PENGARUH LATIHAN LOMPAT KIJANG TERHADAP KEMAMPUAN LOMPAT JAUH GAYA JONGKOK SISWA KELAS VII SMP SOEGIJAPARANATA MATALOKO

Rikhardus Wika1, Josep Marsianus Rewo2 , Yohanes Bayo Ola Tapo3

1)Mahasiswa Program Studi PJKR, 2,3)Dosen Program Studi PJKR

 Program Studi PJKR, STKIP Citra Bakti

rikarduswika8@gmail.com

 

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh latihan lompat kijang terhadap kemampuan lompat jauh gaya jongkok pada siswa kelas VII SMP Soegijapranata Mataloko. Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimen dengan menggunakan desain The static – Group Pretest – Posttest. Populasi dalam penelitian ini berjumlah 105 orang dan sampel penelitian berjumlah 40 orang yang ditentukan dengan teknik random sampling dan dibagi dalam 2 kelompok yaitu kelompok kontrol dan kelompok eksperimen yang masing-masing kelompok terdiri dari 20 orang. Data lompat jauh diukur menggunakan teknik pengukuran menurut ketentuan IAAF yang di ambil dari tes awal (pretest) dan tes akhir (posttest). Data hasil penelitian di analisis menggunakan analisis uji t. Berdasarkan rata – rata hitung bahwa kelompok eksperimen lebih besar dari kelompok kontrol (͞x1 = 0,529 X2 = 0,318) pada variable lompat jauh. Hal ini dilihat dari uji statitik diperoleh nilai uji-t kelompok eksperimen dan kelompok kontrol memiliki nilai thitung= 6,828 dengan nilai  ttable untuk db (20 + 20) – 2 = 38 adalah sebesar 2,042 pada taraf signifikan 5%, sehingga thitung > ttabel (thitung = 6,828 > ttabel = 2.042). Jadi Ho ditolak dan H1 diterima. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa, latihan lompat kijang berpengaruh pada kemampuan lompat jauh gaya jongkok siswa kelas VII SMP Soegijapranata Mataloko.

 

Kata – kata kunci: Latihan, Lompat kijang, Lompat jauh

 

ABSTRACT

This study aims to determine the effect of jump the deer exercise on the ability of long jump style squatting on the seventh grade students of the junior high school Soegijapranata Mataloko. The type of this research is experimental research using design The Static Group Pretest – Posttest. The population in this study amounted to 105 people and the research sample amounted to 40 people determined by random sampling technique and divided into 2 groups namely control group and experiment group which each group consisted of 20 people. The long jump data is measured using measurement techniques according to the IAAF provisions derived from pretest and posttest tests. The data of the research results in the analysis using t test analysis. Based on the mean calculations that the experimental group is larger than the control group (͞x1 = 0,529 > X2 = 0.318) in the long jump variable. It is seen from the statistical test obtained by the experimental test and the control group has tcount = 6,828 with ttable value for db (20 + 20) – 2 = 38 is 2.042 at 5% significant level, tacount > ttable (tacount = 6,828 > ttable = 2,042). So Ho is rejected and H1 accepted. Thus it can be concluded that, jump the deer exercise affect the ability to jump long style squat class VII junior high school Soegijapranata Mataloko .

 

Keywords: Exercise, Jump deer, Long jump

 

PENDAHULUAN

Pendidikan merupakan bagian integral dari pembangunan nasional yang diarahkan menuju pada kualitas manusia Indonesia seutuhnya, termasuk Pendidikan Jasmani sebagai bagian dari Pendidikan Nasional yang perlu dilaksanakan dengan terencana, teratur dan berkesinambungan. Pelaksanaan pendidikan jasmani dan olahraga merupakan sebuah investasi jangka panjang dalam upaya pembinaan mutu sumber daya manusia Indonesia.

Olahraga merupakan bagian dari kehidupan manusia. Berolahraga dapat meningkatkan kesegaran jasmani atau kondisi fisik seseorang sehingga mampu melakukan aktivitas sehari-hari tanpa mengalami kelelahan yang berarti. Melalui kegiatan olahraga dapat membentuk manusia yang sehat jasmani dan memiliki watak disiplin serta sportif yang pada akhirnya akan membentuk manusia yang berkualitas.

Pendidikan jasmani, Olahraga dan Kesehatan merupakan bagian integral dari pendidikan secara keseluruhan, bertujuan untuk mengembangkan aspek kebugaran jasmani, keretampilan gerak, keterampilan sosial, penalaran, stabilitas emosional, tindakan moral, aspek pola hidup sehat, pan pengenalan lingkungan berih melalui aktivitas jasmani, olahraga dan kesehatan terpilih yang direncanakan secara sistematis dalam rangka mencapai tujuan pendidikan nasional (Depdiknas, 2006: 1).

Pendidikan jasmani dan olahraga di lembaga pendidikan formal atau sekolah sebagai salah satu bagian kurikulum pendidikan pelaksanaannya secara intrakurikuler (pada jam sekolah) dan ekstrakurikuler (di luar jam sekolah). Kegiatan ekstrakurikuler di sekolah diharapkan dapat meningkatkan kemampuan siswa melalui bentuk-bentuk latihan yang sesuai dengan cabang olahraga yang diikuti dan diminati. Menurut (Backer/Massini 1993,15) pelajaran atletik di sekolah tidak lagI menjadi matapelajaran umum. Daya minat siswa cukup besar pada olahraga permainan. Hal ini penting dilakukan guna meningkatkan proses pembinaan dan pembibitan olahraga dikalangan siswa agar mendapatkan hasil yang memuaskan seperti yang diinginkan. Pelaksanaan pendidikan jasmani diharapkan mampu membekali peserta didik baik secara psikis (mental dan motivasi) maupun secara fisik (physical exercise).

Pencapaian hasil seperti yang diharapkan membutuhkan masa yang cukup lama.Upaya pembinaan peserta didik melalui pendidikan jasmani dan olahraga membutuhkan metode, kurikulum, sarana dan prasarana serta kesadaran dan kesabaran dari komponen pendidikan dalam pelaksanaannya. Bagian dari pendidikan jasmani di lembaga formal adalah pendidikan gerak dan olah jasmani yang secara khusus merupakan pendekatan ke salah satu cabang olahraga tertentu berdasarkan kurikulum yang berlaku, diantaranya adalah materi pembelajaran cabang olahraga atletik. Atletik merupakan aktivitas jasmani yang efektif untuk mengoptimalkan pertumbuhandan perkembangan anak. Gerakan-gerakan atletik harus sesuai untuk mengisi program pendidikan jasmani, seperti lari, lompat, berjalan dan melempar.

Perlombaan atletik memiliki lebih dari satu macam perlombaan. Nomor-nomor dalam atletik yang sering diperlombakan adalah sebagai berikut: (1) nomor jalan dan lari meliputi: jalan cepat, lari jarak pendek (sprint), lari jarak menengah (middle distance), lari jarak jauh (long distance), dan lari estafet. (2) nomor lompat meliputi: lompat tinggi (hight jump), lompat jauh (long jump), lompat jangkit (tripple jump), dan lompat tinggi galah (polevoult). (3) nomor lempar meliputi: tolak peluru (shot put), lempar lembing (javelin throw), lempar cakram (discus throw), dan lontar martil (hammer) (Eddy Purnomo dan Dapan, 2011: 1). Atletik diperlukan kemampuan fisik yang mendukung melalui latihan fisik.

Latihan fisik akan memberikan bekal kemampuan dan keterampilan dalam gerak dasar yang dapat dipergunakan dalam masa perkembangan selanjutnya, baik dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam perkembangannya untuk mencapai prestasi di bidang olahraga. Menurut Sajoto, (1988: 42) bahwa semua program latihan harus berdasarkan “SAID“ yaitu Specific Adaptation to Imposed Demands. Prinsip tersebut menyatakan bahwa latihan hendaknya bersifat khusus sesuai dengan sasaran yang akan dicapai, bila akan meningkatkan kekuatan maka program latihan harus memenuhi syarat untuk tujuan meningkatkan kekuatan.

Berdasarkan hasil observasi dan pengamatan ruang lingkup kurikulum penjasorkes SMP Soegijapranata Mataloko memuat permainan bola besar, bolakecil, senam dan atletik. Cabang atletik yang diajarkan adalah nomor lari, lempardan lompat. Nomor lompat yang diajarkan salah satunya lompat jauh. Lompat jauh yang diajarkan di Sekolah Menengah Pertama merupakan latihan bagi siswa untuk  melakukan gerakan melompat dan mencapai jarak lompatan sejauh-jauhnya yang dimulai dengan gerakan lari sebagai awalan dalam melompat kemudian menolak pada papan tumpuan kemudian gerakan melayang di udara dan akhirnya mendarat pada titik terjauh ke dalam bakpasir yang sebagai media pendaratannya.

Upaya pencapaian jarak lompatan sejauh-jauhnya seorang siswa harus memiliki beberapa persyaratan tertentu misalnya kondisi fisik dan penguasaan teknik dalam lompat jauh. Menurut Purnomo dan Dapan (2011: 93) mengemukakan bahwa prestasi lompat jauh ditentukan oleh sebagian kecil parameter yang nyata berkaitan dengan kemampuan biomotorik yaitu kecepatan lari, akselerasi, kekuatan lompat, koordinasi lengan dengan kaki dan rasa (sense) irama.

Latihan yang diasumsikan baik untuk meningkatkan kemampuan lompat jauh adalah latihan lompat kijang. Bentuk latihan lompat kijang ini mampu meningkatkan kemampuan lompat jauh bagi peserta didik. Hal ini dapat dilihat darihasil observasi dan pengamatan pada siswa kelas VII SMPS Soegijapranata Mataloko yang diwajibkan mengikuti pembelajaran atletik. Salah satu nomor yang difokuskan dalam latihan adalah lompat jauh gaya jongkok karena merupakan salah satu gaya yang harus diajarkan untuk tingkat SMP sesuai dengan kurikulum yang ada.

 

METODE PENELITIAN

Penelitian ini dilaksanakan di SMP Soegijapranata Mataloko, selama 4 minggu , mulai dari tanggal 16 april sampai dengan 16 mey. Jenis  penelitian  yang  digunakan adalah penelitian eksperimen dengan rancangan The Static Pretest-Posttest  Design. Masing-masing kelompok yang terdiri dari 20 orang, dan semua kelompok diberikan tes awal. Penelitian ini dengan melakukan pelatihan terhadap kelompok eksperimen. Kepada tiap kelompok eksperimen dikenakan perlakuan tertentu dengan kondisi-kondisi yang dapat di kontrol. Dalam penelitian ini dua kelompok diberikan pelatihan bersamaan, dengan jenis pelatihan yang berbeda kemudian masing-masing kelompok diobservasi.

Dalam penelitian ini tes dilakukan sebanyak dua kali yaitu sebelum dan sesudah treatment. Perbedaan antara pretest dan posttest ini diasumsikan karena efek dari treatment atau perlakuan dari kelompok eksperimen.

Untuk memperoleh hasil eksperimen yang baik, harus disertakan dan dijelaskan mengenai validitas internal dan validitas eksternal penelitian. Validitas eksternal penelitian adalah validitas mengenai sejauh mana hasil penelitian dapat digeneralisasikan terhadap populasi.

Validitas internal penelitian adalah validitas yang menyangkut tingkat kualitas ketepatan pengendalian aspek fisik-psikologis pelaksanaan penelitian dan pemilihan berbagai instrumen dalam penelitian. Sejumlah ancaman terhadap validitas internal penelitian dan cara mengatasinya adalah sebagai berikut, (1) karakteristik subyek (biasa seleksi), yang disebabkan oleh umur, daya tahan, kecepatan, inteligensi, sikap, bahasa, etnis, kelancaran bicara, status sosial ekonomi, keyakinan. Untuk menghindari hal ini, peneliti sebaiknya sejak awal mengidentifikasi hal tersebut melalui kajian hasil-hasil penelitian yang relevan. Caranya adalah dengan mengontrol faktor-faktor penyebab biasa tersebut. (2) Hilangnya subyek (mortality).

Validitas eksternal penelitian adalah validitas yang menyangkut tingkat kerepresentatifan hasil penelitian untuk digeneralisasikan kepada populasinya. Jadi mencangkup luasan generalisasi dengan populasi subyek yang dikenakan maupun pada populasi obyeknya (variabel). Beberapa ancaman terhadap validitas eksternal adalah, (1) interaksi antara seleksi subyek dengan perlakuan, (2) interaksi setting dengan perlakuan, dan (3) interaksi sejarah dengan perlakuan.

Beberapa cara untuk mengatasi ancaman tersebut adalah sebagai berikut, (1) Melakukan randomisasi dalam penentuan sampel penelitian agar sampel representatif dan (2) Mengunakan teknik purposif yang telah ditentukan secara sengaja untuk memperoleh sampel yang homogen.

Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas: obyek atau subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono, 2011: 117).

Populasi pada penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VII SMP Soegijapranata tahun pelajaran 2018/2019. Sampel dalam penelitian ini sebanyak40 orang dari jumlah populasi 105 orang, sehingga jumlah sampel dalam penelitian ini sebanyak 2 kelompok yang berjumlah 20 orang perkelompok (Arikunto, 2008: 116). Uji kesetaraan kelas dilakukan dengan uji t; jika nilai t hitung uji t tidak signifikan, maka kedua kelas tersebut adalah setara. Teknik sampling yang digunakan untuk menentukan kelompok eksperimen dan kelompok kontrol, adalah random sampling terhadap kelas, dengan menggunakan teknik undian. Besarnya anggota sampel penelitian adalah sesuai dengan banyaknya siswa yang ada pada kedua kelas tersebut secara utuh (intac group).

Penelitian eksperimen ini menggunakan dua variabel, yaitu variabel bebas dan variabel terikat.Variabel bebas: latihan lompat kijang, Latihan lompat kijang yaitu variable perlakuan yang mempengaruhi lompat jauh (variable terikat).

Variabel terikat: hasil lompat jauh, yaitu kemampuan Siswa kelas VII SMP Soegijapranata Mataloko,dalam melakukan lompatan jauh pada bak lompat dan diukur jaraknya dengan sSatuan meter (m).

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Hasil Penelitian

Penelitian dilaksanakan di SMP Soegijapranata Mataloko, kecamatan golewa, Kabupaten Ngada selama 1 (satu) bulan. Subjek penelitian berjumlah 40 orang yang dibagi menjadi dua kelompok yaitu kelompok eksperimen dan kelompok kontrol, masing – masing kelompok berjumlah 20 orang. Sebelum diberikan latihan lompat kijang kedua kelompok diberikan tes awal (pre-test) lompat jauh gaya jongkok. Dari hasil tes awal yang yang diperoleh, maka sampel diberi latihan lompat kijang 3 x dalam 1 (satu) minggu sesuai dengan program latihan yang telah disusun oleh peneliti yaitu setiap hari selasa, kamis, dan jumat, sedangkan kelompok kontrol tidak diberikan latihan karena hanya sebagai pembanding. Untuk memperoleh hasil peningkatan latihan lompat kijang kedua kelompok diberikan tes akhir atau post-test. Sama pada saat tes awal yaitu tes lompat jauh gaya jongkok.

Tabel 1 Tabel Distribusi Frekuensi Gsn Kelompok Eksperimen

No Kelas Interval X F. Absolut F. Komulatif
1 0,258    – 0,361 0,310 2 2
2 0,362    – 0,464 0,413 2 4
3 0,465    – 0,568 0,517 10 14
4 0,569    – 0,672 0,620 4 18
5 0,673    – 0,775 0,724 1 19
6 0,776    – 0,879 0,828 1 20
å 20

 

 

Data hasil penelitian lompat jauh pada kelompok kontrol terdiri dari data pre-test dan post-test. Data pre-test diambil pada awal kegiatan penelitian yaitu sebelum sampel penelitian diberikan perlakuan, sedangkan data post-test diambil pada akhir kegiatan

 

Table 2 Tabel Distribusi Frekuensi Gsn Kelompok kontrol

No Kelas Interval X F. Absolut F. Komulatif
1 0,183   – 0,243 0,213 2 2
2 0,244   – 0,305 0,275 8 10
3 0,306   – 0,366 0,336 7 17
4 0,367   – 0,428 0,398 1 18
5 0,429   – 0,489 0,459 1 19
6 0,490   – 0,550 0,520 1 20
å       20

 

 

Uji normalitas data dilakukan untuk mengetahui apakah variable-variable dalam penelitian mempunyai sebaran data yang sama atau tidak. Perhitungan uji normalitas dalam penelitian ini menggunakan SPSS 16.0 for window. Dengan kriteria pengujiannya H1 di terima jika p-value (sig) < α=0.05 (5%) sebaliknya H1 p-value (sig) > α=0.05 (5%). Berikut hasil uji normalitas dengan menggunakan bantuan SPSS 16.0 for window.

 

 

Tabel 3 Uji Normalitas Sebaran Data

Tests of Normality
  Kelompok Kolmogorov-Smirnova Shapiro-Wilk
  Statistic Df Sig. Statistic Df Sig.
Hasil tes lompat jauh Eksperimen .154 20 .200* .931 20 .161
Control .156 20 .200* .954 20 .435
a. Lilliefors Significance Correction        
*. This is a lower bound of the true significance.      

 

 

Berdasarkan tabel di atas harga statistic Kolmogorov – Smirnov sama dengan untuk kelompok eksperimen = 0,154 dengan signifikansi 0,200*(lebih besar dari 0.05) sehingga nilai statistik Kolmogorosv-Smirnov tidak signifikan. Ini berarti sebaran data untuk kelompok eksperimen adalah normal. Demikian juga untuk kelompok kontrol nilai statistik Kolmogorov-Smirnov = 0,156 dengan signifigansi 0,200* (lebih besar dari 0.05) sehingga nilai statistik Kolmogorov-Smirnov tidak signifikan. Ini berarti sebaran data untuk kelompok eksperimen adalah normal.

Uji homogenitas data dilakukan terhadap data post-test dari data tes lompat jauh pada kelompok eksperimen latihan lompat kijang, dan kelompok kontrol yang menggunakan uji levene dengan bantuan SPSS 16.0 pada taraf signifikansi (α) 0,05. Kriteria pengambilan keputusan, yaitu jika nilai signifikasi yang diperoleh > α, maka variansi setiap sampel sama (homogen). Sedangkan, jika signifikansi yang diperoleh < α, maka variansi setiap sampel tidak sama (tidak homogen). Ringkasan hasil uji levene dengan bantuan SPSS 16,0 untuk uji homogenitas data dapat dilihat pada table.

 

Tabel. 4 Uji Homogenitas

Test of Homogeneity of Variance
    Levene Statistic df1 df2 Sig.
Hasil Tes Lompat Jauh Based on Mean 2.578 1 38 .117
Based on Median 2.538 1 38 .119
Based on Median and with adjusted df 2.538 1 29.328 .122
Based on trimmed mean 2.564 1 38 .118

Dari hasil uji homogenitas data yang menggunakan uji levene dengan bantuan SPSS 16.0, diperoleh nilai uji 2,578 dengan signifikansi 0,117 untuk variable lompat jauh. Jika nilai signifikansi yang diperoleh > α, maka variansi setiap sampel sama (homogen). Dengan demikian, nilai signifikansi 0,117  0,05, sehingga data yang di uji berasal dari data yang yang homogen atau varians kelompok eksperimen dan kelompok kontrol adalah data homogen.

Analisis hipotesis digunakan untuk mengetahui pengaruh latihan lompat kijang terhadap peningkatan lompat jauh gaya jongkok. Uji hipotesis diajukan dalam penelitian “Apakah ada pengaruh latihan lompat kijang terhadap kemampuan lompat jauh gaya jongkok pada siswa kelas V11 SMPS Soegijapranata Mataloko”. Maka hal ini dapat dianalisis dengan pengujian analisis varian dan rata – rata dengan menggunakan rumus uji t secara manual dan dinyatakan signifikan apa bila nilai t-hitung table dengantaraf sig > 0.05 memperoleh pola di hitung dengan menggunakan jenis kebenaran uji t.

 

Pembahasan

Hasil penelitian diatas menunjukan bahwa terdapat perbedaan antar kelompok eksperimen dan kelompok kontrol, hal ini disebabkan karena pemberian latihan yang sesuai dengan ketentuan “FITT” (frekuensi, intensitas, Tipe, dan Time). Frekwensi, intensitas dan tipe dalam latihan ini sudah memenuhi ketentuan yaitu 3 kali seminggu,intensitas 85% dari latihan maksimal dan tipe (latihan lompat kijang). Hasil tersebut menunjukan bahwa, teori – teori tentang lompat kijang dan kemampuan lompat jauh gaya jongkok yang digunakan untuk membangun hipotesis penelitian didukung oleh data empiris atau data lapangan yang dikumpulkan dari siswa SMP Soegijapranata Mataloko.

Disamping pengaruh lompat kijang terhadap kemampuan lompat jauh gaya jongkok, juga diduga ada beberapa variabel lain yang turut mempengaruhi kemampuan lompat jauh, misalnya; kesehatan organ secara fisiologis, kelembapan udara dan kebugaran jasmani. Sejauh mana kebenaran dugaan tersebut dapat diteliti lebih lanjut.

Keperluan oksigen dan zat makanan untuk otot bertambah besar pada saat latihan berlangsung dan secara reflek akan terjadi pengaliran darah seperti timbulnya kenaikan volume darah tiap menit dan bertambahnya jumlah darah mengalir ke otot-otot yang lebih aktif, sementara terjadi penurunan aliran darah kearah jaringan-jaringan yang kurang aktif, namun aliran darah ke daerah rawan seperti otak dan jantung sendiri, akan tetap meningkat (Nala, 2011).

Temuan hasil penelitian ini menunjukan bahwa pengaruh latihan lompat kijang terhadap kemampuan lompat jauh., maka latihan lompat kijang memiliki pengaruh baik terhadap peningkatan lompat jauh. Dari temuan diatas disarankan bagi pelatih atau guru olahraga dapat menggunakan latihan lompat kijang sebagai salah satu alternative dalam meningkatkan hasil lompat jauh.

Dengan latihan lompat kijang anak di tuntut untuk aktif menggerakkan anggota badan khususnya kaki, sehingga secara tidak langsung aktifitas yang secara terus menerus akan meningkatkan kekuatan otot kaki, sehingga dapat meningkatkan kemampuan untuk melakukan lompat jauh.Menurut Garry A. Carr, (1997:141) lompat kijang dapat dilakukan sambil bermain, dengan menyediakan kardus atau benda lainnya kemudian diletakkan berjajar dan memanjang pada lintasan sejauh 6 meter, pada setiap jarak 1 m kardus diletakkan sebagai rintangan dan diharuskan melompati rintangan berupa kardus sepanjang lintasan yang telah ditentukan jaraknya.

Latihan lompat kijang yang dilakukan oleh anak merupakan latihan yang berfungsi sebagai meningkatkan kekuatan otot kaki pada bagian tubuh, dengan meningkatnya kekuatan otot kaki tersebut maka secara tidak langsung power kekuatan pada kaki dapat meningkatkan daya lompatan pada siswa sehingga siswa dapat melakuakan lompat lebih jauh lagi.

Dengan demikian dapat diartikan latihan lompat kijang memberi efek terhadap kemampuan lompat jauh. Seperti yang telah diuraikan sebelumnya kekuatan otot kaki merupakan salah satu komponen fisik yang sangat pneting dalam mempengaruhi hasil lompat jauh. Pelaksanaan latihan lompat kijang dilakukan secara kontinyu dengan meningkatkan beban dalam setiap sesinya. Penambahan beban ini dilakukan sedikit demi sedikit pada set atau jumlah repetisi tertentu, otot belum merasa lelah. Penambahan demikian dinamakan prinsip penambahan beban secara progresif (M. Sajoto, 1988:42). Penambahan latihan lompat kijang dalam penelitian ini dilakukan pada set dan repetisi latihan, penningkatan tersebut berfungsi menambah kekuatan otot kaki  sehingga meningkatkan jauhnya lompatan.

Dengan ada peningkatan tersebut maka dapat diartikan latihan lompat kijang menjadi salah satu metode latihan yang efisien untuk meningkatkan kemampuan lompat jauh anak, yang terpenting adalah latihan yang terus menerus sesuai dengan prinsip latihan perlu adanya perencanaan program latihan dengan beban latihan dan frekuensi latihan sesuai dengan kemampuan kondisi fisik anak.

 

PENUTUP

Simpul

Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan maka dapat disimpulkan bahwa pelatihan lompat kijang, 3 kali seminggu selama 4 minggu berpengaruh terhadap kemampuan lompat jauh gaya jongkok pada siswa SMP Soegijapranata Mataloko, Kecamatan Golewa, Kabupaten Ngada-NTT. Hal ini dilihat dari uji statitik diperoleh nilai uji-t antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol pada latihan lompat kijang terhadap kemampuan lompat jauh gaya jongkok memiliki nilai thitung = 6,828 dengan nilai t tabel untuk db (20+20) – 2 = 38 adalah sebsar 2,042 pada taraf signifikan 5%. Dengan demikian thitung > ttabel (thitung = 6,828 > ttabel = 2,042). Jadi Ho ditolak dan H1 diterima. Berdasarkan temuan tersebut dapat disimpulkan, bahwa terdapat pengaruh yang signifikan latihan lompat kijang terdadap kemampuan lompat jauh. Dengan demikian disimpulkan bahwa latihan lompat kijang berpengaruh terhadap kemampuan lompat jauh gaya jongkok pada siswa kelas VII SMP Soegijapranata Mataloko.

Saran

Berdasarkan simpulan penelitian, disarankan beberapa hal yang berkaitan dengan peningkatan lompat jauh:

Untuk pembina, pelatih dan guru olahraga serta atlet yang ingin memperbaiki dan meningkatkan kemampuan lompat jauh, harus mengetahui bahwa yang perlu ditingkatkan adalah latihan yang sesuai dengan program latihan yang telah disusun.

DAFTAR PUSTAKA

Aip Syarifuddin, 1992. Atletik, (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan irektorat Jenderal Pendidikan Tinggi Proyek Pembinaan Tenaga Kependidikan. Jakarta.

Backer. 1993. Atletik Diperlukan Komponen Fisik Yang Mendukung Melalui Latihan Fisik.

Dahara, Prize. 1995. Garis Besar Program Pengajaran Sekolah Dasar. Jakarta: Depdikbud .

Depdikbud. 1995. Garis Besar Program Pengajaran Sekolah Dasar. Jakarta: Depdikbud

______.1997. Kurikulum 1994 dan Suplemennya Berdasarkan Sistem  Semester SD / MI 2002. Jakarta: Depdikbud.

Gerry A Carr. 1997. Atletik. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.

______. 2000. Komponen-komponen lompat jauh. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.

  1. Sajoto. 1995. Peningkatan dan Pembinaan Kekuatan Kondisi Fisik dalam Olahraga. Semarang : Dahara Prize.

______. 1988. Pembinaan Kondisi Fisik dalam Olahraga. Jakarta: Depdikbud.

Sugito, Bambang Widjanarko dan Ismaryati. (1993). Pendidikan Atletik. Jakarta

Suharno HP. 1986. Ilmu Kepelatihan Olahraga. Yogyakarta.

Tamsir Riyadi. 1985. Petunjuk Atletik. Yogyakarta.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *