah-sekolah tersebut. Disamping itu ketergantungan para guru penjas pada sarana yang standar serta pendekatan pembelajaran pada penyajian teknik-teknik dasar juga standar sesuai dengan kurikulum yang ditetapkan. Kedua hal tersebut menyebabkan pola pembelajaran yang dan cenderung membosankan. Dalam situasi dan kondisi sekolah-sekolah dewasa ini, dimana ruang gerak para siswa untuk beraktivitas fisik semakin berkurang, apalagi untuk melakukan kegiatan olahraga. Pengembangan sarana pendidikan jasmani artinya melengkapi yang sudah ada dengan cara mengadakan, memperbanyak dan membuat alat-alat yang sederhana atau memodifikasi. Tujuannya adalah untuk memberdayakan anak, agar bisa lebih banyak bergerak dalam situasi yang menarik dan gembira tanpa kehilangan esensi pendidikan jasmani itu sendiri untuk melakukan latihan  (Jarver , 2008:79).

Menurut Jarver (2009: 24) yaitu: 1) memproyeksikan pusat grafitasi (gaya berat) tubuh si pelompat di udara pada kecepatan bergerak ke muka yang maksimum. 2) Jauhnya lompatan yang dapat dicapai tergantung pada kecepatan lari, kekuatan, dan  percepatan pada saat take of (memindahkan kecepatan horizontal ke gerakan bersudut).

Latihan yang di gunakan adalah latihan circuit tranning zig-zag run. Tujuan latihan ini adalah zig-zag run adalah untuk menguasai keterampilan lari, menghindari dari berbagai halangan baik orang maupun benda yang ada disekeliling (wedana, 2014). Sebagai efek dari diberikan pelatihan zig-zig run adalah adanya perubahan kecepatan sebagai bentuk adaptasi dari tubuh terhadap pelatihan yang diberikan berupa peningkatan kemampuan kerja otot.

Kemampuan lompat jauh siswa SMAN So’a  belum optimal. baik pada hasil latihan di sekolahmaupun hasil di tingkat porseni. Bila ingin mencapai prestasi maksimal, sudahtentu banyak aspek yang perlu diperhatikan, karena pada nomor lompat jauhdiperlukan kemampuan fisik yang cukup tinggi seperti kemampuan tolakan,power otot tungkai, kecepatan berlari dan faktor lainnya yang dapat menyebabkanseseorang dapat melompat sejauh-jauhnya dengan teknik yang benar.Pembinaan olahraga di sekolah berkaitan erat dengan pendidikan jasmani,yang tidak terlepas dari peranan guru pendidikan jasmani dan kesehatan dalammenyumbangkan pemikirannya untuk meningkatkan hasil belajar siswa. Untukmeningkatkan hasil belajar siswa diperlukan usaha dan memperbaiki kelemahansistem strategi mengajar yang selama ini dipakai. Pemilihan strategi mengajaryang tepat sangat membantu usaha mencapai keberhasilan proses belajar mengajardi samping tujuan, bahan pelajaran, siswa dan lingkungan.

Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, karakteristikdari cabang olahraga tersebut harus dipahami, misalnya dalam cabang atletik yaitupada nomor lompat jauh dibutuhkan latihan-latihan yang intensif dan terprogramdengan baik sesuai dengan strategi mengajar, misalnya dengan metode lompatjauh atau lompat tanpa awalan.

Berdasarkan hasil pengamatan peneliti selama PPL ditemukan bahwa pelaksanaan belajar atletik lompat jauh di tingkat SMA kurang berhasil,hal ini disebabkan oleh beberapa faktor antara lain, 1)strategi yang digunakan tidak dapat membantu usaha untukmeningkatkan hasil belajar, 2) siswa kurang semangat dalam berlatih yang disebabkan oleh teknik atau strategi yang digunakan guru belum optimal, 3) kondisi siswa kurang fit yang disebabkan kurang berolahraga, 4) kurangnya tagihan guru yang memacu siswa untuk terus berlatih, khususnya berlatih lompat jauh.

Zig-zag run adalah salah satu benuk latihan yang bertujuan untuk meningkatkan keterampilan dan kelincahan tubuh yang menitik beratkan pada kecepatan seseorang untuk mengubah arah pada saat berlari. Tujuan latihan lari zig-zag adalah untuk menguasai keterampilan lari, menghindar dari berbagai halangan baik orang maupun benda yang ada di sekeliling (Saputra, 2002: 21).Kelebihanzig-zagrun, yaitu: Kemungkinan cidera lebih kecil karena sudut ketajaman berbelok arah lebih kecil (45 dan 90 derajat), banyak membutuhkan koordinasi gerak tubuh, sehingga mempermudah dalam tes kemampuan lompat jauh.

Circuit training merupakan metode latihan dengan mengorganisasikan stasiun-stasiun dalam lingkaran. Latihan sirkuit merupakan bentuk latihan yang terdiri atas rangkaian latihan berurutan, dirancang untuk mengembangkan kebugaran fisik dan keterampilan yang berhubungan dengan oleharaga tertentu.

Lompat jauh merupakan salah satu nomor lompat dalam cabang olahraga atletik.  Lompat jauh adalah keterampilan gerak berpindah dari satu tempat ketempat lainnya  dengan satu tolakan kedepan sejauh mungkin.Untuk mendapatkan hasil yang maksimal salah satunya dipengaruhi awalan berupa lari cepat (sprint) dan tolakan kaki yang kuat (Saputra,2001: 47).

Dari uraian di atas penulis tertarik dan ingin melakukan penelitian dengan judul “pengaruh latihan  circuit tranningzig – zag  run terhadap  kemampuan lompat jauh gaya jongkok siswa kelas XI SMA Negeri 1 So’a”.

Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah“apakah ada pengaruh latihan circuit tranning zig-zag run terhadap  kemampuan lompat jauh gaya jongkok siswa kelas XI SMA Negeri 1 So’a. Tujuan penelitian  ini adalah untuk mengetahui pengaruh latihan circuit tranningzig – zag run terhadap  kemampuan lompat jauh gaya jongkok siswa kelas XI SMA Negeri 1 So’a.

 

KAJIAN LITERATUR

Nomor-nomor lompat dalam atletik adalah lompat jauh, lompat jangkit, lompat tinggi danlompat galah.  Nomor lompat jauh dapat digolongkan ke dalam nomor lompat cabang olahraga atletik.Tujuan nomor lompat adalah memindahkan jarak horizontal titik berat badan pelompat sejauh mungkin (lompat jauh, lompat jangkit) dan memindahkan jarak vertikal titik berat badan setinggi mungkin (lompat tinggi, lompat galah).

Lompat jauh merupakan salah satu nomor lompat dalam cabang olahraga atletik.  Lompat jauh adalah keterampilan gerak berpindah dari satu tempat ketempat lainnya  dengan satu tolakan kedepan sejauh mungkin untuk mendapatkan hasil yang maksimal (Saputra, 2001: 47).

Faktor-faktor yang sangat menentukan untuk mencapai prestasi lompat jauh adalah awalan, tumpuan, lompatan, saat melayang, dan pendaratan.

 

Tahap awalan

Tahap  awalan merupakan tahap pertama dari serangkaian gerakan dalam cabang lompat jauh. Tahap ini merupakan dasar yang sangat mempengaruhi  hasil lompatan  selain tiga tahapan berikutnya. Oleh karenanya, harus dikuasai teknik awalan yang baik  dan benar, efektif dan efisien sehingga akan tercapai secara maksimal pemusatan kecepatan untuk menghasilkan lompatan sejauh mungkin. Dalam fase awalan (approach), pelompat melakukan akselerasi dengan  kecepatan maksimal yang dapat di kontrol (Sidik, 2010:65).

.Gambar 2.1 Gerakan Melayang Gaya Jongkok(Sidik, 2010:67)

 

Tahap menolak

Tumpuan merupakan perubahan gerak datar ke gerak tegak atau ke atas yang dilakukan secara cepat. Tumpuan dilakukan dengan cara yaitu, sebelumnya pelompat sudah mempersiapkan diri untuk melakukan tolakan sekuat-kuatnya pada langkah terakhir, sehingga seluruh tubuh terangkat ke atas melayang di udara. Tolakan dilakukan dengan menolakkan salah satu kaki untuk menumpu tanpa langkah melebihi papan tumpu untuk mendapatkan tolakan ke depan atas yang besar.

Menurut  Jerver (2005: 26) maksud dari take off adalah merubah gerakan lari menjadi suatu lompatan, dengan melakukan lompatan tegak lurus, sambil mempertahankan kecepatan horisontal semaksimal mungkin. Lompatan dilakukan dengan  mencondongkan badan ke depan membuat sudut lebih kurang 45° dan sambil mempertahankan kecepatan saat badan dalam posisi horisontal. Tahap menolak merupakan tahap ke dua dari serangkaian gerakan dalam cabang lompat jauh.

Gambar 2.2 Gerakan Tolakan Lompat Jauh(Sidik, 2010:66)

  • Tahap Melayang di udara

Tahap melayang di udara adalah tahap ketiga dari rangkaian lompat jauh, pada tahap ini pelompat mengunakan teknik gaya jongkok karena teknik ini sangat cocok  bagi para pemula (Sidik, 2008:67). Karakteristik teknik dalam gaya jongok yaitu:

  • Dalam posisi menolak (take off) tungkai bebas di pertahankan.
  • Badan tetap tegak ke atas dan vertikal.
  • Tungkai tolakan mengikuti selama waktu melayang.
  • Tungkai tumpuan dibengkokkan dan ditarik ke depan dan ke atas mendekati akhir gerak melayang.
  • Baik tungkai bebas maupun tungkai tumpu diluruskan ke depan untuk mendarat.

Gambar 2.3 Gerakan Melayang Gaya Jongkok(Sidik, 2010:67)

Tahap pendaratan (landing)

Tahap pendaratan adalah tahap terakhir dari serangkaian gerakan dalam lompat jauh, tujuan melakukan latihan pendaratan (landing). Menurut Jarver (2008: 31) bahwa mendapatkan suatu posisi dengan kedua kaki menyentuh pasir sejauh mungkin di depan pusat gaya berat tubuh pelompat serta mencegah (jangan sampai) tubuh pelompat jatuh ke belakang”. Beberapa hal yang harus  diperhatikan dalam pendaratan.

Gerakan Mendarat Lompat Jauh(Muhajir, 2007:176)

 Menurut Saputra (2001:39), lari (sprint) adalah suatu kemampuan yang ditandai proses memindahkan posisi tubuhnya dari satu tempat ke tempat lainya secara cepat, melebihi gerak dasar pada keterampilan lari santai (joging).

Menurut  Muhajir (2007: 57) yang sering digunakan dalam cabang olahraga atletik lompat jauh terbagi atas tiga macam, yaitu: 1) gaya jongkok: ketika melayang di udara bersikap jongkok, 2) gaya lenting: ketika berada di udara badan di lentingkan, 3) gaya berjalan di udara. Ketika berada di udara kaki bergerak seolah-olah berjalan di udara.

 

Urutan Gerakan Lompat Jauh Gaya Jongkok(Riyadi, 1985: 97).

 

Unsur-unsur  pokok lompat jauh adalah:

  • Awalan (ancang-ancang),

Awalan (ancang-ancang)  berguna untuk mendapat kecepatan pada  waktu melompat. Awalan (ancang-ancang) harus dilakukan dengan  secepat-cepatnya serta tidak mengubah langkah pada saat akan  melompat. Jarak awalan biasanya 30 meter sampai 50 meter. Awalan disebut dengan kecepatan horizontal, yang sangat berguna untuk membantuk kekuatan pada waktu melakukan tolakan ke atas depan. Supayadapat menghasilkan daya tolakan yang besar maka langkah lari awalan harus dilakukan dengan mantap serta menghentak-hentak (Syarifuddin, 1992 : 90). Untuk lebih jelas dapat dilihat pada gambar berikut.

Gambar  2.6 Gambar sikap awal (Ancang – ancang )Gerakan Lompat jauh

 

  • Tolakan,

Tolakan yaitu menolak sekuat-kuatnya dengan kaki yang terkuat ke  atas (tinggi dan kedepan). Untuk lebih jelasnya lihat gambar 2.7 berikut.

Gambar 2.7 Cara melakukan gerakan tumpuan

(take off ) (Carr, 2000: 46)

  • Melayang,

Melayang dalam hal ini sikap badan di udara badan harus diusahakan melayang selama mungkin serta dalam keadaan seimbang.

 Gambar 2.8  Cara melakukan gerakan melayang(Carr, 2000:  46)

  • Mendarat,

Mendarat dalam hal ini sikap badan si pelompat waktu mendarat harus mengusahakan jatuh/mendarat dengan sebaik-baiknya. Jangan sampai badan jatuh atau dengan tangan kebelakang, karena dapat merugikan . Sikap badan pada waktu mendarat yang baik adalah jatuh dengan kedua kaki dan tangan kedepan  (Persatuan Atletik Seluruh  Indonesia,. 1996: 31).

Sircuit Tranning

Menurut Sarwono (2007: 111), latihan sirkuit merupakan bentuk latihan yang terdiri atas rangkaian latihan berurutan, dirancang untuk mengembangkan kebugaran fisik dan ketrampilan yang berhubungan dengan oleharaga tertentu. Sajoto (1995:83) menyatakan bahwa latihan sirkuit adalah program latihan terdiri dari beberapa stasiun dan di setiap stasiun seorang atlet melakukan jenis latihan yang telah ditentukan. Satu sirkuit latihan dikatakan selesai bila seorang atlet telah menyelesaikan latihan di semua stasiun sesuai dengan dosis yang telah ditentukan. Bompa (1994: 101) circuit training merupakan metode latihan dengan mengorganisasikan stasiun-stasiun dalam lingkaran.

Dari beberapa pendapat di atas disimpulkan bahwa latihan sirkuit (circuit training) adalah program latihan yang terdiri dari beberapa pos/stasiun, yang disusun untuk satu putaran latihan dimana tiap pos/stasiun mempunyai gerakan/jenis latihan sendiri.

Adapun keunggulan dari latihan circuit tranning  adalah (1)dapat dilakukan di area yang tebatas (bisa menyesuaikan lahan yang ada), (2) tidak memerlukan alat  gym yang mahal (tergantung jenis latihan/program latihannya), (3) lebih efisien waktu (4) pemain bisa melakukan secara bersamaan (tiap pos bisa langsung diisi oleh atlet/pemain), (5) melatih semua anggota tubuh, (6) Ketahanan daya tahan tubuh dan komponen fisik lain meningkat serta kemampuan adaptasi meningkat,  (7) bisa menyesuaikan program altihan yang ingin dicapai, (8) melatih kekuatan jantung dan paru.Adapun kelemahan dari latihancircuit tranning adalah(1)kurang cocok untuk membangun massal otot.

Berdasarkan deskripsi teori dan kerangka berpikir yang telah dipaparkan di atas, maka diajukan hipotesis sebagai berikut “latihan circuit tranningzig-zag run berpengaruh terhadap kemampuan lompatan jauh gaya jongkok pada siswa kelas XI SMAN So’a”.

 

METODE PENELITIAN

              Penelitian ini dilaksanakan di SMAN Soa, selama 1 bulan yakni sejak tanggal 16 Mei sampai 16 Juni 2018. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian eksperimen dengan rancangan (desain) the static-group pretes-postest design sebagai berikut.

Populasi penelitian dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas XI SMAN 1 Soa. Sampel dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas XI SMAN 1 Soa yang berjumlah 40 orang dan terdiri atas  dua kelas yang setara masing –masing 20 orang untuk kelompok eksperimen dan 20 orang untuk kelompok kontrol.

Teknik sampling yang digunakan untuk menentukan kelompok eksperimen dan kelompok kontrol, adalah  random sampling terhadap kelas, dengan menggunakan teknik undian. Besarnya anggota sampel penelitian adalah sesuai dengan banyaknya siswa yang ada pada kedua kelas tersebut secara utuh (intac group).

Variabel bebas adalah variabel yang menjadi sebab perubahan timbulnya variabel terikat (Sugiyono, 2002: 21). Dalam penelitian iniyang menjadi variabel bebas, yaitu latihan lari zig-zag.

Variabel  terikat adalah variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat karena adanya variabel bebas (Sugiyono, 2002:21). Variabel terikat dalam penelitian ini adalah lompat jauh gaya jongkok.

Data  yang dikumpulkan data lompat jauh pada penelitian ini menggunakan teknik tes  dan pengukuran. Kirkendall (dalam Wahjoedi, 200: 17)  menyatakan tes adalah sebuah instrumen untuk memperoleh informasi tentang individu atau subyek tertentu. Sedangkan pengukuran adalah  suatu proses untuk memperoleh data kuantitatif dari suatu obyek tertentu dengan menggunakan alat ukur tes yang baku (Wahjoedi, 2000: 18).

Tes  yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes kemampuan lompat jauh gaya jongkok.  Untuk mengukur  tes lari sprint menggunakan waktu sedangkan untuk mengukur kemampuan lompat jauh di ukur dengan meter.

Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan tes kemampuan lompat jauh. Untuk mengukur kemampuan lompat jauh, instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes kemampuan lompat jauh gaya jongkok tanpa awalan yakni jauhnya lompatan.

Tes  lompat jauh gaya jongkok

Tujuan                       :  mengukur kemampuan lompat jauh gaya jongkok

Alat yang digunakan   : Daftar nama siswa dan blangko tes awal.Program latihan,2 set barbel dan bar,2 buah stop watch, 1 ruangan latihan (ketrampilan). Alat tulis menulis.Peluit.

Petunjuk pelaksanaan

  • Tes Awal

Tes lompat jauh gaya jongkok. Tes lompat jauh gaya jongkok digunakan digunakan untuk mengukur hasil prestasi awal lompat jauh sebelum diberi latihan. Pada tes ini semua peserta yang berjumlah 40 siswa diberi kesempatan sebanyak 3 kali lompatan, dan dari ketiga lompatan tersebut diambil hasil yang terjauh. Pendapat Fox (Sajoto, 1995:70), bahwa “apakah memakai frekuensi 3 atau 5 kali perminggu, tetapi yang penting lama latihan adalah 4 sampai 8 minggu”. Kegiatan latihan dalam penelitian ini meliputi:

 Pemanasan

Setiap akan melakukan latihan harus diawali dengan pemanasan yang cukup. Tujuan dari pemanasan adalah untuk mengurangi cedera otot tendo, ligamen dan jaringan otot yang lain. Pemanasan mempunyai dua bagian penting: (1) menarik dan memanaskan otot-otot punggung, tangan dan kaki. (2) menyiapkan denyut jantung, sehingga tubuh dapat bergerak berangsur-angsur untuk mendapatkan denyut jantung ang lebih tinggi (Kathleen dan Jonathan, 1992: 191).

Pemanasan dalam penelitian ini meliputi lari keliling lapangan 2 kali dilanjutkan peregangan otot yang diawali dari anggota tubuh bagian atas dan diakhiri dengan peregangan otot anggota tubuh bagian bawah.

Latihan inti

Bagian inti ditujukan kepada masalah yang akan diteliti dan merupakan dua macam latihan sebagai masalah yang dibedakan. Latihan untuk kelompok eksperimen adalah circuit ttanning zig-zag run dan  latihan untuk kelompok kontrol adalah latihan naik turun tangga (konvensional). Selanjutnya dalam latihan ini dipimpin oleh seorang guru (pelatih) yang mempunyai tugas memberikan penjelasan tehnik, contoh, koreksi dan evaluasi. Dalam pelaksanaan latihan selain diawasi oleh penulis juga dibantu oleh satu tenaga pembantu yang mengawasi jalannya latihan agar kesungguhan latihan jumlah ulangan atau repetisi maupun istirahat antara set dapat dilaksanakan sesuai dengan program yang sudah direncanakan. Dalam melakukan latihan antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol dipisahkan, hal ini dimaksudkan untuk menghindari satu kelompok terpengaruh oleh gerakankelompok yang lain. Beban latihan, menggunakan penambahan beban latihan meningkat atau linier. Sedangkan repetisi, set dan 36 istirahat antar set adalah 10 repetisi, 3 set, istirahat antara set 2 menit dan intensitas 50% (program latihan terlampir). Dalam melakukan latihan waktu pelaksanaan repetisi diperhatikan agar sesuai dengan program. Adapun waktu latihan adalah 90 menit untuk setiapkali pertemuan, kecuali pada saat tes awal 120 menit. Dengan alokasi waktu sebagai berikut: persiapan dan pemanasan 35 menit, latihan inti 65 menit, pendinginan dan evaluasi 10 menit.

Tes akhir adalah tes lompat jauh gaya jongkok. Tujuan tes akhir adalah untuk mengetahui hasil lompat jauh gaya jongkok yang dicapai setelah subyek melakukan circuit tranningzig- zag run pada kelas eksperimen  dan tes naik turun tangga (konvensional) pada kelas kontrol.

Sebelum dilakukan pengujian hipotesis, maka perlu dilakukan uji prasyarat. Pengujian data hasil pengukuran yang berhubungan dengan hasil penelitian bertujuan untuk membantu analisis agar menjadi lebih baik. Untuk itu dalam penelitian ini akan diuji normalitas sebaran dan uji hipotesis.

Uji normalitas dilakukan untuk menguji normal tidaknya sebaran data yang dianalisis. Untuk mengetahui normalitas dari kemampuan lompat jauh gaya jongkok maka dilakukan perhitungan  Gane score dinormalisasi (Gsn) dari masing-masing kelompok, hipotesis statistik dapat dirumuskan sebagai berikut.

H0:f0 = fe                        data normal

H1:f0 ≠ fe                       data tidak normal

Uji normalitas dapat dianalisis dengan menggunakan program SPSS 16.00. Uji normalitas sebaran data dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan statistik Kolmogrov-Smirnov.

Uji homogenitas varians  anatar kelompok digunakan untuk mengukur apakah  sebuah kelompok  mempunyai varians yang sama diantara anggota kelompok tersebut. Uji homogenitas varians juga dilakukan untuk menyajikan bahwa perbedaan yang terjadi pada uji hipotesis benar- benar terjadi akibat perbedaan dalam kelompok. Uji homogenitas varians untuk kedua kelompok digunakan uji Fisher  (F)  dengan menggunakan rumus sebagai berikut.

Ho       = Varians  Homogen  = 0,05). H1      = Varians tidak homogen

Rumus uji F  =

 

Harga Fhitung dibandingkan dengan tabel F dengan taraf signifikansi 5% (α = 0,05). Jika harga F hitung  > F tabel  ini berarti  Ho di tolak dan H1  di terima, jadi varians tidak homogen. Jika F Hitung < f tabel ini berarti Ho di terima dan H1 di tolak jadi varians homogen (koyan 2012). Dalam penelitian ini  uji dilakukan dengan bantuan program SPSS 16.0 for window.

 

 Uji  Hipotesis (uji t-tes).

Untuk menguji hipotesis penelitian (eksperimen) digunakan uji t dengan rumus sebagai berikut.

Rumus:

 

Keterangan rumus:

: rata-rata sampel 1

: rata-rata sampel 2

: varians sampel 1

: varians sampel 2

n1 :jumlah sampel kelompok eksperimen

n2: jumlah sampel kolompok kontrol

 

(Koyan, 2012: 33)

 

Uji hipotesis dalam penelitian ini, peneliti menggunakan bantuan program SPSS 16.

hipotesis penelitian diubah menjadi hipotes statistik sebagai berikut.

H0: µ1 = µ2  Latihan circuit tranning zig –zig  run tidak berpengaruh terhadap kemampuan lompat jauh gaya jongkok siswa kelas XI SMA Negeri 1 So’a

H1: µ1 ≠ µ2  Latihan circuit tranning zig –zig  run berpengaruh terhadap kemampuan lompat jauh gaya jongkok siswa kelas XI SMA Negeri 1 So’a.

 

HASIL PENELITIAN DAN PEMAHASAN

Hasil Penelitian

          Penelitian ini  adalah  bertujuan untuk mengetahui pengaruh latihan sirkuit traning zig-zag run terhadap kemampuan lompat jauh  gaya jongkok pada siswa kelas X1SMAN 1 Soa. Penelitian ini adalah kuantitatif yang  terdiri dari kelas eksperimen dan kelas kontrol yang menggunakan desain The Static-Group Pretest Posttest Design yang dimaksudkan untuk mengetahui ada tidaknya akibat dari treatment yang dikenakan pada sampel penelitian. Selanjutnya sampel dibagi menjadi menjadi dua kelompok yaitu kelompok eksperimen yang dikenakan treatment  dan kelompok kontrol yang tidak diberikan treatment.

Instrumen tes dan pengukuran kemampuan lompat jauh gaya jongkok dilakukan sebanyak tiga kali pengulangan. Jarak lompat jah yang paling jauh akan diambil sebagai data hasil tes penelitian. Hasil tes (prettest dan posttes)  tersebut di rata-ratakan  menjadi  hasil lompat jauh gaya jongkok  kelompok tersebut. Hasil  pengukuran lompat jauh dinyatakan dalam meter. Berikut disajikan hasil tes kemampuan lompat jauh gaya jongkok kelompok eksperimen.

 

Tabel 01. Deskripsi pret-testposttest kemampuan lompat jauh gaya Jongkok Kelompok Eksperimen

 

NO Kode  Siswa Hasil tes kemampuan lompat jauh  
gaya jongkok  
Pretest Postes GS GSn
1 KS_1 1,3 2,5 1,2 0,71
2 KS-2 1,0 2,6 1,6 0,80
3 KS_3 1,3 2,4 1,1 0,65
4 KS-4 1,2 2,5 1,3 0,72
5 KS_5 1,3 2,5 1,2 0,71
6 KS-6 1,5 2,0 0,5 0,33
7 KS_7 1,4 2,5 1,1 0,69
8 KS-8 1,5 2,7 1,2 0,80
9 KS_9 1,2 2,2 1,0 0,56
10 KS-10 1,1 2,0 0,9 0,47
11 KS_11 1,2 2,2 1,0 0,56
12 KS-12 1,5 2,5 1,0 0,67
13 KS_13 1,1 2,3 1,2 0,63
14 KS-14 1,3 2,3 1,0 0,59
15 KS_15 1,4 2,5 1,1 0,69
16 KS-16 1,5 2,5 1,0 0,67
17 KS_17 1,3 2,2 0,9 0,53
18 KS-18 1,3 2,3 1,0 0,59
19 KS_19 1,7 2,6 0,9 0,69
20 KS_20 1,4 2,5 1,1 0,69
Jumah 26,5 47,8 21,3 12,0
Rata-rata 1,325 2,390 1,065 0,636
Nilai Maksimum 1,7 2,7 1,6 0,8
Minimum 1,0 2,0 0,5 0,3

 

Langkah-langkahpengumpulan data dalampenelitianiniadalahsemuapesertatesmelakukantes, yakni tes awal dan tes akhir. Tes awal (pret-test) diberikan kepada siswa sebelum diberi tindakan atau treatmen  yang bertujuan untukmengukurkemampuanawaldanakhirsampel. Tes akhir (posttest) diberikan setelah siswa di berikan tindakan latihan zig-zag run selama 12 kali pertemuan.Untuk mengukur kemampuan lompat jauh gaya jongkok dilakukakn 3 kali pengulangan, dimana jarak terjauh akan diambil menjadi hasil tes.

Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes kemampuan lompat jauh tanpa awalan. Hasil uji statistik prettest kelompok eksperimen.

Berdasarkan tabel di atas diketahui bahwa rata – rata skor prettest kemampuan lompat jauuh kelompok eksperimen diperoleh nilai mean=1,3 dengan nilai tertinggi (maksimum) mencapai 1,7 dan nilai terendah  adalah 1,0, dengan modus 1,3 dan median (nilai tengah) adalah 1,3.   Dari data tersebut maka dibuat tabel distribusi frekuensi sebagai berikut.

 

  Tabel 02. Distribusi Frekuensi
   
Interval x (nilai tengah) f absolute F kumulatif Fx Frekuensi Relatif (%)
1,0-1,14 1,07 3 3 4,07 15%
1,15-1,29 1,22 3 6 4,22 15%
1,30-1,44 1,37 9 15 10,37 45%
1,45-1,59 1,52 4 19 5,52 20%
1,60-1,74 1,67 1 20 2,67 5%
Total   ∑f= 20   ∑fx= 26,9  

 

 

Rata – rata skor kemampuan lompat jauh gaya gaya jongkok   kelompok  eksperimen  adalah  1,3. Dari data tersebut di atas maka digambarkan grafik histogram kemampuan lompat jauh gaya gaya jongkok kelompok  eksperimen  sebagai berikut.

Berdasarkan diagram batang di atas dapat diketahui siswa yang memperoleh skor kemampuan lompat jauh gaya jongkok dengan jarak antara 1,0-1,14 sebanyak 3 orang, siswa yang  memperoleh skor kemampuan lompat jauh antara 1,15-1,29  sebanyak 3 orang, dan siswa yang mempeoleh skor 1,30-1,44 sebanyak 9 orang, siswa yang  memperoleh skor antara  1,45-1,59  sebanyak 4 orang, dan siswa yang memperoleh skor kemampuan lompat jauh antara 1,60-1,74 sebanyak 1 orang.

Untuk  tinggi rendahnya kemampuan lompat jauh gaya jongkok maka skor yang diperolehsiswa dikonversikan dengan kriteria pengkategorian kemampuan lompat jauh gaya jongkok skala lima sebagai berikut.

 

 

 

Tabel 03. Pengkategori kemapuan lompat Jauh gaya jongkok

 

Jumlah Skor Kategori
2,25  ≤  3 Sangat Baik
1,75 ≤  2,25 Baik
1,25 ≤  1,75 Cukup Baik
0,75 ≤ 1,25 Kurang Baik
0 ≤ 0,75 Sangat tidak baik

 

Dari tabel di atasmakadapatdiketahuibahwa rata- rata kemampuan prettest kemampuan lompat jauh gaya jongkok siswa berada pada rentangan 1,25 ≤  1,75. oleh karena itu maka dapat disimpulkan bahwa kemampuan lompat jauh gaya jongkok siswa kelompok eksperimen  berada pada ketegori cukup baik dengannilai rata- rata = 1,3 meter

Berdasarkan tabel di atas diketahui bahwa rata – rata skor Posttest kemampuan lompat jauuh kelompok eksperimen diperoleh nilai mean=2,00 dengan nilai tertinggi (maksimum) mencapai 2,7 meter dan nilai terendah  adalah 2 meter, dengan modus 2,5 dan median (nilai tengah) adalah 2,5. Dari data tersebut maka dibuat tabel distribusi frekuensi sebagai berikut.

 

Tabel 04. Distribusi Frekuensi Post-test Kelompok Eksperimen

 

Interval x (nilai tengah) f absolute F kumulatif Fx Frekuensi Relatif (%)
2,00-2,14 2,07 2 2 4,14 10%
2,15-2,29 2,22 3 5 6,66 15%
2,30-2,44 2,37 4 9 9,48 20%
2,45-2,59 2,52 8 17 20,16 40%
2,60-2,74 2,67 3 20 8,01 15%
Total   ∑f= 20   ∑fx= 48,5 100%

 

Berdasarkan tabel 4.6  maka  rata – rata skor posttest kemampuan lompat jauh gaya gaya jongkok   kelompok  eksperimen  adalah  2,4. Dari data tersebut di atas maka digambarkan grafik histogram kemampuan lompat jauh gaya gaya jongkok   kelompok  eksperimen  sebagai berikut.

 

 

 

 

 Y

  10

      8

       6

       4

       2

      0                                                                         X

            2,07    2,22    2,37     2,52      2,67     

Grafik Histrogram posttest Kelompok Eksperimen

Berdasarkan diagram batang di atas dapat diketahui siswa yang memperoleh skor kemampuan lompat jauh dengan jarak antara 2,00-2,14 sebanyak 2 orang, siswa yang  memperoleh skor kemampuan lompat jauh antara 2,15-2,29,  sebanyak 3 orang, dan siswa yang mempeoleh skor 2,3-2,44 sebanyak 4 orang, siswa yang memperoleh skor antara  2,45-2,59  sebanyak  8 orang dan  siswa yang memperoleh skor kemampuan lompat jauh antara 2,60 -2,74 sebanyak 3 orang.

Untuk tinggi rendahnya kemampuan lompat jauh gaya jongkok  maka skor yang diperoleh siswa dikonversikan dengan kriteria pengkategorian kemampuan lompat jauh gaya jongkok skala lima sebagai berikut.

 

Tabel 05. Pengkategorian kemapuan Lompat jauh gaya jongkok
Jumlah Skor Kategori
2,25  ≤  3,00 Sangat Baik
1,75 ≤  2,25 Baik
1,25 ≤  1,75 Cukup Baik
0,75 ≤ 1,25 Kurang Baik
0 ≤ 0,75 Sangat tidak baik

 

Dari tabel di atasmakadapatdiketahuibahwa rata- rata kemampuan posttest kemampuan lompat jauh gaya jongkok siswa berada pada rentangan 2,25  ≤  3,00. Oleh karena itu maka dapat disimpulkan bahwa kemampuan lompat jauh gaya jongkok siswa kelompok eksperimen  berada pada ketegori sangat baik dengannilai rata- rata = 2,4 meter.

Deskripsi Data Kelompok kontrol

Instrumentes dan pengukuran kemampuan lompat jauh gaya jongkok dilakukan sebanyak tiga kali pengulangan. Jarak lompat jah yang paling jauh akan diambil sebagai data hasil tes penelitian. Hasil tes (prettest dan posttes)  tersebut di rata-ratakan  menjadi  hasil lompat jauh gaya jongkok  kelompok tersebut. Berikut disajikan  hasil tes kemampuan lompat jauh gaya jongkok kelompok kontrol.

Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes kemampuan lompat jauh tanpa awalan. Hasil uji statistik posttest kelompok Kontrol.

Berdasarkan tabel di atas diketahui bahwa rata – rata skor prettest kemampuan lompat jauuh kelompok kontroldiperoleh nilai mean=48,4 dengan nilai tertinggi (maksimum) mencapai  63 dan nilai terendah  adalah 40,dengan modus 50 dan median (nilai tengah) adalah  50,0.

 

 

Tabel 06. Distribusi Frekuensi Post-test Kelompok kontrol

 

Interval x (nilai tengah) f absolute F kumulatif Fx Frekuensi Relatif (%)
1,50-1,60 1,55 1 1 1,55 5%
1,61-1,71 1,66 1 2 1,66 5%
1,72-1,82 `1,77 6 8 10,62 30%
1,83-1,93 1,88 0 8 0 0%
1,94-2,04 1,99 12 20 23,88 60%
Total   ∑f= 20   ∑fx=34,7 100%

 

Berdasarkan tabel 4.1 maka  rata – rata skor posttest kemampuan lompat jauh gaya gaya jongkok   kelompok  kontrol  adalah  1,7. Dari data tersebut di atas maka digambarkan grafik histogram kemampuan lompat jauh gaya jongkok   kelompok  eksperimen  sebagai berikut.

         Y

10

8

6

4

2

   0                                                            x           

            1,55    1,66   1,77    1,88      1,99

Grafik Histrogram Posttest Kelompok Kontrol

Berdasarkan diagram batang di atas dapat diketahui siswa yang memperoleh skor kemampuan lompat jauh dengan jarak antara 1,50-1,60 sebanyak 1 orang, siswa yang  memperoleh skor kemampuan lompat jauh antara 1,61-1,71,  sebanyak  1 orang, dan siswa yang memperoleh skor 1,72-1,82 sebanyak 6 orang, tidak ada siswa yang  memperoleh skor antara  1,83-1,93 dan siswa yang memperoleh skor kemampuan lompat jauh antara 1,94-2,04 sebanyak 12 orang.

Untuk tinggi rendahnya kemampuan lompat jauh gaya jongkok maka skor yang diperoleh siswa dikonversikan dengan kriteria pengkategorian kemampuan lompat jauh gaya jongkok skala lima sebagai berikut.

Tabel 07. Pengkategorian kemapuanlompat jauh gaya jongkok

Jumlah Skor Kategori
2,25  ≤  3,00 Sangat Baik
1,75 ≤  2,25 Baik
1,25 ≤  1,75 Cukup Baik
0,75 ≤ 1,25 Kurang Baik
0 ≤ 0,75 Sangat tidak baik

Rata-rata kemampuan posttest kemampuan lompat jauh gaya jongkok siswa berada pada rentangan 1,25 ≤  1,75. Oleh karena itu maka dapat disimpulkan bahwa kemampuan lompat jauh gaya jongkoksiswa kelompok kontrol  berada pada ketegori cukup baikdengannilai rata- rata = 1,7 meter.

Uji prasyarat analisis data

Uji normalitas dilakukan untuk menguji normal tidaknya sebaran data yang dianalisis. Untuk mengetahui normalitas dari kemampuan lompat jauh gaya jongkok maka dilakukan perhitungan  Gane score dinormalisasi (Gsn) dari masing-masing kelompok, hipotesis statistik dapat dirumuskan sebagai berikut.

H0:f0 = fe                                       data normal

H1:f0 ≠ fe                                       data tidak normal

Uji normalitas dapat dianalisis dengan menggunakan program SPSS 16.00. Uji normalitas sebaran data dalam penelitian ini dilakukan dengan

 

Tabel 08. Hasil Uji Normalitas Sebaran Data
  A2 Kolmogorov-Smirnova Shapiro-Wilk
    Statistic df Sig. Statistic df Sig.
Eksperimen 1 .165 20 .156 .916 20 .085
kontrol .111 20 .200* .963 20 .607
a. Lilliefors Significance Correction        

 

 

Berdasarkan  hasil uji  normalitas di atas diketahui bahwa nilai  signifikansi kelompok eksperimen sebesar 0,156>0,05 dan signifikansi kelompok kontrol sebesar 0,200 >0,05. Oleh karena nilai signifikansi kedua kelompok di atas lebih besar dari 0,05 pada taraf signifikansi 5% maka kesimpulannya data berdistribusi normal.

 

Uji Homogenitas

Uji homogenitas dilakukan untuk mengetahui kesamaan sampel yaitu kelompok eksperimen dan kelompok kontrol harus mempunyai kemampuan awal yang sama sehingga dapat diketahui pengaruh setelah diberiperlakuan yang berbeda pada kedua kelompok tersebut. Berikut ini adalah data hasil uji homogenitas analisis SPSS 16.00 .

 

Tabel 09. Test of Homogeneity of Variance
    Levene Statistic df1 df2 Sig.
Eksperimen Based on Mean .363 1 38 .550
Based on Median .539 1 38 .467
Based on Median and with adjusted df .539 1 37.819 .467
Based on trimmed mean .436 1 38 .513

 

Berdasarkan perhitungan dengan SPSS 16 for windows homogeneity dengan nilai based on mean signifikansi sebesar = 0,550>0.05, sehingga varian kelompok eksperimen dan kelompok kontrol  adalah homogen.

Uji hipotesis

Pengujian hipotesis menggunakan uji-t dengan menggunakan uji manual, yaitu dengan membandingkan rata-rata antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Apabilanilai t-hitung lebih kecil dari pada  t-tabel, maka Ha ditolak, jika t-hitung lebih besar dari pada t-tabel maka Ha diterima.

 

 

 

 

 

 

 

t = 6,12

Jadi t hitung = 6,12

Berdasarkan  hasil analisis uji t di atas di peroleh di atas di peroleh nilai  t-hitung sebesar 6,12dan t tabel untuk dk =20 +20 – 2 = 38 dengan taraf signifikan α =0,05  (uji du pihak)  adalah 1,68. Karena t tebel 1,68 lebih kecil dari  t-hitung 6,12 maka Ho di tolak  dan H1 di terima. Kesimpulannya  latihan circcuit  trannigzig-zag run  berpengaruh signifikan  terhadap kemampuan lompat jauh gaya jongkok siswa kelas XI  SMAN 1 Soa.

Pembahasan

Lompat jauh merupakan salah satu nomor lompat dalam cabang olahraga atletik.  Lompat jauh adalah keterampilan gerak berpindah dari satu tempat ketempat lainnya  dengan satu tolakan kedepan sejauh mungkin untuk mendapatkan hasil yang maksimal (Saputra, 2001: 47).

Tujuan latihan lari zig-zag adalah untuk menguasai keterampilan lari, menghindar dari berbagai halangan baik orang maupun benda yang ada di sekeliling (Saputra, 2002: 21).

Tes dan pengukuran kemampuan lompat jauh gaya jongkok dilakukan dalamtiga kali pengulangan. Pada penelitian ini menggunakan bentuk tes kecepatan tendangan yang dimodifikasi sesuai kebutuhan penelitian dari model tes dan pengukuran kemampuan lompat jauh gaya jongkok.

Berdasarkan  analisis niai rata – rata  kemampuan lompat jauh gaya jongkok diketahui bahwa rata – rata  kemampuan lompat jauh gaya jongkok pada kelompok  eksperimen  sebesar   meter dan sedangkan rata – rata kemampuan lompat jauh gaya jongkok pada kelompok kontrol  0,330 meter.

Dari  hasil analisis rata – rata antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol  diatas dapat disimpulkan bahwa  latihan circcuit  trannigzig-zag run memberi pengaruh yang positif  terhadap kemampuan lompat jauh siswa SMAN 1 Soa.

Hasil analisis diperoleh nilai uji t antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol diperoleh nilai t-hitung = 24,7 dengan taraf 5%  lebih besar dari t- tabel sebesar 1,68. Dengan demikian thitung > t tabel (t-hitung=6,12 > t-tebel=1,68).  Jadi Ho di tolak dan H1 diterima. Dari rata – rata hitung diketahui bahwa kelompok eksperimen lebih besar dari kelompok kontrol ( 1 =0,636 > ( 2 = 0,330). Ini berarti ada perbedaan yang signifikan antara kelompok kontrol dan eksperimen.  Berdasarkan kriterian pengujian tersebut  maka latihan circcuit  trannigzig-zag run dapat mempengaruhi kemampuan lompat jauh gaya jongkok pada siswa kelas XI SMAN 1 Soa.

Merujuk pada hasil perhitiungan dan analisis data penelitian, terlihat bahwa ad pengaruh  latihan sirkuit tranning zig-zag run terhadap kemampuan lompat jongkok siswa kelas XI SMAN 1 Soa.  Hasil penelitian  di atas didukung  sejalan dengan penelitian  yang dilakukan oleh Juwariyah, Siti, dengan judul perbedaan pengaruh antara latihan sircuit tranning terhadap kemampuan lari 100 meter  siswa putra kelas X SMA Negeri  Gunung Pati 03 Kecamatan Gunungpati Kota Semarang Tahun Pelajaran 2004/2005. Hasil penelitiannnya menunjukkan bahwa t-hitung 2,518 > t-tabel 2,145 pada taraf signifikansi 5%, berarti terdapat perbedaan pengaruh yang signifikan antara latihan lari 50 meter terhadap kemampuan lompat jauh gaya jongkok siswa putra kelas XI SMA Negeri Gunung Pati 03, Kecamatan Gunung Pati Kota Semarang Tahun Pelajaran 2004/2005.

SIMPULAN DAN SARAN

Simpulan

Berdasarkan hasil analisis data penelitian dapat disimpulkan bahwa, terdapat pengaruh yang  signifikan latihan sirkuit tranning zig-zag run memberi pengaruh yang positif  terhadap kemampuan lompat jauh gaya jongkok siswa kelas XI SMAN 1 Soa. Hal ini  ditunjukan oleh hasil penelitian sebagai berikut.

  • Hasil analisis diperoleh nilai uji t antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol diperoleh nilai t-hitung = 6,12 dengan taraf 5% lebih besar dari t- tabel sebesar 1,68. Dengan demikian thitung > t tabel (t-hitung=6,12 > t-tebel=1,68).  Jadi Ho di tolak dan H1 diterima.
  • Rata – rata hitung diketahui bahwa kelompok eksperimen lebih besar dari kelompok kontrol ( 1 =0,636 > ( 2 =0,330). Ini berarti ada perbedaan yng signifikan antara kelompok kontrol dan eksperimen. Berdasarkan kriterian pengujian tersebut  maka latihan circcuit  trannigzig-zag run dapat mempengaruhi kemampuan lompat jauh gaya jongkok pada siswa kelas XI SMAN 1 Soa.

 

Saran 

Berdasarkan temuan-temuan dalam penelitian, pembahasan dan simpulan di atas maka beberapa saran yang diajukan antara lain sebagai berikut.

  • Bagi guru Penjas

Penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan pengembangan pengajaran lompat jauh gaya jongkok.

  • Bagi pembina olahraga atletik

Penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan informasiyang berarti.

DAFTAR  PUSTAKA

Depdikbud. 2004. Garis-Garis Besar Program Pengajaran Yang Disempurnakan Untuk SLTP.  Jakarta: Balai Pustaka

Jarver, Jess. 2008. Belajar Dan Berlatih Atletik. Bandung: Pionir Jaya

_________. 2009. Belajar dan Berlatih Atletik. Bandung: Pionir Jaya.

Sidik, D. Z. 2010. Mengajar dan Melatih Atletik. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya

 

Sugiyono, 2010.  Statistik Untuk Penelitian. Bandung: Alfabeta.

Sugiyono,2011. Metode Penelitian Pendidikan: Pendekatan Kualitatif, Kuantitatif, Dan R & D. Bandung: Alfabeta

 

_______, 2013. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: ALFABETA.

 

Saputra, M. Yudha. 2001. Dasar-Dasar Keterampilan Ateltik. Jakarta: Depdiknas

Tim Bina Karya Guru. 2004. Pendidikan Jasmani Untuk Sekolah Dasar Kelas 4. Jakarta: Erlangga.

 

 

 

Leave a Reply