PENGARUH PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL BERBANTUAN  LKS BUDAYA LOKAL TERHADAP PEMAHAMAN SISWA SEKOLAH DASAR (STUDI KOMPARASI PADA SISWA KELAS V SDI RUTOSORO KECAMATAN GOLEWA KABUPATEN NGADA)

Yohanes Lamba1, Dek Ngurah Laba Laksana2, Konstantinus Dua Dhiu3

1)Mahasiswa Program Studi PGSD, 2,3) Dosen STKIP Citra Bakti

Program Studi PGSD, STKIP Citra Bakti

1)jameslamba@gmail.com

 

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan pemahaman siswa antara kelompok siswa yang mengikuti pembelajaran menggunakan model pembelajaran kontekstual berbantuan LKS budaya lokal dengan kelompok siswa yang mengikuti pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran langsung. penelitian semu dengan desain penelitian Non Equivalent Control Group Design. Teknik Random Sampling memilih kelas yang dibelajarkan menggunakan model pembelajaran kontekstual dan kelas yang dibelajarkan menggunakan model pembelajaran langsung. digunakan tes objektif. Terdapat perbedaan pemahaman siswa mengenai pembelajaran tematikantara siswa yang belajar dengan menggunakan model kontekstual dan siswa yang belajar dengan menggunakan model pembelajaran Langsung. Menggunakan program SPSS nilai signifikan pemahaman siswa mengenai pembelajaran tematik 0,001<0,05 dan rata-rata pemahaman siswa mengenai pembelajaran tematik pada siswa yang dibelajarkan menggunakan model pembelajaran kontekstual dan pemahaman siswa mengenai pembelajaran tematik pada siswa yang dibelajarkan menggunakan model pembelajaran langsung (0,44>0,14) dan perbedaan rata-rata nilai sebesar 0,30 maka keputusan menolak H0 dan menerima H1. terdapat pengaruh model kontekstualterhadap pemahaman siswa mengenai pembelajaran tematikpada siswa kelas V SDI Rutosoro

Kata-kata kunci : Pemahaman Siswa, Tematik, Kontekstual

 

ABSTRACT

This research intent to know the difference student grasp among agglomerate student which follow learning utilizes contextual learning gets LKS’S help culturizes local with agglomerate student which follow learning by use of direct learning model. This research constitute illusion research with research design Non Equivalent Control Design’s Group.  Random is Sampling  to braze to choose class that utilizes contextual learning model.SPSSpoint student grasp hit tematik’s learning 0,001 <0,05 and on contextual’s learning model and student grasp hit tematik’s learning on student that utilizes direct learning model  (0,44> ,14) and difference average appreciative as big as 0,30 therefore decision refuse h 0 and accepting h 1 . That concluded thus exists contextual model influence to student grasp hit tematik’s learning on student brazes V SDI Rutosoro

Key words: Student grasp, Tematik, contextual.

 

 

PENDAHULUAN

Pendidikan adalah setiap usaha, pengaruh, perlindungan dan bantuan yang diberikan kepada anak tertuju kepada kedewasaan anak itu (GBHN, 1773). Cita-cita pendidikan merupakan hal yang paling penting dalam dunia globalisasi saat ini. Pengaruh itu datangnya dari orang dewasa atau yang diciptakan oleh orang dewasa seperti sekolah, buku, putaran hidup sehari-hari dan sebagainya dan ditujukan kepada orang yang belum dewasa (Hasbullah, 2011).

Dhiu (2012) mengatakan bahwa,pendidikanmerupakansuatukegiatan yang universal.Hal ini, karenapendidikanpadahakikatnyamerupakanusahamanusiauntukmemanusiakanmanusiaitusendiri, yakniuntukmembudayakanmanusia. Pendidikan mempunyai tujuan yakni membantu meletakkan dasar ke arah perkembangan sikap, pengetahuan, keterampilan dan daya cipta yang diperlukan oleh anak didik dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan dan untuk pertumbuhan serta perkembangan selanjutnya (PP NO 27 tahun 1990). Pendidikan pada dasarnya harus selalu berpatokan pada kurikulum yang tertera pada undang-undang.

Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan menyebutkan bahwa, kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan  mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu (Kemendikbud, 2013). Kurikulum yang sedang berjalan saat ini adalah kurikulum 2013. Kurikulum ini bertujuan untuk mempersiapkan manusia Indonesia agar memiliki kemampuan hidup sebagai pribadi dan warga negara yang beriman, produktif, kreatif, inofatif, dan afektif serta mampu berkontribusi pada kehidupan bermasyarakat, berbangsa, bernegara, dan peradaban dunia.

Dalam kurikulum 2013 diatur bahwa kurikulum untuk SD/MI menggunakan pendekatan tematik integratif. Pembelajaran tematik integratif merupakan pendekatan pembelajaran yang mengintegrasikan berbagai kompetensi dari berbagai mata pelajaran ke dalam berbagai tema. Pengintegrasian tersebut dilakukan dalam tiga hal yaitu integrasi sikap, ketrampilan, dan pengetahuan dalam proses pembelajaran dan integrasi berbagai konsep dasar yang berkaitan. Tema merajut makna berbagai konsep dasar sehingga peserta didik tidak belajar konsep dasar secara parsial. Dengan demikian, pembelajarannya memberikan makna yang utuh kepada peserta didik seperti tercermin pada berbagai tema yang tersedia. Kurikulum 2013 memang sudah diterapkan di beberapa sekolah, walaupun demikian pendidikan di tanah air masih memprihatinkan.

Kondisipendidikandi Indonesia saat ini khususnya di provinsi NTT pada umumnyamasihbelumterlihatkemajuannya. Semua ini disebabkan karena masihbanyakpendidik yang tidakbegitumendalamitugassebagaipengajarsehinggapesertadidikhanyamendapatsedikitilmudankurangmemahamikonsep yang dipelajari. Oleh karena itu, mutu pendidikan di NTT padasaatinimasihrendah.

Mutu pendidikan NTT paling rendahsecaranasional (Dion2009). Hal tersebut dapatdilihatdalamhasilujiannasional(UN) TahunAjaran 2007/2008 menempatkanposisi Nusa Tenggara Timur di urutan ke-33. Merosotnyamutupendidikan di NTT bukanbaruterjadisekarang, melainkansudahsejak era Tahun 1970-an. Salah satu kabupaten di Provinsi NTT yang mutu pendidikannya rendah adalah kabupaten Ngada.Beberapamasalahpenyebabmerosotnyamutupendidikan di Kabupaten Ngadaantaralainpara guru belum mampu menguasai kurikulum 2013 dan masih jarang menggunakan model pembelajaran yang variatif. Mutupendidikan di Kabupateninimasihterlihatrendah. Salah satu pemicu rendahnya mutu pendidikan di Kabupten Ngada adalah rendahnya motivasi kepala sekolah dan guru-guru untuk belajar meningkatkan kompetensi pedagogik dan profesional  yang mengakibatkan banyak dari mereka yang masih berorientasi pada hasil lulusan ujian dan tidak fokus pada proses pedagogik yang baik dan benar (Mbula, 2017).

Rendahnyamutupendidikandisebabkanolehpenggunaan model pembelajaran yang masihbersifatkonvensional yang mengakibatkanrendahnyahasilbelajarsiswa. Proses belajarmengajarlebihdidominasioleh guru. Keadaansepertiinisangatberpengaruhpadatingkatpemahamansiswaterhadapmateri yang disajikansehinggasiswamerasabosandankurangtertarikpadamatapelajarantematik.

Hal initerlihat di salahsatusekolah di Kecamatan Golewa KabupatenNgada Provinsi NTT yaitu di SDI Rutosoro. Berdasarkan pengamatan yang dilakukan selama kegiatan PPL menunjukkan bahwa, pemahaman siswa mengenai pembelajaran tematik di SDI Rutosoro cenderung menurun. Ketika guru menjelaskan isi dari pembelajaran tematik, ada banyak siswa yang kurang memahami isi ataupun makna dari materi tersebut. Siswa merasa bingung dengan isi materi yang diberikan karena ada beberapa isi materi tersebut yang belum pernah siswa jumpai atau siswa rasakan. Terkadang siswa juga hanya mengerti cakupan materi dari garis luarnya saja, dan tidak secara penuh memahami makna dari materi pembelajaran tematik. Permasalahan seperti inilah yang akan merambat ke aspek pemahaman peserta didik dan tentunya akan mempengaruhi pola belajaranya karena ia belajar seakan hanya menghafal cakupan dari materi tersebut tanpa memahami makna dari isi materi yang diberikan.

Hal iniDisebabkan oleh cara guru dalam membelajarkan siswa yang masih bersifat monoton dan hanya terfokus pada buku ajar. Untuk meningkatkan pemahaman siswa mengenai pembelajaran tematik, guru tidak seharusnya hanya terfokus pada buku ajar saja, melainkan pada pengembangan bahan ajar yang diambil dari konteks budaya lokal setempat sehingga siswa dapat memahami secara baik isi dan makna pembelajaran karena siswa sendiri sudah mengenal budaya lokal setempat. Selain itu, guru juga harus menggali infomasi serta objek-objek budaya lokal setempat yang akan dikaitkan dengan pokok materi yang akan diberikan dan dibahas kepada siswa.

Hal ini perlumendapatperhatiankhususdaripemerintahsertacalon guru sekolahdasaruntukmelakukansuatuupaya agar dapatmemperbaikipemahaman siswa padapembelajarantematik. Berdasarkanuraianmasalah yang telahdikemukakan di atas, ditawarkansolusi yang dianggap paling efektifdalammembelajarkanmateripembelajarantematik di sekolahdasarkhususnya di SDI Rutosoroyaitudenganmenggunakansebuah model pembelajaran yang dianggapcocokdantepatsasarandalammembelajarkanpembelajarantematik.

Model pembelajaran adalah suatu perencanaan atau suatu pola yang digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran di kelas. Model tersebut merupakan pola umum perilaku pembelajaran untuk mencapai kompetensi/tujuan. Arends (2013 : 46) mengatakan bahwa, model pembelajaran mengacu pada pendekatan yang digunakan termasuk di dalamnya tujuan-tujuan pembelajaran, tahap-tahap dalam kegiatan pembelajaran, lingkungan pembelajaran dan pengelolaan kelas. Pembelajaan tematik adalah pembelajaran terpadu yang menggunakan tema untuk mengaitkan beberapa mata pelajaran sehingga dapat memberikan pengalaman bermakna kepada siswa.Tema adalah pokok pikiran atau gagasan pokok yang menjadi pokok pembicaraan (Poerwadarminta, 1983).Dengan tema diharapkan akan memberikan banyak keuntungan, di antaranya, (1) Siswa mudah memusatkan perhatian pada suatu tema tertentu, (2) Siswa mampu mempelajari pengetahuan dan mengembangkan berbagai kompetensi dasar antar mata pelajaran dalam tema yang sama, (3) Pemahaman terhadap materi pelajaran lebih mendalam dan berkesan, (4) Kompetensi dasar dapat dikembangkan lebih baik dengan mengkaitkan mata pelajaran lain dengan pengalaman pribadi siswa. (5) Siswa lebih merasakan manfaat dan makna belajar karena materi disajikan dalam konteks tema yang jelas, (6) Siswa lebih bergairah belajar karena dapat berkomunikasi dalam situasi nyata, untuk mengembangkan suatu kemampuan dalam satu mata pelajaran sekaligus mempelajari mata pelajaran lain, (7) Guru dapat menghemat waktu karena mata pelajaran yang disajikan secara tematik dapat dipersiapkaan sekaligus dan diberikan dalam dua atau tiga pertemuan, waktu selebihnya dapat digunakan untuk kegiatan remedial, pemantapan, atau pengayaan.

Berdasarkan uraian dari  masalah-masalah di atas, maka ditawarkan solusi yang dianggap paling efektif dalam membelajarkan materi pembelajaran tematik di SDI Rutosoro yaitu dengan menggunakan model pembelajaran kontekstual.Model kontekstual  diharapkan dapat meningkatkan pemahaman siswa mengenai pembelajaran tematik pada siswa kelas V SDI Rutosoro, karena model kontekstual memiliki keunggulan-keunggulan tersendiri dalam pembelajaran yang mampu merangsang dan meningkatkan pemahamn siswa terhadap pembelajaran tematik.

Model pembelajaran kontekstual merupakan model pembelajaran yang berbeda, yang bukan sekedar menuntut para siswa dalam menggabungkan subjek-subjek akademik dengan konteks keadaan mereka sendiri. Kontekstual merupakan pembelajaran yang menghubungkan antara konten pembelajaran dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa untuk mengaitkan antara pengetahuan dan pengalaman yang didapatkan di sekolah.

Belajar adalah aktivitas atau suatu proses untuk memperoleh pengetahuan meningkatkan keterampilan, memperbaiki perilaku, sikap dan mengkokohkan kepribadian. Dalam konteks menjadi tahu atau proses memperoleh pengetahuan, menurut pengetahuan sains langsung, kontak manusia dengan alam diistilahkan dengan pengalaman (experience). Pengalaman yang terjadi berulang kali melahirkan pengetahuan, (knowledge), atau a body of knowledge (Suyono dan Hariyanto, 2011: 9).

Proses belajar tematik adalah proses belajar mengajar yang melibatkan guru dan siswa dimana guru mengaitkan beberapa mata pelajaran sehingga dapat memberikan pengalaman bermakna kepada siswa. Disamping itu juga agar proses pembelajaran tematik berjalan dengan baik dan siswa mampu memahami materi secara menyeluruh maka, pembelajaran tematik dibantu dengan LKS budaya lokal. LKS budaya lokal adalah salah satu bentuk LKS yang sudah dirancang dalam memberikan soal latihan kepada siswa dengan mengaitkan materi-materi soal dalam buku ajar dengan konteks budaya lokal siswa, dimana dengan menggunakan LKS budaya lokal dapat mengantarkan siswa untuk berpikir logis serta dapat mengenal isi materi sesuai dengan konteks budaya lokal setempat yang sudah pernah siswa rasakan.

sedangkan guru dalam mengajar hendaknya dapat menghubungkan materi dengan keadaan yang nyata atau konkrit sesuai dengan karakteristik dan kemampuan peserta didik.

Berdasarkan uraian di atas, maka rumusan masalahnya adalah “apakah terdapat perbedaan pemahaman siswa antara kelompok siswa yang mengikuti pembelajaran menggunakan model pembelajaran kontekstual berbantuan LKS budaya lokal dengan kelompok siswa yang mengikuti pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran langsung?

Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan pemahaman siswa antara kelompok siswa yang mengikuti pembelajaran menggunakan model pembelajaran kontekstual berbantuan LKS budaya lokal dengan kelompok siswa yang mengikuti pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran langsung

KAJIAN LITERATUR

Model pembelajaran kontekstual merupakan proses pembelajaran yang holistik dan bertujuan membantu siswa untuk memahami makna materi ajar dengan mengaitkannya terhadap konteks kehidupan mereka sehari-hari (konteks pribadi, sosial, dan kultural), sehingga siswa memiliki pengetahuan /keterampilan yang dinamis dan fleksibel untuk mengkonstruksi sendiri secara aktif pemahamannya, Bandono ( 2008).

Sulhan (2006:72), model pembelajaran kontekstualmerupakan model pembelajaran yang menggabungkan materi pelajaran dengan pengalaman langsung sehari-hari siswa, masyarakat, dan pekerjaan di lingkungannya.

Dari pendapat tersebut maka dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran kontekstual merupakan pembelajaran yang memungkinkan siswa menerapkan dan mengalami apa yang sedang diajarkan dengan mengacu pada masalah- masalah dunia nyata,  sehingga pembelajaran akan menjadi lebih berarti dan menyenangkan. Jadi jelaslah bahwa, pemanfaatan model pembelajaran kontekstual akan menciptakan ruang kelas yang didalamnya siswa akan menjadi peserta aktif bukan hanya pengamat yang pasif, dan bertanggung jawab terhadap belajarnya. Penerapan pembelajaran kontekstual akan sangat membantu guru untuk menghubungkan materi pelajaran dengan situasi dunia nyata dan memotivasi siswa untuk membentuk hubungan antara pengetahuan dan aplikasinya dengan kehidupan mereka.

Menurut Margaret Mead (dalam Hayashi, 2011:1), budaya adalah perilaku yang dipelajari dari sebuah masyarakat atau sub kelompok. Koentjaraningrat mengartikan budaya dalam arti sempit dan luas. Dalam arti sempit budaya itu adalah kesenian (Koentjaraningrat, 2000:231).Menurut Judistira (2008: 141), kebudayaan lokal adalah melengkapi kebudayaan regional, dan kebudayaan regional adalah bagian-bagian yang hakiki dalam bentuk kebudayaan nasional.Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa budaya itu berkaitan dengan kata kunci yang mencakup(1) gagasan, (2) perilaku dan (3) hasil karya manusia.

METODE PENELITIAN

Penelitian ini dilaksanakan di SDI Rutosoro yaitu di Gugus IX Kecamatan Golewa Kabupaten Ngada. Penelitian ini berlangsung pada bulan April – Mei 2018. Waktu yang dibutuhkan untuk melakukan penelitian ini kurang lebih satu bulan.

Penelitian ini dirancang dalam bentuk eksperimen dan rancangan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah “Non Equivalent Control Group Design” karena penelitian ini merupakan jenis penelitian Quasi Experimental.Designtertera seperti pada gambar berikut.

01        X1        03

———————-

02        X2        04

 

Gambar Desain Penelitian

Sampel penelitian terdiri atas 37 orang siswa kelas V SDI Rutosoro yang terdiri atas 19 orang kelompok eksperimen dan 18 orang kelompok kontrol yang diambil secara intac group. Kelompok eksperimen diberi perlakuan dengan model kontekstual dan kelompok kontrol menggunakan model pembelajaran langsung.Dalam penelitian ini yang menjadi Variabel bebas dalam penelitian ini adalah model pembelajarankontekstual. dan Variabel terikat dalam penelitian ini adalah pemahaman siswa  mengenai pembelajaran tematik siswa kelas V SDI Rutosoro Kecamatan Golewa pada mata pelajaran tematik.

Data tentang pemahaman siswa dianalisis secara deskriptif kuantitatif membuat tabel distribusi frekuensi yakni mencari harga rerata/mean (M), median (Me), dan modus (Mo), penyajian data dengan grafik, standar deviasi (SD), uji persyaratan analisis dan untuk menguji hipotesis yang diajukan  dalam penelitian ini, dilihat dari luaran SPSS 16.00 for windows  kolom t-testt for Equality of Means.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Hasil Penelitian

Dari kegiatan analisis data yang dimulai dari menghitung range, banyak kelas, panjang kelas, mean, median, modus, membuat grafik, menghitung standar deviasi dan menghitung gain score dinormalisasikan, penelitian ini dapat dideskripsikan bahwa terdapat perbedaan pemahaman siswa mengenai pembelajaran tematik antara siswa yang belajar menggunakan model kontekstualdengan siswa yang belajar menggunakan model langsung. Hal ini dapat dibuktikan dengan data hasil analisis dan uji Hipotesis yang telah dilakukan.

Dari perhitungan menggunakan aplikasi SPSS 16.00 for windows menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan pemahaman siswa mengenai pembelajaran tematikantara siswa yang belajar dengan menggunakan model kontekstual dan siswa yang belajar dengan menggunakan model pembelajaran Langsung. Hal ini dapat dilihat dari uji Hipotesis menggunakan program SPSS 16.00for windows nilai signifikan pemahaman siswa mengenai pembelajaran tematik 0,001<0,05 dan rata-rata pemahaman siswa mengenai pembelajaran tematik pada siswa yang dibelajarkan menggunakan model pembelajaran kontekstual dan pemahaman siswa mengenai pembelajaran tematik pada siswa yang dibelajarkan menggunakan model pembelajaran langsung (0,44>0,14) dan perbedaan rata-rata nilai sebesar 0,30 maka keputusan menolak H0 dan menerima H1.

Uji hipotesis digunakan untuk menguji hipotesis yang telah dikemukakan pada peneltian yaitu terdapat perbedaan pemahaman siswa mengenai pembelajaran tematik antara siswa yang menggunakan model kontekstualdengan siswa yang menggunakan model pembelajaran langsung  pada siswa kelas V SDI Rutosoro Kecamatan Golewa.

Pembahasan

Hasil uji hipotesis dengan program SPSS 16.00 for windows pada kolom Equal variance assumed nilai t-testt = 3,780 > 2.030 (dengan db n1+n2-2 (19 + 18 -2= 35, taraf sig. 5%),   dan nilai signifikansi = 0,001 < 0,05 maka keputusan menolak H0 dan menerima H1. Rata-rata pemahaman siswa mengenai pembelajaran tematik pada Tabel Group Statistics kelompok eksperimen lebih besar dari kelompok kontrol (0,44 > 0,14) dan perbedaan rata-rata nilai 0.30

Dengan demikian terdapat perbedaan yang signifikan pemahaman siswa mengenai pembelajaran tematikantara siswa yang belajar menggunakan model kontekstual dengan siswa yang belajar menggunakan model langsung. Karena terdapat perbedaan pemahaman siswa mengenai pembelajaran tematik pada siswa yang dibelajarkan menggunakan model pembelajaran kontekstual dan pemahaman siswa mengenai pembelajaran tematik pada siswa yang dibelajarkan menggunakan model pembelajaran langsung maka dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran kontekstualberpengaruh terhadap pemahaman siswa mengenai pembelajaran tematik pada siswa kelas V SDI Rutosoro Kecamatan Golewa Kabupaten Ngada Tahun Ajaran 2017/2018.

SIMPULAN DAN SARAN

Simpulan

Berdasarkan hasilpenelitiandanpembahasan, dapatdisimpulkanbahwaterdapat perbedaan pemahaman siswa mengenai pembelajaran tematikantara siswa yang belajar menggunakan model kontekstual dengan siswa yang belajar menggunakan model langsung. Hal ini dapat dilihat dari hasil uji Hipotesis yaitu nilai signifikan pemahaman siswa mengenai pembelajaran tematik 0,001 < 0,05, dengan rata-rata pemahaman siswa mengenai pembelajaran tematik kelompok eksperimen lebih besar dari kelompok kontrol (0.44 > 0,14) dan perbedaan rata-rata nilai sebesar 0,30. Dengan demikian disimpulkan bahwa terdapat pengaruh model kontekstualterhadap pemahaman siswa mengenai pembelajaran tematik pada siswa kelas V SDI RutosoroKecamatan Golewa Kabupaten Ngada.

Saran

Temuan yang diperoleh dalam penelitian ini terdapat beberapa saran yang dapat dikemukakan antara lain sebagai berikut. Untuk siswa, hasil penelitian ini dapat dijadikan landasan bagi siswa untuk selalu meningkatkan kemampuan berpikir dan memecahkan masalah tematik yang berkaitan dengan situasi nyata dalam kehidupan sehari-hari. Untuk guru, diharapkan dapat menggunakan model kontekstualdan mampu membuat kaitan antara materi yang akan dipelajari dengan situasi dunia nyata siswa sebagai pengantar dalam proses pembelajaran untuk meningkatkan dan mengasa kemampuan berpikir siswa dalam menyelesaikan masalah dalampembelajaranTematik. Untuk praktisi pendidikan, disarankan menggunakan hasil penelitian ini sebagai landasan dalam penelitian lebih lanjut dengan materi dan ruang lingkup yang lebih luas. Untuk para peneliti yang berminat untuk melakukan penelitian lanjutan dalam pembelajaran tematik, diharapkan mampu menggunakan penelitian ini sebagai landasan dan acuan untuk penelitian lebih lanjut.

Daftar Rujukan

Anitah, 2009. Strategi Pembelajaran di SD. Jakarta: Universitas Terbuka.

Dion Putra. 2009. Menemukanmasalahpendidikan di NTT

Heruman. 2014. Model Pembelajaran Tematik di Sekoslah Dasar. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Komalasari, Koko. 2015. Pembelajaran Kontekstual Konsep dan Aplikasi. Bandung: PT Refika Aditama.

Koyan, I.W. 2007. Assesmen Dalam Pendidikan. Singaraja: Bali.

Laksana, D.N.L. danRabu, K. 2015.PembelajaranKontekstualBerbantuan LKS dalamUpayaMeningkatkanPemahamanKonsep IPA danAktivitasBelajarSiswa SD. JurnalIlmiahPendidikan Citra Bakti, Volume 2 Nomor 1, hal. 78-89

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *