PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF  TIPETHINK PAIR SHARE (TPS) UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR IPA PADA SISWA KELAS V SDKWEREKECAMATAN GOLEWAKABUPATEN NGADA TAHUN 2017/2018

Oliva Roa1, Pelipus Wungo Kaka 2, Melkior Wewe 3

1)Mahasiswa Program Studi PGSD, 2,3)Dosen STKIP Citra Bakti

Program Studi PGSD, STKIP Citra BaktiNgada

olivaroa@gmail.com

 

ABSTRAK

 

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peningkatan hasil belajar IPA melalui penerapan model pembelajaran kooperatif  TipeThink Pair Share (TPS) pada siswa/i Kelas V SDK Were  Tahun Pelajaran 2017/2018. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas. Desain Penelitian tindakan yang digunakan adalah desain penelitian tindakan model Kemis dan Taggart. Subjek penelitian adalah siswa/i kelas V SDK Were tahun ajaran 2017/2018  sebanyak 25 orang. Data hasil belajar dikumpulkan menggunakan tes tertulis untuk aspek kognitif.Data yang terkumpul dianalisis secara statistik deskriptif kuantitatif. Hasil penelitian setelah dianalisis diperoleh rata-rata nilai  hasil belajar siklus I  adalah 51% berada pada kategori Rendah dan rata-rata hasil penelitian terhadap hasil belajar pada siklus II adalah 80,28%, berada pada kategori sangat tinggi. Persentase peningkatan dari siklus I ke siklus II adalah 29,28 %. Secara klasikal hasil belajar pada siklus I berada pada kategori rendah dan pada siklus II berada pada kategori sangat tinggi.  Dengan adanya peningkatan dari  hasil analisis, membuktikan bahwa penerapan model pembelajaran koperatif tipe Think Pair Share (TPS) dapat meningkatkan hasil belajar IPA pada siswa/i kelas V SDK Were Tahun Pelajaran 2017/2018.

Kata-kata Kunci : Model Think Pair Share dan Hasil Belajar IPA

 

 

ABSTRACT

 

This research aimed at finding out the improvement of Natural Science learning achievement by using cooperative learning model type Think Pair Share of fifth grade students in SDK Were Golewa district Ngada regency in the school year 2017/2018. This research was classroom action research used the design developed by Kemmis and Taggart. The subject of this research was fifth grade students of SDK Were in the school year 2017/2018 totaled 25 students. The data of this research collected using written test for cognitive aspect. Data analyzed with statistic descriptive quantitatively. The result of research cycle I obtained the average of Natural Science learning achievement 51% being in low category and in cycle II obtained the average of Natural science learning achievement 80.28% being in very high category. The improvement percentage from cycle I to cycle II was 29.28%. Classically learning achievement on cycle I being in low category and on cycle II being in very high category. With the improvement from the result of analysis, proved that the application of cooperative learning model type Think Pair Share can increase Natural Science learning achievement of fifth grade students in SDK Were Golewa district Ngada regency in the school year 2017/2018.

Keywords: Cooperative Learning Model Type Think Pair Share, Natural Science Learning Achievemen

 

 

PENDAHULUAN

Pendidikan merupakan suatu kegiatan yang universal dalam kehidupan manusia,karena pendidikan akan tetap berlangsung kapan dan dimanapun. Hal ini karena, pendidikan pada hakikatnya merupakan proses untuk memanusiakan manusia itu sendiri. Walaupun pendidikan merupakan suatu gejala umum dalam setiap kehidupan masyarakat,ada perbedaan yang signifikan dalam penyelenggaraannya antara suatu bangsa, masyarakat, dan bahkan individu dengan yang lainnya. Dengan demikian, selain bersifat universal, pendidikan juga bersifat nasional. Sifat nasional ini akan mewarnai penyelenggaraan pendidikan suatu bangsa. Pendidikan merupakan suatu proses interaksi manusiawi antara pendidik dengan peserta didik untuk mencapai tujuan. Proses itu berlangsung dalam lingkungan tertentu dengan menggunakan berbagai macam tindakan yang disebut alat pendidikan.

Menurut Undang – Undang Republik Indonesia No. 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional menegaskan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara. Dalam hal ini, pendidikan diarahkan untuk pengembangan manusia indonesia seutuhnya ( fisik, mental, spiritual, moral, sosial) .

Pendidikan merupakan suatu proses pertumbuhan dan perkembangan, sebagai hasil interaksi individu dengan lingkungan sosial dan lingkungan fisik, berlangsung sepanjang hayat sejak manusia lahir. Warisan sosial merupakan bagian dari lingkungan masyarakat, merupakan alat bagi manusia untuk pengembangan manusia yang terbaik dan inteligen, untuk meningkatkan kesejahteraan hidupnya, Handerson (Uyoh, 2010).

Menurut Dhiu, (2012) Pendidikan merupakan suatu kegiatan yang universal dalam kehidupan manusia didunia ini karena pendidikan akan tetap berlangsung kapan dan dimanapun. Hal ini, karena pendidikan pada hakikatnya merupakan usaha manusia untuk memanusiakan manusia itu sendiri,yakni untuk membudayakan manusia.

Kondisi pendidikan di Indonesia saat ini, pada umumnya masih belum terlihat kemajuannya, akan tetapi di daerah-daerah tertentu sudah mulai nampak kemajuan dalam pendidikan disekolah. Masih banyak pendidik yang tidak begitu mendalami tugas sebagai pengajar sehingga peserta didik hanya mendapat sedikit ilmu dan kurang memahami konsep yang dipelajari.Mutu pendidikan diNTT pada saat ini masih rendah.Menurut Dion (2009) hal ini melahirkan penilaian bahwa mutu pendidikan diNTT paling rendah secara nasional.Hal tersebut dapat dilihat dalam hasil ujian nasional  (UN) tahun ajaran 2007/2008 menempatkan posisi Nusa Tenggara Timur di urutan ke-33. Menurut Kopong (Dion,2009) merosotnya mutu pendidikan diNTT bukan baru terjadi sekarang , melainkan sudah sejak era tahun 1970-an karena pada era 1960-an mutu pendidikan diNTT masih lebih baik.

Beberapa masalah biang merosotnya mutu pendidikan diNTT antara lain,  jumlah guru yang masih terbatas dan penyebaran guru yang belum merata. Guru-guru cenderung menumpuk disekolah-sekolah perkotaan,sedangkan di desa-desa sangat langkah.Hal ini terlihat dari salah satu kabupaten diNTT yaitu Kabupaten Ngada.Mutu pendidikan di kabupaten ini masih terlihat rendah. Rendahnya mutu pendidikan disebabkan oleh penggunaan model pembelajaran yang masih bersifat konvensional,karena sebagian pendidik disekolah-sekolah takut akan kegaduhan karena telah memberikan kesempatan siswa untuk beraktivitas lebih dari pada guru. Hal ini menjadi tolak ukur bagi guru, karena yang terpenting bukan hanya menyampaikan materi secara keseluruhan kepada siswa untuk beraktivitas sehingga siswa tidak jenuh berada didalam kelas. Masalah tersebut sering muncul pada proses pembelajaran pada mata pelajaran IPA. IPA sering menjadi momok yang menakutkan dikalangan siswa, karena siswa banyak beranggapan bahwa IPA merupakan pembelajaran yang bersifat hafalan.Keadaan seperti ini ditemui di SDK Were Kecamatan Golewa.

Berdasarkan observasi awal yang dilakukan terhadap proses belajar mengajar, terdapat sejumlah kendala untuk menciptakan kondisi interaktif dalam pembelajaran. Diantaranya hasil belajar siswa sangat rendah.Untuk mata pelajaran IPA disekolah dasar masih banyak menggunakan model pembelajaran yang bersifat konvensional atau sering menggunakan metode ceramah. Penerapan metode ini,belum memaksimalkan aktivitas dan interaksi siswa dalam proses belajar mengajar sehingga akan berdampak pada hasil belajar siswa. Oleh karena itu, dalam proses pembelajaran guru lebih dominan untuk berbicara menyampaikan materi sedangkan peserta didik memiliki sedikit kesempatan untuk beraktivitas. Dengan kebiasaan guru seperti ini akan membuat siswa tidak terlalu aktif dan nilai yang diperoleh siswa tidak mencapai KKM yang telah ditentukan. Di SDK Were pola dan pendekatan pembelajaran pada  mata pelajaran IPA berdampak bahwa rendahnya hasil belajar yang diperoleh siswa belum mencapai target yang sesuai dengan kurikulum. Terkait dengan kondisi di atas, maka sudah dapat dipastikan bahwa kualitas proses dan hasil belajar pembelajaran belum dapat dicapai secara maksimal.Untuk mengatasi hal ini, kita perlu mengimplementasikan model-model dalam mata pelajaran IPA sehingga siswa juga berperan aktif dalam kegiatan belajar mengajar disekolah.

Model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS) dapat meningkatkan hasil belajar IPA jika diterapkan dalam pembelajaran IPA pada siswa SD. Model ini lebih memprioritaskan kepada siswa untuk berpikir leluasa atau kritis

terhadap materi yang diberikan dalam bentuk kerja kelompok.Oleh karena itu, model ini sangat cocok untuk diterapkan dalam pembelajaran di SD khususnya pada pembelajaran IPA dengan harapan dapat menjadikan model ini sebagai pedoman pembelajaran di SD.

 

Adapun masalah lain yang ditemukan pada saat proses pembelajaran berlangsung adalah : (1) saat proses pembelajaran berlangsung siswa cenderung bermain-main dengan temannya tanpa memperhatikan penjelasan guru dan saat guru mengajukan pertanyaan siswa tidak dapat menjawab sehingga tercermin interaksi dalam kelas itu rendah, (2) kurangnya kerjasama antar siswa saat proses pembelajaran berlangsung. Hal ini, dapat menimbulkan egoisme pada diri siswa, (3) interaksi siswa dalam proses pembelajaran baik antara siswa dengan siswa, maupun siswa dengan guru, masih rendah. Hal ini dapat dilihat dari kurangnya kemauan siswa untuk mengajukan maupun menjawab pertanyaan dari guru yang bersangkutan, (4) sebagian besar siswa merasa bahwa mata pelajaran IPA cenderung membosankan karena didominasi oleh hafalan.

Penanganan masalah seperti yang diuraikan diatas, memerlukan suatu upaya kritis yang bertujuan untuk memperbaiki proses pembelajaran ke arah yang lebih baik. Salah satu upaya yang akan dilakukan adalah dengan menerapkan model pembelajaran yang berpusat pada siswa. Model pembelajaran yang dimaksud adalah  model pembelajaran Cooperative Teaching And Learning tipe Think Pair Share (TPS) yang dapat meningkatkan hasil belajar siswa terhadap mata pelajaran IPA. Model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS) yang didasarkan pada pembelajaran kooperatifdiharapkan dapat memberikan siswa waktu lebih banyak untuk berpikir, mengungkapkan pendapat yang saling membantu satu sama lain melalui tahap-tahap :Thinking (berpikir), Pairing (berpasangan), dan sharing(berbagi). Secara teori model pembelajaran TPS sangat cocok diterapkan dikelas yang memiliki akademik yang heterogenyang menunjukan adanya ketuntasan hasil belajar siswa.

 

KAJIAN LITERATUR

Pembelajaran kooperatif muncul dari konsep bahwa siswa akan lebih mudah menemukan dan memahami konsep yang sulit jika mereka saling berdiskusi dengan temannya. Siswa secara rutin bekerja dalam kelompok untuk saling membantu memecahkan masalah-masalah yang kompleks.Jadi, hakikat sosial dan penggunaan kelompok sejawat menjadi aspek utama dalam pembelajaran kooperatif. Menurut Slavin (dalam Wewe, 2014) dalam belajar kooperatif, siswa belajar dalam kelompok kecil yang bersifat heterogen dari segi gender, etnis dan kemampuan akademik untuk saling membantu satu sama lain dalam tujuan bersama. Dengan belajar dalam kelompok kecil maka siswa akan lebih berani mengungkapkan pendapatnya dan dapat menumbuhkan rasa sosial yang tinggi.

MenurutLaba(2015), Model pembelajaran kooperatif dikembangkan untuk mencapai setidaknya tiga tujuan penting, yaitu prestasi akademis, toleransi dan penerimaan terhadap keanekaragaman, serta pengembangan keterampilan sosial. Meskipun pembelajaran kooperatif mencakup beragam tujuan sosial, tetapi juga dimaksudkan untuk meningkatkan kinerja siswa dalam tugas tugas akademis yang penting.

Tujuan dibentuknya kelompok-kelompok tersebut adalah untuk memberikan kesempatan kepada semua siswa untuk dapat terlibat secara aktif  dalam proses berpikir  dan kegiatan belajar. Selama bekerja dalam kelompok, tugas anggota kelompok adalah mencapai ketuntasan materi yang disajikan oleh guru, dan saling membantu teman sekelompoknya untuk mencapai ketuntasan belajar.

Pembelajaran kooperatif adalah model pembelajaran yang dirancang untuk membelajarkan kecakapan akademik (academic skill), sekaligus keterampilan sosial ( social skill), termaksud interpersonal skill ( Riyanto, 2009:271).

Model pembelajaran kooperatif merupakan suatu model pembelajaran dimana siswa belajar dalam kelompok-kelompok kecil yang memiliki tingkat kemampuan berbeda. Menurut Rusman (2012:202), pembelajaran kooperatif (cooperative learning)merupakan bentuk pembelajaran dengan cara siswa belajar  dan bekerja dalam kelompok-kelompok kecil secara kolaboratif yang anggotanya terdiri dari 4-6 orang dengan struktur kelompok yang bersifat heterogen. Menurut Nurulhayati (dalam Rusman, 2012:203), pembelajaran kooperatif adalah strategi pembelajaran yang melibatkan partisipasi siswa dalam satu kelompok kecil untuk saling berinteraksi. Tom Savage (dalam Rusman, 2012:203) mengemukakan bahwa cooperative learning adalah suatu pendekatan yang menekankan kerja sama dalam kelompok.

Dari beberapa pendapat diatas, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran kooperatif adalah model pembelajaran dengan cara bekerja sama dalam kelompok kecil atau tim yang terdiri dari empat sampai enam orang secara kolaboratif untuk saling membantu dalam belajar atau dalam menyelesaikan tugas dan bertanggung jawab atas pembelajarannya untuk mencapai tujuan kelompok.

 

METODE PENELITIAN

Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Research), merupakan sebuah jenis penelitian tindakan yang diberikan oleh guru kepada peserta didik untuk menyelesaikan dan meningkatkan kemampuan belajar peserta didik. Artinya, penelitian tindakan kelas menjadi solusi untuk memecahkan masalah pembelajaran didalam kelas.Oleh karena itu, guru mesti secara sadar sungguh memahami tingkat perkembangan anak, memahami tingkat ketercapaian setiap peserta didik dan memahami masalah yang terjadi sehingga pencegahan yang diberikan guru atau fasilitas pembelajaran tidak salah arah.

Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK)yang menggunakan model penelitian Kemis dan Taggart (Kusuma dan Dwitagama, 2010).Model Mc Taggart ini terdiri dari empat komponen yang berurutan yaitu perencanaan, tindakan, pengamatan dan refleksi, yang dalam pelaksanaan dan pengamatannya dilakukan secara bersamaan. Artinya pengamatan dilakukan pada saat proses pembelajaran.

 

Bagan desain penelitian menurut Kemis dan Taggart

Desain PenelitianModel Robert Kemis dan Mc Taggart

(Kusuma dan Dwitagama,2010)

  • Plan (Perencanaan), langkah-langkah yang perlu dipersiapkan yaitu berupa instrumen dan perangkat pembelajaran.
  • Act dan Observe (Pelaksanaan dan Observasi), melaksanakan pembelajaran yang telah direncanakan dan mengobservasi, mengamati kemampuan siswa dalam memahami permasalahan serta mengevaluasi hasil belajar yang telah direncanakan.
  • Reflect (Refleksi), mengukur tingkat ketercapaian yang berbentuk proses maupun hasil tindakan yang digunakan pada dasar perencanaan dan pelaksanaan berikutnya.

 

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Hasil penelitian

Dalam proses pembelajaran yang telah dilaksanakan  dapat terlihat  hasil belajar IPA pada siklus I tampak bahwa peserta didik yang mendapat nilai dengan kategori sangat baik antara 70-100 tidak ada. Peserta didik yang mendapat nilai 70  sebanyak 5 orang, peserta didik yang memperoleh nilai 50-60 sebanyak 11 orang, peserta didik yang memperoleh nilai 20-40 sebanyak 9 orang.  Jadi rata-rata hasil belajar siswa pada siklus I secara klasikal yaitu 50 dan berada pada kategori rendah, sedangkan KKM yang ditentukan dari SDK Were 70,  siswa dikatakan berhasil apabila secara individu atau klasikal sudah mencapai atau melebih  KKM yaitu 70. Dari hasil belajar yang diperoleh, ternyata masih banyak siswa yang nilainya belum mencapai KKM.Rendahnya hasil belajar IPA, disebabkan oleh beberapa kendala yang ditemukan selama proses pembelajaran berlangsung. Adapun kendala-kendala atau permasalahan yang ditemukan  adalah sebagai berikut: (1) Masih banyak siswa yang masih sulit dalam memahami materi. Hal ini disebabkan karena siswa tidak mendengarkan dengan sungguh-sungguh penjelasan dari peneliti. (2) Sebagian siswa ada asik dengan kegiatannya. (3) Siswa lebih aktif bermain dari pada memperhatikan materi yang disampaikan. (4)siswa kurang berani  dan malu untuk bertanya.Dilihat dari hasil belajar IPA dan beberapa kendala yang ditemukan, penelitipun merefleksikanpembelajaran berdasarkan kriteria penilaian sehingga apa yang menjadi kelemahan atau kekurangan dapat dicari solusinya agar penelitian berikutnya dapat diperbaiki dan yang menjadi kemajuan atau kelebihan dapat dipertahankan.

Hal-hal yang harus diperhatikan pada penelitian berikut adalah sebagai berikut.  (1) MenginformasikanKD, indikator dan tujuan pembelajaran  itusangat diperlukan sehingga siswapun mengetahuinya. (2) Mengaitkan pembelajaran dengan pengetahuan awal perlu dipertajam sehingga terdapat kesinambungan materi. (3) Peneliti  perlu lebih banyak berkomunikasi, sehingga siswa tidak merasa bosan dengan materi yang disampaikan. (4) Peneliti  harus lebih banyak kreatif dalam memberikan materi. (5) Peneliti harus memperhatikan bahasa yang digunakan. (6) Siswa harus lebih termotivasi agar lebih semangat dan antusias serta aktif dan kreatif dalam proses pembelajaran.

Solusi yang ditempuh oleh peneliti dalam mengatasi permasalahan diatas adalah profesional guru dalam mengatur pembelajaran dan adanya kreatifitas guru dalam memberikan umpan balik sehingga komunikasi pembelajaran dapat berjalan dengan lancar.

Setelah melakukan pembelajaran pada siklus II guru melakukan refleksi. Hasil refleksi pada siklus II adalah sebagai berikut: dari data hasil belajar IPA pada siklus II mengalami perubahan yang sangat baik sehingga mampu mencapai KKM yang di tentukan dengan rata-rata nilai yang diperoleh 80,28. Dengan meningkatnya hasil belajar IPA tersebut, maka penelitian ini berhenti di siklus II dan tidak dilanjutkan ke siklus yang berikutnya yaitu siklus III.

Hasil belajar siswa pada siklus II, dapat dilihat bahwa hasil belajar siswa sudah meningkat dan mencapai KKM yang ditetapkan yaitu 70 dengan kategori baik dengan keterangan sangat baik. Hasil belajar IPA menunjukan nilai rata-rata 80,28 dan ketuntasan klasikalnya adalah 88%. Dengan demikian, dari 25 orang siswa, 22 orang berhasil mencapai ketuntasan belajar atau mencapai kriteria baik dan 3 orang lainnya masih belum mencapai KKM yang ditentukan.

Dari hasil yang didapatkan berdasarkan pencapaian target evaluasi hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPA dengan hasil yang dicapai 80,28% dan telah mencapai target yang yang sudah ditentukan, maka hasil belajar yang diperoleh dapat dijadikan sebagai pedoman untuk mengambil suatu keputusan bahwa penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilaksanakan dapat diberhentikan pada siklus ini.

Dilihat dari pelaksanaan pada saat proses pembelajaran berlangsung pada siklus II telah Nampak adanya peningkatan hasil belajar IPA. Adapun temuan-temuan dalam pelaksanaan pembelajaran siklus II adalah sebagai berikut: (1) secara umum proses pembelajaran telah berjalan dengan baik dan sesuai dengan rencana pelaksanaan pembelajaran yang telah disusun dengan mengaitkan permasalahan maupun pertanyaan yang berhubungan dengan kehidupan sehari-hari. Kondisi pembelajaran yang kondusif membuat siswa mampu bekerja sama dengan pasangannya dalam kelompok untuk mampu memecahkan masalah yang berkaitan dengan materi yang diberikan, serta siswa terlibat aktif dalam memberikan tanggapan ataupun pertanggungjawaban atas tugas yang diberikan oleh guru. (2) siswa sangat antusias pada saat pembelajaran berlangsung karena telah diberikan motivasi oleh guru. (3) siswa mampu memberikan ide maupun gagasan yang baik sehingga pengetahuan yang dimilikinya dapat berkembang.

Pembahasan

Penelitian ini berjudul ‘Penerapan model kooperatif tipe Think Pair Share (TPS) untuk meningkatkan hasil belajar IPA pada siswa Kelas V SDK Were Kecamatan Golewa Kabupaten Ngada Tahun Ajaran 2018/2019. Penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (PTK) yang dilakukan dalam dua siklus. Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 16 April  sampai dengan 16  Mei 2018. Pada siklus pertama dilakukan dalam 2 kali pertemuan.  Sedangkan siklus II dilakukan dalam 2  kali pertemuan. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas V SDK Were Tahun ajaran 2017/2018 yang berjumlah 25 orang.

Rekapan Hasil Belajar IPA Siklus I dan Siklus II

Hasil Sikus I Sikus II
     
Rata-rata 51 80,28
Persentase hasil belajar IPA 51% 80,28%
Ketuntasan klasial 20% 88%
Siswa yang tuntas 5 Orang 22 Orang

 

Berdasarkan hasil analisis yang diperoleh pada siklus I, bahwa persentasi hasil belajar siswa  51% berada pada kategori  rendah. Dan ketuntasan klasikal 20% berada padakategori sangat rendah. Hasil yang peroleh belum mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal yang ditentukan oleh SDK Were. Berdasarkan hasil refleksi ada beberapa kendala atau kesulliatan yang ditemukan dalam pelaksanaan siklus I seperti  (1) kurang keberanian siswa unuk bertanya kepada guru maupun kepada teman sebangku, (2) keaktifan siswa dalam pembelajaran masih terlihat pasif, (3) siswa kurang aktif dan kurang bekerja sama dalam kelompok diskusi mengenai masalah yang ditemukan dalam proses pembelajaran,(4) siswa belum berani mengemukakan pendapat mengenai materi ajar yang diberikan guru. (5) siswa masih terlihat bingung karena belum terbiasa dengan model yang diterapkan. Hal ini terjadi karenaselama ini mereka belum terbiasa dengan model pembelajaran yang diterapkan yaitu mereka lebih banyak belajar secara konvensional yaitu belajar hanya dengan mendengarkan penjelasan dari guru dan mengerjakan latihan-latihan yang diberikan oleh guru, (6) dalam diskusi kelompok masih terlihat siswa yang enggan untuk berdiskusi dengan teman sekelompoknya saat menjawab permasalahan yang ada dalam LKS.Beberapa kelompok yang mempunyai kemampuan akademik karena masih bekerja sendiri-sendiri tanpa mau berdiskusi dalam menyelesaikan permasalahan yang ada dalam LKS, (7) masih banyak anggota kelompok yang kurang disiplin dalam mengerjakan LKS.Hal ini terlihat 1 atau 2 atau dua orang saja yang bekerja dalam menyelesaikan LKS, akibatnya alokasi waktu pengerjaan LKS melebihi waktu yang ditentukan. (8) dalam kegiatan diskusi antar kelompok hanya beberapa orang saja yang terlihat antusias untuk mengajukan pertanyaan maupun pendapat. Siswa masih malu dan kurang berani dalam mengajukan pertanyaan yang berkaitan dengan materi yang telah dibahas. (9) sebagian besar siswa belum terbiasa menyimpulkan konsep-konsep yang telah dipelajari.Hasil yang diperoleh selain disebabkan oleh faktor siswa juga disebabkan oleh faktor peneliti seperti kurangnya penguasaaan kelas, perhatian peneliti ke siswa belum menyebar secara menyeluruh. Guru kurang memberikan motivasi belajar ke pada siswa.

Berdasarkan kesulitandan kendalayang terjadi pada siklus I diperlukan suatu perbaikan – perbaikan yang dakan diterapkan pada siklus II.Bentuk-bentuk perbaikan seperti  kendala-kendala atau permasalahan yang terjadi pada proses pelaksanaan siklus I ini didiskusikan dengan baik sehingga dalam kegiatan refleksi akan dicarikan solusinya. Beberapa solusi  yang tepat untuk mengatasi kendala-kendala tersebut antara lain: (1) mensosialisasikan model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share  (TPS) kepada siswa sebelum pembelajaran dimulai. (2) berjalan keliling serta mengamati kerja kelompok dan memberikan motivasi kepada setiap kelompok tentang pentingnya kerja sama dan kekompakan dalam kelompok tersebut. (3) memberikan teguran atau peringatan kepada anggota kelompok yang tidak serius dalam mengerjakan LKS yang telah diberikan guru. (4) menuntun atau mendampingi siswa dalam kelompok agar proses diskusi berjalan dengan baik. (5) mengarahkan siswa dalam membuat simpulan dengan menyimpulkan konsep-konsep yang sudah dipelajari bersama.

Berdasarkan implementasi rancangan pada siklus II yang merupakan perbaikan tindakan pada siklus I, memberikan peningkatan yang signifikan.Dari hasil belajar siswa pada siklus II diperoleh persentase rata-rata hasil belajar 80,28% berada pada ketgori sangat  baik dan ketuntasan klasikal 88% dengan kategori sangat baik. Hasil yang diperoleh pada siklus II mengalami peningkatan yang signifikan. Peningkatan rata-rata pesentase hasil belajar IPA dari siklus I ke Siklus II 29,28%.

Hasil yang diperoleh pada siklus II sangat memuaskan, hal ini menunjukan bahwa penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share(TPS) dapat meningkatkan hasil belajar IPA karena dengan memberikan waktu kepada siswa untuk berpikir tentang masalah yang berkaitan dengan materi yang diberikan, duduk berpasangan dengan membentuk kelompok yang terdiri dari 4-5 orang secara heterogen saling berdiskusi dan mengungkapkan pendapat tentang masalah yang berkaitan dengan materi yang diberikan, dan siswa berbagi, yaitu siswa berbagi dengan kelompok lain serta masing-masing kelompok mempresentasikan hasil diskusi kelompoknya. Selain untuk memperoleh hasil yang maksimal dalam proses pembelajaran, model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share(TPS) ini juga diterapkan untuk mendorong siswa dalam membangun pengetahuannya sendiri dengan cara berpikir tentang suatu masalah yang diberikan, sehingga siswa tersebut mampu mengetahui masalah atau pengetahuan yang akan diberikan oleh gurunya.Ketuntasan klasikal pada siklus II adalah 88% belum mencapai 100%. Hasil ini disebabkan karena ada 3 orang siswa nilai yang diperoleh masih rendah dari KKM yang ditentukan oleh SDK Were. Hal ini dibebabkan karena siswa yang bersangkutan jarang masuk sekolah dan salah satu dari siswa tersebut mengalami gannguan pendengaran sehingga hasil yang di peroleh tidak mencapai KKM.

 

Dari hasil secara keseluruhan bahwa terjadinya peningkatan baik secara persentase hasil belajar IPA maupun secara ketuntasan klasikal.Terjadinya peningkatan persentase hasil belajar IPA dan ketuntasan klasikal disebakan karena dalam proses pembelajaran, siswa belajar dalam kelompok kecil yang bersifat heterogen dan saling membantu sehingga tujuan belajar dapat tercapai oleh semua siswa.Menurut Slavin ( dalam Wewe, 2014) dalam belajar kooperatif, siswa belajar dalam kelompok kecil yang bersifat heterogen dari segi gender, etnis dan kemampuan akademik untuk saling membantu satu sama lain dalam tujuan bersama. Dengan belajar dalam kelompok kecil maka siswa akan lebih berani mengungkapkan pendapatnya dan dapat menumbuhkan rasa sosial yang tinggi.

Peningkatan hasil belajar IPA pada siswa kelas V di SDK Were melalui penerapan model pembelajaran  kooperatif tipe Think Pair Sharesecara empiris didukung  penelitian-penelitian sebelumnya seperti penelitian yang dilakukan oleh  Permatasari Shella, dengan judul penerapan model pembelajaran kooperatif Think Pair Share untuk meningkatkan hasil belajar IPA materi sumber daya alam pada siswa kelas V SD Negeri Bangkok 01 Kabupaten Tegal. Hasil penelitian adalah terjadi peningkatan hasil belajar siswa kelas V SD Negeri Bongkok 01 Kecamatan Kramat Kabupaten Tegal melalui penerapan model pembelajaran kooperatif Think Pair Share pada mata pelajaran IPA materi sumber daya alam.

Selanjutnya Penelitian yang dilakukan oleh Lisdianto yang berjudul “Penerapan model pembelajaran kooperatif tipeThink Pair Share (TPS) untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar IPA pada siswa IV SDN Gohong-2 Kecamatan Kahayan Hilir Kabupaten Pulang Pisau. Dari hasil penelitian disimpulkan bahwa aktivitas peserta didik setelah menggunakan metode Think Pair Share (TPS) terlihat mengalami perkembangan yang lebih baik dan aktif dalam pembelajaran IPA, dimana 40% peserta didik sangat antusias dan semakin rajin dalam proses pembelajaran, terutama saat pembelajaran IPA. Hasil belajar peserta didik setelah menggunakan metode Think Pair Share menunjukkan peningkatan dimana 96% dari peserta didik tuntas dengan rata-rata belajar sebesar 77,62. Artinya dengan menggunakan metode Think Pair Share dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik dalam pelajaran IPA.

Dari hasil  kajian secara teoretis dan empiris membuktikan  penerapan  model pembelajaran tipe Think Pair Share(TPS) dapat meningkatkan hasil belajar IPA pada siswa kelas V SDK Were Tahun Ajaran 2017/2018.

SIMPULAN DAN SARAN

Simpulan

Berdasarkan hasil penellitian dan pembahasan disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS) dalam pembelajaran IPA dapat meningkatkan hasil belajar IPA pada siswa kelas V SDK Were tahun ajaran 2017/2018. Hal ini dilihat dari perolehan nilai rata-rata hasil belajar IPA pada siklus I 51 denganpersentase 51% dan ketuntasan klasikalnya 20% berada pada kategori  rendah sedangkanperolehan nilai rata-rata hasil belajar IPA pada siklus II 80,28 dengan persentase 80,28%  dan ketuntasan klasikalnya 88% berada pada kategori sangat baik. Peningkatan persentase nilai rata-rata hasil belajar IPAsiklus I dan  siklus II adalah 29,28%.

Saran

Berdasarkan kesimpulan diatas, dalam penerapan model pembelajaran Think Pair Share (TPS) terhadap mata pelajaran IPA maka penulis menyarankan beberapa hal sebagai berikut: (1)Untuk  Sekolah, Sekolah hendaknya menyiapkan sarana dan prasarana serta fasilitas pendukung lainnya agar dapat melakukan proses pembelajaran dalam meningkatkan kualitas dan kompetensi guru sesuai dengan bidangnya masing-masing.

(2) Untuk guru, Hasil penelitian ini kiranya dapat barmanfaat bagi guru sebagai salah satu cara untuk memperbaiki pola pembelajaran dari guru sebagai sumber belajar, guru sebagai fasilitator dalam proses pembelajaran dikelas. Model merupakan salah satu komponen proses belajar mengajar yang memiliki peranan sangat penting yaitu membuat beberapa prinsip yang mengutamakan kerja sama antar kelompok dalam menunjang keberhasilan proses belajar mengajar. Dari hasil penelitian, guru diharapkan lebih banyak menggunakan model pembelajaran dalam pembelajaran dikelas sesuai dengan materi atau topik yang akan diajarkan.(3) Untuk peserta didik, Dengan adanya penerapan model pembelajaran koooperatif tipe Think Pair Share (TPS) peserta didik mampu memahami pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS), peserta didik diharapkan lebih berperan aktif dalam kegiatan belajar mengajar.

(4) Untuk peneliti, Peneliti sebagai mahasiswa yang mengambil pendidikan keguruan setelah mempelajari teori bidang-bidang ilmu keguruan kemudian memperhatikan pada lembaga pendidikan dengan menerapkan metode pengajaran yang baru untuk meningkatkan kreativitas belajar peserta didik.

DAFTAR PUSTAKA

Agung. 2005. Metodologi Penelitian Pendidikan. Singaraja: Undiksha Singaraja

Anitah.2007. Penelitian Hasil Belajar. Bandung: PT Reramja Rosdakarya.

Dasna, I Wayan, Laksana, Dek Ngurah Laba, Sudasna, Gde Wawan. 2015.Desain dan Model Pembelajaran Inovatif dan Interaktif, Tangerang.Universitas Terbuka

Dhiu, Margaretha.2012: Pengantar Pendidikan: Kupang: Nusa Indah

Gregorius We’u. 2015. Penelitian Tindakan Kelas. Ende: Nusa Indah

Hasbullah, 2005.Dasar – Dasar Imu Pendidikan: Jakarta: PT Raja Grafindo Persada)

Itu, Bergita. 2016. Upaya meningkatkan hasil belajar IPA dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS) pada siswa kelas V SDI Rutosoro Kecamatan Golewa Kabupaten Ngada. (tidak diterbitkan).

Koyan, I Wayan. 2012. Statistik Pendidikan Teknik Analisis Data Kuantitatif. Bali: Undiksha.

Kusumah, Wijaya dan Dwitagama, Dedi. 2010. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: PT Indeks.

Lisdianto. 2013. Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS) untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar IPA pada siswa Kelas IV SDN Gohong02 Kecamatan Kahayan Hilir Kabupaten Pulang Pisau.Skripsi (tidak diterbitkan)Malang :Universitas Negeri Malang

Putra, Dion. 2009.Menemukan masalah pendidikan diNTT. http:/www.dionbata.com/2009/03/menemukan-masalah-pendidikan-di-ntt-1.html?m=1.diunduh pada tanggal 26 februari 2018

Rusman. 2012. Model-model Pembelajaran. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.

Sadulloh, Uyoh.2010. Pedagogik Ilmu Mendidik.Bandung:Alfabeta CV.

Shella, permatasari. 2013. Penerapan model pembelajaran Kooperatif Think Pair Share untuk meningkatkan hasil belajar IPA materi sumber daya alam pada siswa kelas V SD Negeri Bongkok 01 Kabupaten Tegal. Semarang: Universitas Negeri Semarang (tidak diterbitkan).

Sudjiono, Anas. 2009. Pengantar Evaluasi Pendidikan. Jakarta:PT Raja GrafindoPersada.

Trianto. 2012. Model Pembelajaran Terpadu. Jakarta: Bumi Aksara

  1. Model-Model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktivisme. Surabaya: Prestasi Pustaka

            2010.Model pembelajaran terpadu. Jakarta:bumi aksara

Undang-undang Republik Indonesia tahun 2003 tentang system pendidikan nasional. 2003. Jakarta: Depdiknas

Wewe, Melkior. 2014. Pengaruh pembelajaran kooperatif tipe STAD terhadap hasil belajar matematika pada pokok bahasan system persamaan linear dua variabel di kelas VIII SMP Negeri 4 Bajawa Tahun Pelajaran 2013/2014. Jurnal.Ilmiah pendidikan Citra Bakti Vol.1 No. 01. 2014.

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *