PENINGKATAN HASIL BELAJAR TEMATIK SISWA KELAS IV SDI WOGOKABUPATEN NGADA TAHUN PELAJARAN 2017/2018 DENGAN MENGGUNAKAN MODEL PEMBELAJARAN  COOPERATIFSTUDENT TEAMS ACHIEVEMENT DIVISION (STAD)

Orsinsa Atmasinta Lunjur1,  Dek Ngurah Laba Laksana2,  Konstantinus Dua Dhiu3

1)Mahasiswa Program Studi PGSD  2,3) Dosen STKIP Citra Bakti

Program Studi PGSD, STKIP Citra Bakti

1orcinochyun@gmail.com

 

 ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peningkatan hasil belajar pembelajaran tematik siswa Kelas IV SDI Wogo Kabupaten Ngada Tahun Pelajaran 2017/2018 dengan Menggunakan Model Pembelajaran Kooperatif tipe STAD.Penelitian ini menggunakan desain penelitian tindakan kelas yang terdiri atas dua siklus dan setiap siklus terdiri dari empat tahap.Penelitian dilaksanakan di SDI Wogo Kecamatan Golewa Kabupaten Ngada.Subjekpenelitian adalah siswa kelas IV SDI Wogo sedangkan objek dalam penelitiannya terdiri atas dua macam yaitu objek tindakan dan objek dampak. Metode pengumpulan data hasil belajar siswa menggunakan metode tes, dengan instrumen pengumpulan data berupa soal-soal uraian dan metode analisis data menggunakan analisis deskriptif kuantitatif.Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada tindakan siklus I diperoleh hasil belajar tematik siklus I rata-rata 57,5 kategori rendah persentase 57,5%dengan ketuntasan klasikal 31,81%, sedangkan pada siklus II hasil belajar pembelajaran tematik rata-rata 88,59 pada kategori tinggi, persentase 88,59% dengan ketuntasan klasikal 100%. Hal ini menunjukkan bahwa peningkatan presentase hasil belajar pada pembelajaran tematik  pada siklus I ke siklus II sebesar 31,09%. Dari hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwaModel kooperatif tipe STAD dapat meningkatkan hasil belajar tematik pada siswa kelas IVSDI Wogo.

Kata-kata kunci: Hasil Belajar, Tematik, STAD

 

ABSTRAK

This study aims to determine the improvement of thematic learning learning outcomes for Grade IV students of SDI Wogo Ngada Regency 2017/2018 Academic Year by using the STAD Cooperative Learning Model. This study uses a classroom action research design consisting of two cycles and each cycle consists of four stages. The study was conducted at SDI Wogo, Golewa Subdistrict, Ngada Regency. The subject of the research was the fourth grade students of SDI Wogo while the object in his research consisted of two types, namely the object of action and the object of impact.Data collection methods of student learning outcomes using the test method, with data collection instruments in the form of description questions and data analysis methods using quantitative descriptive analysis. The results showed that in the first cycle action was obtained the thematic learning outcomes of the first cycle 57.5 low category percentage 57.5% with classical completeness 31.81%, while in the second cycle the thematic learning outcomes average 88.59 high category, 88.59% percentage with 100% classical completeness. This shows that the increase in the percentage of learning outcomes in thematic learning in cycle I to cycle II is 31.09%. From the results of this study it can be concluded that the STAD type cooperative model can improve thematic learning outcomes in fourth grade students of SDI Wogo.

Key words: Learning Outcomes, Thematic, STAD

PENDAHULUAN

Pendidikan adalah suatu usaha sadar dan terencana untuk menghasilkan insan manusia yang memiliki keseimbangan hidup baik ditinjau dari ranah kognitif dan afektif.Dengan pendidikan, anak bangsa memperoleh pencerahan untuk membangun diri, keluarga, masyarakat dan bangsa kepada nilai-nilai konstruktif agar tercipta sebuah komunitas yang di dalamnya terjalin relasi partnership dalam mengembangkan potensi-potensi diri (We’u, 2016: 41).

Menurut Mulyasa (2015: 135) dalam implementasi kurikulum 2013 diharapkan dapat menyiapkan SDM yang berkualitas sehingga masyarakat dan bangsa indonesia bisa menjawab berbagai masalah dan tantangan yang semakin rumit dan kompleks. Hal ini penting, karena dalam era gelobalisasi, perkembangan ilmu pengetahuan teknologi dan seni berlangsung begitu pesat,dan tingginya manusia karena jarak ruang dan waktu menjadi sangat relatif.

Dalam implementasi kurikulum 2013, pendidikan karakter dapat diintegrasikan dalam seluruh pembelajaran pada setiap bidang studi yang terdapat dalam kurikulum. Materi pembelajaran yang berkaitan dengan norma atau nilai-nilai pada setiap bidang studi perlu dikembangkan, dieksplisitkan, dihubungkan dengan konteks kehidupan sehari-hari. Pendidikan karakter pada tingkat satuan mengarah pada pembentukan budaya sekolah atau madrasah, yaitu nilai-nilai yang melandasi prilaku, tradisi, kebiasaan sehari-hari, serta simbol-simbol yang dipraktikan oleh semua warga sekolah/madrasah, dan masyarakat sekitarnya.

Banyak ditemukan permasalahan yang terjadi di SDI Wogo dalam proses pembelajaran. Proses pembelajaranyang diterapkan oleh guru dalam pembelajaran tematik belum maksimal. Hal ini dapat dilihat dari, (1) model pembelajaran dan metode yang digunakan guru kurang bervariasi sehingga pembelajaran berpusat pada guru, (2) guru jarang menggunakan model-model pembelajaran yang menarik untuk menciptakan suasana belajar yang menyenangkan sehingga siswa tampak pasif, (3) ketika siswa mengerjakan lembar diskusi siswa, hanya didominasi oleh siswa yang pintar, sedangkan siswa yang tingkat berpikirnya rendah jarang mengungkapkan ide atau pendapat, (4) dalam lembar diskusi belum menuntut siswa untuk melakukan pemecahan masalah, hanya menjawab pertanyaan yang jawabanya ada di buku, (5) dalam mengerjakan latihan/evaluasi, siswa kurang dituntut berpikir kritis serta guru belum merancang aspek kognitif, afektif, dan psikomotor, (6) hasil belajar siswa rendah.

Dalam proses pembelajaran tematik siswa cenderung pasif. Hal ini dapat dilihat dari kurangnya partisipasi siswa dalam proses pembelajaran, baik dalam menjawab pertanyaan, memberi tanggapan, maupun mengajukan pertanyaan. Dalam proses pembelajaran dapat dikatakan berhasil apabila hasil evaluasi pada siswa dari ranah kognitifnya minimal telah mencapai 70% dari jumlah siswa peserta KKM tersebut telah mampu menguasai materi pembelajaran yang telah di tentukan oleh satuan pendidikan.

Pembelajaran tematik di SDI Wogo tidak berjalan secara efektif.Karena, guru sering menggunakan metode ceramah, sehingga siswa merasa jenuh dan bosan.Untuk mengoptimalkan pembelajaran, guru harus memberikan pembelajaran langsung kepada siswa secara berkesinambungan. Sehingga proses pembelajaran tidak terkesan membuat siswa merasa jenuh dan bosan, maka guru harus menguasai model pembelajaran.

Berdasarkan permasalahan di atas, peneliti perlu melakukan upaya untuk menciptakan proses pembelajaran tematik yang menarik dan menyenangkan. Untuk mengatasi permasalahan di atas, perlu dikembangkan model pembelajaran yang lebih berpusat pada hasil belajar siswa. Salah satu model pembelajaran yang cocok diterapkan adalah model pembelajaran kooperatif STAD. Karena dengan pemecahan masalah, siswa dipusatkan pada cara menghadapi persoalan dengan langkah penyelesaian yang sistematis yaitu dengan memahami masalah, menyusun rencana penyelesaian, melaksanakan rencana, dan memeriksa kembali, sehingga persoalan yang dihadapi akan dapat diatasi dengan baik.

Dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD siswa di tuntut untuk bekerja sama. Dengan bekerja sama siswa akan lebih mudah memahami materi tersebut. Melalui belajar dari teman sebaya dan di bawah bimbingan guru, maka proses penerimaan dan pemahaman siswa akan semakin mudah dan cepat terhadap materi yang di pelajari. Hal ini di dukung oleh pendapat Nur Asma (2008: 3) bahwa Siswa lebih mudah menemukan dan memahami suatu konsep jika mereka saling mendiskusikan masalah tersebut dengan temannya.Selanjutnya Arikanto (2007: 96) berpendapat bahwa anak-anak lebih mengerti bahasa anak daripada bahasa yang digunakan oleh orang dewasa.

Berdasarkan uraian di atas, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Peningkatan Hasil Belajar Tematik Siswa Kelas IV SDI Wogo Kabupaten Ngada Tahun Pelajaran 2017/2018 dengan Menggunakan Model Pembelajaran Kooperatif STAD.

Berdasarkan latar belakang diatas maka dapat dirumuskan masalah yaitu, “Apakah Terdapat Peningkatan Hasil Belajar Tematik Siswa Kelas IV SDI WogoKabupaten Ngada Tahun Pelajaran 2017/2018 Dengan Menggunakan Model Pembelajaran Kooperatif STAD?

Berdasarkan rumusan masalah diatas maka adapun tujuan dari penelitian ini  adalah untuk mengetahui peningkatan hasil belajar Pembelajaran Tematik Siswa Kelas IV SDI WogoKabupaten Ngada Tahun Pelajaran 2017/2018 Dengan Menggunakan Model Pembelajaran Kooperatif STAD.

KAJIAN LITERATUR

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2005), hasil berarti sesuatu yang diadakan, dibuat, dijadikan, dan sebagainya oleh usaha. Dengan kata lain hasil diartikan sebagai pendaapat atau perolehan dari seseorang dengan menunjukkan kecakapan dan kemampuannya. Secara etimologis kata “belajar” memiliki arti “berusaha memperoleh kepandaian atau ilmu”.Defenisi ini memiliki pengertian bahwa belajar adalah suatu aktivitas seseorang untuk mencapai kepandaian atau ilmu yang tidak dimiliki sebelumnya.Dengan belajar seseorang menjadi tahu, memahami, mengerti serta dapat melaksanakan dan memiliki sesuatu”.Belajar memiliki pengertian memperoleh pengetahuan atau menguasai pengetahuan melalui pengalaman, mengingat, menguasai pengalaman dan mendapatkan informasi atau menemukan.Dengan demikian belajar memiliki arti dasar adanya aktivitas atau kegiatan dan penguasaan tentang sesuatu.

Sejalan dengan hasibun, Rusman (2012: 123) mengemukakan hasil belajar merupakan sejumlah pengalaman yang diperoleh siswa yang mencakup ranah kognitif, afektif, maupun psikomotor. Selanjutnya menurut  Rusmono (2012: 10) hasil belajar merupakan perubahan perilaku-individu yang meliputi ranah kognitif, afektif dan psikomotor. Perubahan perilaku tersebut diperoleh setelah siswa menyelesaikan program pembelajarannya melalui interaksi dengan berbagai sumber belajar dan lingkungan belajar.

Menurut Winkel (2009:45), hasil belajar adalah perubahan yang mengakibatkan manusia berubah dalam sikap dan tingkah lakunya. Aspek perubahan mengacu pada tujuan yang dikembangkan taksonomi Bloom yang mencakup aspek afektif, kognitif dan psikomotor.

Dari beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa hasil belajar merupakan hal yang dicapai setelah individu yang bersangkutan menjalani proses belajar terhadap pengetahuan tertentu yang dinyatakan dengan nilai atau skor dimana hasil belajar berfungsi sebagai alat ukur bagi pencapaian tujuan suatu mata pelajaran atau bidang studi. Dengan kata lain hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia mendapatkan pengalaman belajarnya. Hasil belajar yang digunakan oleh guru untuk dijadikan ukuran atau kriteria dalam mencapai tujuan pendidikan.Hal ini dapat tercapai apabila siswa sudah memahami belajar dengan diiringi oleh perubahan tingkah laku yang lebih baik lagi.

Menurut Roger, dkk (dalam Huda, 2014: 29) pembelajaran kooperatif adalah aktivitas pembelajaran kelompok yang diorganisir oleh satu prinsip bahwa pembelajaran harus didasarkan pada perubahan informasi secara sosial diantara kelompok-kelompok pembelajar yang didalamnya setiap pembelajar bertanggung jawab atas pembelajarannya sendiri dan didorong untuk meningkatkan pembelajaran anggota-anggota yang lain.

Model pembelajaran Student Teams Achievement Division (STAD)di kembangkan oleh Robert Slavin dan kolega-koleganya di Universitas Jhon Hopkin.STAD adalah model pembelajaran yang paling sederhana, merupakan model yang baik digunakan untuk siswa yang baru mengenal tentang pembelajaran kooperatif. Slavin (dalam Nur Asma, 2008: 50) menyatakan bahwa STAD adalah pembelajaran dimana siswa di tempatkan dalam kelompok belajar beranggotakan empat atau lima siswa yang merupakan campuran dari kemampuan akademik yang berbeda, sehingga dalam setiap kelompok terdapat siswa yang berprestasi tinggi, sedang, dan rendah atau variasi jenis kelamin, kelompok ras dan etnis atau kelompok sosial lainnya.

Menurut Poerwadarminta(1983), pembelajaran tematik merupakan strategi pembelajaran yang diterapkan bagi anak kelas awal sekolah dasar. Sesuai dengan tahapan perkembangan anak, karakteristik cara belajar anak, konsep belajar dan pembelajaran bermakna, maka kegiatan pembelajaran bagi anak kelas awal SD sebaiknya dilakukan dengan pembelajaran tematik.

Menurut Mulyasa, (2015: 135) kurikulum 2013; diharapkan dapat menyiapkan SDM yang berkualitas sehingga masyarakat dan bangsa indonesia bisa menjawab berbagai masalah dan tantangan yang semakin rumit dan kompleks. Hal ini penting, karena dalam era gelobalisasi, perkembangan ilmu pengetahuan teknologi dan seni berlangsung begitu pesat,dan tingginya manusia karena jarak ruang dan waktu menjadi sangat relatif.

Dalam implementasi kurikulum 2013 pendididkan karakter dapat diintelegensikan dalam seluruh pembelajaran pada setiap bidang studi yang terdapat dalam kurikulum. Materi pembelajaran yang berkaitan ndengan norma atau nilai-nilai pada setiap bidang studi perlu dikembangkan,di hubungkan dengan konteks kehgidupan sehari-hari. Implementasi kurikulum  2013 berbasis karakter dan kompetensi harus melibatkan semua komponen termaksuk komponen-komponen yang ada didalam sistem pendidikan itu sendiri.

 

METODE PENELITIAN

Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (Classroom Action Research),Prosedur penelitian ini dilaksanakansesuai dengan yang dikembangkan oleh Kemis dan Mc Taggart dalam dua siklus. Metode pengumpulan data dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan metode tes dan instrumen pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini berupa soal-soal uraian dan metode analisis data yang digunakan dalam  penelitian ini adalah proses penyeleksi, menyederhanakan,memfokuskan, mengabstraksikan dan mengorganisasikan data secara sistematis dan rasional untuk menyajikan bahan-bahan untuk menyusun jawaban terhadap tujuan peneliti. Dalam penelitian ini teknik analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif kuantatif, karena data yang akan dikumpulkan berupa angka.

 

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Hasil Penelitian

Pada bab ini akan menguraikan hasil penelitian yang telah dilaksanakan di SDI Wogo, sebelum melakukan penelitian terlebih dahulu melakukan observasi tentang hasil belajar tematik pada siswakelas IV, ternyata hasil belajar siswa masih rendah dan  nilai hasil belajar siswa belum mencapai KKM yaitu 70%. Oleh karena itu, melakaukan penelitian dengan menerapkan model pembelajaran Student Team Achievement Division (STAD ) yang dilakukan dua siklus yaitu siklus I dan siklus II yang terdiri dari empat tahap yaitu tahap perencanaan, pelaksanakaan, observasi dan refleksi

Hasil Penelitian Siklus I

Adapun siklus satu terdiri dari rencana tindakan, pelaksanaan dan observasi, serta refleksi. Siklus 1 dilaksanakan selama 2 kali pertemuan , pelaksanaan penelitian pada siklus 1 akan dijelaskan secara lengkap sebagai berikut.

Adapun hal-hal yang diamati pada saat kegiatan berlangsung antara lain sebagai berikut: (1) mengamati proses pembelajaran, (2) mengamati kegiatan siswa selama kegiatan pembelajaran, (3) pengelolaan pembelajaran dan aktivitas siswa selama kegiatan pembelajaran berlangsung.

Pelaksanaan kegiatan penelitian tindakan siklus I dilaksanakan berdasarkan prosedur penelitian yang ditetapkan yaitu mulai dari kegiatan perencanaan hingga diakhiri dengan evaluasi atau tes hasil belajar siklus I.  Pelaksanaan evaluasi dilakukan pada akhir pertemuan. Untuk jelasnya hasil evaluasi pada siklus I akan dideskripsikan pada Tabel di bawah ini.

Sebelum menyajikan data tabel frekuensi terlebih dahulu mencari rentangan  skor dan kelas interval dari hasil belajar tematik. Data tersebut disajikan dalam Tabel 01 di bawah ini.

 

 

Tabel 01. Rangkuman Perhitungan Rentangan, Banyak Kelas danPanjang KelasHasil Belajar Tematik Siklus I

No Data Tabel Frekuensi Nilai
1 Rentang interval 50
2

3

Banyak kelas interval

Panjang kelas interval

6

9

 

Dari tabel di atas, dapat kita sajikan dalam tabel distribusi frekuensi seperti pada Tabel di bawah ini.

Tabel 02. Distribusi Frekuensi Data Hasil Belajar Tematik Siklus I

Kelas interval X (nilai tengah) fabsolute frelative F.X FKomulatif fkumulatif %
40-48 44 6 27,27 264 6 27,27
49-57 53 7 31,81 371 13 59,08
58-66 62 2 9,09 124 15 68,17
67-75 71 6 27,27 426 21 95,44
76-84 80 1 4,54 80 22 99,98
Jumlah 22 100 ∑fx=1265   100%

 

 

Hasil perhitungan mean, median, modus dan standar devasi  dirangkum pada Tabel berikut ini.

 

 

 

 

 

 

Tabel 03. Data Tendensi Sentral HasilBelajar Tematik Siklus I

No Tendensi Sentral Nilai
1 Jumlah siswa 22
2 Mean 57,5
3 Median 54,8
4 Modus 50,94

 

Berdasarkan hasil perhitungan tendensi sentral dan kurva, yakni modus, median dan mean bahwa nilai-nilai hasil belajar tematik cenderung rendah yaitu nilai modus lebih kecil dari median dan mean dengan skor nilai  50,94<54,8< 57,5. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa nilai hasil belajar tematik pada siklus I disebut dengan kurva juling positif.

Berdasarkan tes hasil belajar dari 22 siswa hanya 7 orang yang nilainya sudah tuntas dan 15 orang yang nilainya masih rendah atau belum tuntas dan nilai rata-ratanya 57,5.Hasil yang ada dijadikan bahan pertimbangan untuk membuat perencanaan tindakan dalam siklus selanjutnya sampai pembelajaran dikatakan berhasil yaitu siklus ke II.Hal ini menunjukan bahwa tingkat ketuntasan klasikal mencapai 31,81% dan ketidaktuntasan mencapai 68 % sedangkan nilai rata-rata kelas siklus I adalah 57,5.Berdasarkan nilai hasil belajar yang diperoleh siswa belum mencapai ketuntasan atau KKM, di mana siswa belum aktif dalam proses pembelajaran maka peneliti memutuskan untuk melanjutkan ke siklus berikutnya yaitu siklus ke II.

 

Refleksi

Pada tahap ini hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa hasil belajar tematik belum sesuai dengan rata-rata yang telah ditetapkan. Setelah diadakan refleksi terhadap hasil yang diperoleh diputuskan untuk mengadakan perbaikan dalam pembelajaran. Permasalahan yang ditemui pada tahap siklus I yaitu 1) siswa belum mampu bekerja sama dengan temannya dalam memecahkan masalah, 2) guru lebih banyak menjelaskan materi pembelajaran dari pada membiarkan siswa untuk aktif dalam proses pembelajaran, 3) siswa belum berani mengungkapkan pendapat karena masih merasa takut, 4) siswa masih melakukan pekerjaan secara individu.

Dari permasalahan tersebut diputuskan beberapa solusi untuk memperbaiki permasalahan yang dihadapi pada tahap siklus I yaitu 1) mengaitkan materi yang akan dipelajari dengan kehidupan sehari-hari sehingga siswa lebih mengerti dengan materi yang akan dipelajari, 2) penjelasan materi dipersingkat dan lebih banyak memberikan pembelajaran langsung kepada siswa yang berhubungan dengan materi yang akan dipelajari, 3) memberikan pertanyaan yang bersifat menggali pengetahuan siswa hasil belajarnya meningkat. Langkah-langkah tersebut akan diterapkan pada saat pelaksanaan tahap siklus II.

 

Hasil Penelitian Siklus II

Pelaksanaan siklus II dilaksanakan sebanyak dua kali pertemuan. Dalam pelaksanaan pembelajaran siklus II ini, siswa mengalami perubahan dimana para siswa  terlihat begitu antusias dan semangat dalam mengikuti proses pembelajaran, siswa terlihat aktif selama diskusi kelompok. Tahapan-tahapan yang dilakukan pada siklus II antara lain sebagai berikut.

Pelaksanaan kegiatan penelitian tindakan siklus II dilaksanakan berdasarkan prosedur penelitian yang ditetapkan yaitu mulai dari kegiatan perencanaan hingga diakhiri dengan evaluasi atau tes hasil belajar siklus II.  Pelaksanaan evaluasi dilakukan pada akhir pertemuan. Untuk lebih jelasnya hasil evaluasi pada siklus II akan di deskripsikan pada Tabel di bawah ini.

 

 

 

 

Dari Tabel di atas dapat diketahui bahwa nilai terendah yang diperoleh siswa adalah 70 dan nilai 100. Dari tabel yang telah disajikan di atas semua siswa sudah mencapai KKM.

Sebelum menyajikan data tabel frekuensi terlebih dahulu mencari rentangan  skor dan kelas interval dari hasil belajar tematik. Data tersebut disajikan dalam Tabel 04 di bawah ini.

Tabel 04. Rangkuman Perhitungan Rentangan, Banyak Kelas dan Panjang KelasHasil Belajar Tematik Siklus II

No Data Tabel Frekuensi Nilai
1 Rentang interval 30
2 Banyak kelas interval 6
3 Panjang kelas interval 5

Dari tabel di atas, dapat kita sajikan dalam tabel distribusi frekuensi seperti pada Tabel 05 di bawah ini.

Tabel 05. Distribusi Frekuensi Data Hasil Belajar Tematik Siklus II

No Kelas

Interval

X (nilai tengah) fabsolut frelatif F.X FKomulatif fkumulatif (%)
1 70-74 72 2 9,09 144 2 9,09
2 75-79 77 2 9,09 154 4 18,18
3 80-84 82 3 13,63 246 7 31,81
4 85-89 87 5 22,72 435 12 54,53
5 90-94 92 3 13,63 276 15 68,16
6 95-99 97 4 18,18 388 19 86,34
7 100-104 102 3 13,63 306 22 99,97
  Jumlah 22 100 ∑fx=1,949   100%

Hasil perhitungan mean, median, modus dan standar devasi  dirangkum pada Tabel 06 berikut ini

Tabel 06. Data Tendensi Sentral Hasil Belajar Tematik pada Siklus II

No Tendensi Sentral Nilai
1 Jumlah siswa 22
2 Mean 88,59
3 Median 90
4 Modus 92,5

 

          Berdasarkan hasil perhitungan tendensi sentral dan kurva, yakni modus, median dan mean bahwa nilai-nilai hasil belajar tematik cenderung tinggi yaitu nilai modus lebih besar dari median dan mean dengan skor nilai > md90> me88,59. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa nilai hasil belajar tematik pada siklus II disebut dengan kurva juling negatif.

 

Refleksi

Berdasarkan analisis data hasil belajar pada siklus I dan siklus II dapat dijelaskan bahwa hasil penelitian diperoleh presentase dengan rata-rata pada siklus I adalah 57,5% dan pada siklus II adalah 100%. Dengan membandingkan presentase pada siklus I dan II, terlihat bahwa telah terjadi peningkatan dari siklus I ke siklus II. Hal ini menunjukan telah meningkat, karena proses pembelajaran telah berlangsung semakin baik dari sebelumnya.

          Hasil ini didapatkan berdasarkan perbaikan pada saat proses pembelajaran berlangsung pada tindakan siklus I dan tindakan siklus II telah nampak adanya  hasil belajar tematik. Adapun temuan-temuan pelaksanaan tindakan kelas siklus II sebagai berikut 1) secara umum proses pembelajaran telah berjalan sesuai dengan RPP yang telah dibuat, dan kondisi pembelajaran yang lebih kondusif membuat siswa mampu bekerja sama dengan temannya dalam memecahkan masalah serta aktif memberikan tanggapan dan jawaban selama kegiatan diskusi berlangsung, 2) siswa sangat antusias pada saat pembelajaran berlangsung karena telah diberikan motivasi sehingga siswa cenderung sangat baik. Siswa mampu mengeluarkan ide maupun gagasan pengetahuan pada temannya, 3) siswa telah mampu mengikuti tahap-tahap pelaksanaan model pembelajaran student teams achievement divisions karena pertanyaan yang bersifat menggali dan menuntun siswa dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari yang pernah dialami sehingga proses pembelajaran menjadi lebih optimal.

 

Pembahasan

Hasil penelitian menunjukan bahwa penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dapat meningkatkan hasil belajar tematik kelas IV SDI Wogo khususnya pada tema 8 daerah tempat tinggalku. Penelitian dilakukan selama 2 siklus dengan subyek siswa kelas IV sebanyak 22 siswa di SDI Wogo.

Hasil belajar pembelajaran tematik pada siklus I diperoleh rata-rata 57,5berada pada kategori rendah dengan persentase 57,5% dan ketuntasan klasikalnya 31,81%. Sedangkan pada siklus II rata-rata 88,59% berada pada kategori tinggi dengan persentase 88,59% dan ketuntasan klasikalnya 100%.Hasil tersebut menggambarkan bahwa hasil belajar dan pemahaman siswa pada pembelajaran tematik meningkat.

Pembelajaran tematik pada siklus I kurang menarik bagi siswa. Kurang menariknya pembelajaran tematik disebabkan karena siswa belum mampu bekerja sama dengan temannya dalam memecahkan masalah. Selain itu, guru lebih banyak menjelaskan materi pembelajaran dari pada membiarkan siswa untuk aktif dalam proses pembelajaran. Dalam pembelajaran, siswa belum berani mengungkapkan pendapat karena masih merasa takut. Selain itu, siswa masih melakukan pekerjaan secara individu.

Berdasarkan hasil yang diperoleh di siklus I dapat dilakukan perbaikan di siklus II. Dalam pembelajaran siklus II, adapun temuan-temuan pelaksanaan tindakan kelas sebagai berikut (1) secara umum proses pembelajaran telah berjalan sesuai dengan RPP yang telah dibuat, dan kondisi pembelajaran yang lebih kondusif membuat siswa mampu bekerja sama dengan temannya dalam memecahkan masalah serta aktif memberikan tanggapan dan jawaban selama kegiatan diskusi berlangsung, (2) siswa sangat antusias pada saat pembelajaran berlangsung karena telah diberikan motivasi sehingga siswa cenderung sangat baik. Siswa mampu mengeluarkan ide maupun gagasan pengetahuan pada temannya, (3) siswa telah mampu mengikuti tahap-tahap pelaksanaan model pembelajaran STAD.

Nilai rata-rata kelas pembelajaran siklus II menunjukkan peningkatan bila dibandingkan dengan siklus I. Tindakan yang dilakukan pada siklus II masih tetap menggunakan model STAD, namun guru membagi siswa menjadi beberapa kelompok kecil yang heterogen baik berdasarkan kemampuan, jenis kelamin, maupun kebiasaan bergaul.

Temuan dalam penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian Lestari (2014). Dimana hasil penelitian menunjukan terdapat peningkatan ketuntasan hasil belajar IPA yang cukup signifikan antara hasil siklus I (71,42%) dan hasil siklus II (90,47%) didukung dengan peningkatan hasil belajar IPA siswa pada ranah afektif siklus I 67,75% (baik) menjadi 88,67% (sangat baik).

Penelitian menunjukan bahwa hasil belajar  mencapai nilai rata-rata 66,40 atau peningkatan sebesar 18,80 atau 39,49%. Siklus II rata-rata naik menjadi 73,20 atau peningkatan 6,80 atau 10,24%. Ketuntasan belajar pada kondisi awal 20% pada siklus I 60% pada siklus II 80%. Penelitian ini yang dilakukan Seno (2014) juga membuktikan bahwa model STAD dapat meningkatkan hasil belajar dalam proses pembelajaran.

Selain penelitian tersebut, ada juga penelitian yang dilakukan oleh Martiningsih (2016) yang berjudul upaya meningkatkan hasil belajar IPA melalui model kooperatif tipe STAD dapat menghasilkan minat dan motivasi belajar siswa sehingga dapat meningkatkan hasil belajar. Pada siklus I tingkat kemampuan siswa mencapai 60,58% dan berada pada kategori cukup. Sedangkan pada siklus II tingkat kemampuan siswa mencapai 82,32% dan berada pada kategori tinggi. Terjadi peningkatan dari siklus I dan siklus II sebesar 21,72% hasil penelitian ini mengemukakan bahwa adanya peningkatan hasil belajar siswa.

Berdasarkan hasil penelitian pada siklus I, diperoleh presentase hasil belajar siswa secara klasikal sebesar             dengan kategori kurang. Hasil yang diperoleh ini belum mencapai KKM yang diharapkan, untuk itu diperlukan perbaikan-perbaikan dalam pelaksanaan pembelajaran yang sesuai dengan kendala-kendala yang dihadapi pada siklus I.

Dilihat dari refleksi dalam pelaksanaan tindakan siklus I, terlihat berbagai kekurangan maupun  kendala-kendala pada saat proses pembelajaran berlangsung. Kendala-kendala tersebut disebabkan oleh (1) siswa masih belum mengerti dengan materi yang dipelajari dengan menggunakan model yang diterapkan, (2) dalam proses diskusi kelompok siswa kelihatan kurang disiplin dalam menyelesaikan LKS yang diberikan, (3) siswa belum begitu antusias dalam kegiatan diskusi kelompok untuk mengajukan pertanyaan hanya beberapa orang saja yang berani bertanya, (4) siswa belum terlalu memperhatikan pada saat guru menjelaskan materi ajar, (5) sebagian besar siswa masih mengalami kesulitan dalam membuat kesimpulan akhir pelajaran.

Melalui kegiatan refleksi beberapa kendala di atas bisa diatasi dengan solusi berikut ini (1) guru menggunakan model pembelajaran STAD dengan menyampaikan cara kerja dari pembelajaran yang akan dipelajari sehingga siswa lebih terbiasa dalam mengikuti proses pembelajaran, (2) guru memberi motivasi dan dorongan kepada siswa.

 

SIMPULAN DAN SARAN

Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, maka dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran STAD dapat meningkatkan hasil belajar tematik pada siswa kelas IV SDI Wogo tahun ajaran 2017/2018. Hal ini dapat diketahui dari presentase rata-rata hasil belajar pembelajaran tematik pada siklus I diperoleh rata-rata 57,5 berada pada kategori rendah dengan persentase 57,5% dan ketuntasan klasikalnya 31,81%. Sedangkan pada siklus II rata-rata 88,59%berada pada kategori tinggi dengan persentase 88,59% dan ketuntasan klasikalnya 100 %. Dari hasil perbandingan antara hasil yang telah dicapai dengan target yang telah ditetapkan, telah menunjukkan hasil yang optimal, sehingga penelitian tindakan kelas yang telah dilaksanakan dihentikan sampai di siklus II. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa melalui model pembelajaran STAD pada mata pelajaran tematik dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas IV SDI Wogo tahun pelajaran 2017/2018.

 

Saran

Berdasarkan simpulan hasil penelitian di atas, penulis menyampaikan saran sebagai berikut:

  • Bagi siswa

Diharapkan kepada siswa agar lebih berpartisipasi dan berinteraksi secara aktif dalam proses pembelajaran baik antara siswa dengan siswa dan guru dengan siswa sehingga, siswa lebih tertarik karena diajak dalam proses pembelajaran.

  • Bagi guru mata pelajaran pembelajaran tematik

Sebagai guru pembelajaran tematik harus kreatif dan inovatif dalam mempersiapkan pembelajaran agar hasil pembelajaran lebih meningkat. Untuk meningkatkan hasil belajar, guru harus menggunakan model pembelajaran yang efektif yaitu dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif Student Teams Achievement Divisions(STAD) atau model pembelajaran kooperatif lainnya yang sesuai dengan karakteristik peserta didik.

  • Bagi sekolah

Melalui penelitian ini diharapkan dapat dijadikan pedoman dalam pembelajaran tematik di SDI Wogo. Model pembelajaran kooperatif Student Teams Achievement Divisions(STAD) digunakan dalam proses pembelajaran sebagai alternatif untuk meningkatkan partisipasi dan membuat pembelajaran lebih menarik dan efektif.

  • Bagi peneliti lain

Diharapkan kepada peneliti yang ingin meneliti penelitian lebih lanjut dapat mencoba meneliti dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif pada kelas yang berbeda sehingga dapat bermanfaat dan menambah wawasan dan cakrawala berpikir.

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto. 2007. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta : Bumi Aksara.

Armansyah.2015.Faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar. www.google.belajar bagus.com.diunduh pada tanggal 1 maret 2018.

Benyamin, Bloom. 1956. Strategi Pembelajaran di SD. Jakarta: Universitas Terbuka.

Dasna, I Wayan, Laksana, Dek Ngurah Laba, dan Sudatha,  Gde Wawan. 2015. Desain dan Model Pembelajaran Inovatif dan Interatif. Tangerang: Universitas Terbuka.

Depdiknas. 2003. Model Pembelajaran Terpadu. Jakarta: PT Bumi Aksara.

Dimyati dan Mudjiono.2006. Belajar dan Pembelajaran, Jakarta: Rineka Cipta.

Etin Solihatin dan Raharjo. 2007. Cooperatif Learning. Jakarta: Bumi Aksara.

Hakim, Ibrahim. 2009. Perencanaan Pembelajaran. Bandung: CV Wacana Prima.

Harlina, Yeti. 2008. Peningkatan Aktivitas Dan Hasil Belajar Siswa Kelas IX.

Hernawan, dkk. 2013. Pengembangan Kurikulum dan Pembelajaran di SD. Banten: Universitas Terbuka.

Hopkins, David. 2011. Panduan Guru PTK. Yogyakarta: Pustaka Belajar.

Huda, Mitahul.2014. Model-model Pengajaran dan Pembelajaran. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Ibrahim, Muslimin.2000. Pembelajaran Kooperatif. Surabaya: Universitas Negeri Surabaya.

Isjoni. 2014. Cooperatif Learning. Bandung: Alfabeta.

Juliah. 2004. Evaluasi Pembelajaran. Yogyakarta: Multi Pressindo.

Kamus Besar Bahasa Indonesia. 2009. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta Barat: PT Media Pustaka.

Kemendikbud.2013. Materi Pelatihan Guru Implementasi K13 Semester II. Jakarta: Kemendikbud.

Koyan, I. Wayan.2012. Statistik Pendidikan Teknik Analisis Data Kuantitatif. Bali: Universitas Pendidikan Ganesha Press.

Kusuma, Wijaya dan Dwitagama, Dedi. 2010. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Permata Puri Media.

Lukmanul, Hakim. 2009. Perencanaan Pembelajaran. Bandung: CV Wacana Prima.

Mulyasa, H. E. 2014. Implementasi kurikulum 2013, panduan Pembelajaran KBK. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya.

Nurhadi.2004. Model dan Langkah-langkah pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara.

Nurulhayati. 2002. Model-model Pembelajaran. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada

Oemar, Hamalik. 2001. Proses Belajar Mengajar. Jakarta: Bumi Aksara.

Poerwati, Endah dkk. Panduan Memahami Kurikulum 2013. Jakarta: Prestasi Pustakarya.

Purwanto, Ngalim. 2015. Belajar dan Pembelajaran. Yogyakarta: Ar-ruzz Medhia.

Roger. 1992. Pembelajaran Kooperatif. Jakarta Barat: PT Indeks.

Rothwal. 1961. Prinsip-Prinsip Belajar. http://agginet.blogspot.com/2013/03. diunduh pada tanggal 3 maret 2018.

Rusman. 2012. Model-model Pembelajaran. Bandung: Raja Grafindo Persada.

Rustaman, dkk, 2014.Materi dan Pembelajaran Tematik SD. Banten: Universitas Terbuka

Slameto. 1980. Belajar dan Faktor-faktor yang mempengaruhinya. Jakarta: Rineka Cipta.

Slavin, R.E. 2005. Cooperatif Learning. Teori Riset dan Praktik. London: Allymand Bacon. Terjemahan Narulita Yusron Cooperative Learning: theory, research and practice. Bandung: Nusa Media.

Sukandi, Ujang. 2003. Belajar Aktif dan Terpadu. Surabaya: Duta Graha Pustaka.

Supriati, Amelia dkk. 2009. Pembelajaran Tematik di SD. Jakarta: Universitas Terbuka

Suprijono.2012. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Susilana, Rudi & RiyanaCepi. 2009. Media Pembelajaran. Bandung: Wacana Prima.

Syaful Djamaroh & Aswan Zain. 2002. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta.

Taufiq, dkk.2012.Pendidikan Anak di SD. Tangerang Selatan: Universitas Terbuka.

Thobroni. 2015. Belajar dan Pembelajaran Teori dan Praktek. Yogyakarta: Ar-Ruzz media.

Trianto.2009. Mengembangkan Model Pembelajaran Tematik. Jakarta: PT Prestasi Pustakakarya.

Wardhani, Igak, dkk. 2007. Penelitian Tindakan Kelas. Universitas Terbuka. Jakarta.

We’u, Gregorius. 2016. Penelitian Tindakan Kelas. Yogyakarta: Nusa Indah

Yoni, Acep. 2010. Menyusun Penelitian Tindakan Kelas. Famili: Yogyakarta.

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *