PENERAPAN MODEL KOOPERATIF TIPE THINK PAIR SHARE(TPS) UNTUKMENINGKATKAN HASIL BELAJAR IPS PADA SISWA KELAS V SDI MALANUZAKECAMATAN GOLEWAKABUPATEN NGADA TAHUN AJARAN  2017/2018

Natalia Manggo¹,Ermelinda Yosefa Awe², Marsianus Meka³

¹) Mahasiswa Program  Studi PGSD, ²,³) Dosen STKIP Citra Bakti

Program Studi PGSD, STKIP Citra Bakti

telynmanggo@gmail.com

 

ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peningkatan hasil belajar IPS dengan menggunakan model Think Pair Share (TPS) pada siswa kelas V SDI Malanuza Kecamatan Golewa Kabupaten Ngada Tahun Ajaran 2017/2018. Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK), dengan menggunakan model penelitian yang dikembangkan oleh Kemmis dan Mc.Taggart yang terdiri dari tiga tahap yaitu perencanaan, tindakan dan observasi dan refleksi. Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas V SDI Malanuza yang berjumlah 22 orang yang terdiri dari 8  siswa laki-laki dan 14 siswa perempuan. Hasil penelitian tindakan siklus I diperoleh rata-rata hasil belajar IPS 60.45 dengan presentase 60.45% berada pada kategori rendah dan ketuntasan klasikal 9.09%.Pada tindakan siklus II diperoleh rata-rata hasil belajar IPS 85.86  dengan presentase 85.86% berada pada kategori tinggi dan ketuntasan klasikal 86.36%. Hasil analisis data pada kegiatan siklus II telah memenuhi KKM yang telah ditentukan.Dilihat dari data hasil belajar IPS siswa pada siklus I dan siklus II mengalami peningkatan sebesar 25.41%.

Kata-kata kunci: Hasil Belajar IPS, Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Think Pair Share (TPS)

ABSTRACT

This study aims to determine the improvement of social studies learning outcomes by using Think Pair Share (TPS) models for fifth grade students of SDI Malanuza, Golewa District, Ngada District, Academic Year 2017/2018. This research is a Classroom Action Research (CAR), using a research model developed by Kemmis and McTaggart which consists of three stages, namely planning, action and observation and reflection. Subjects in this study were SDI Malanuza grade V students totaling 22 people consisting of 8 male students and 14 female students. The results of the first cycle action research obtained an average of 60.45 IPS learning outcomes with a percentage of 60.45% in the low category and classical completeness 9.09%. In the second cycle action obtained an average of 85.86 IPS learning outcomes with a percentage of 85.86% in the high category and 86.36% classical completeness. The results of data analysis in cycle II activities have met the determined KKM. Judging from the data of social studies learning outcomes, students in the first cycle and second cycle increased by 25.41%.

Key words: Social Studies Learning Outcomes, Application of Cooperative Learning Models Type Think Pair Share (TPS)

 

PENDAHULUAN

Pendidikan memberikan kontribusi yang sangat besar terhadap kemajuan suatu bangsa dan sebagai wahana dalam membangun watak bangsa (nation character building).Masyarakat yang cerdas memberi nuansa kehidupan yang cerdas.Seiring dengan perkembangan dunia dewasa ini, kita dihadapkan pada berbagai tantangan yang diakibatkan oleh perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin hari semakin pesat.Tantangan tersebut menuntut adanya berbagai perubahan dalam berbagai bidang khususnya bidang pendidikan.

Masalah pendidikan seringkali menjadi topik yang hangat dibicarakan baik dikalangan masyarakat luas maupun dikalangan ahli-ahli pendidikan.Salah satu permasalahan pendidikan yang dihadapi oleh bangsa Indonesia adalah rendahnya mutu pendidikan di Indonesia, Pemerataan pendidikan khususnya pendidikan dasar dan menengah. Guru dalam proses belajar mengajar harus memiliki kompetensi tersendiri guna mencapai harapan yang dicita-citakan dalam melaksanakan pendidikan pada umumnya dan proses belajar mengajar pada khususnya. Untuk memiliki kompetensi tersebut guru perlu membina dan mengembangkan kemampuan peserta didik secara professional di dalam proses belajar mengajar. Tugas guru paling utama adalah memberi kemudahan belajar kepada peserta didik sehingga bangkit rasa ingin tahunya dan terjadilah proses belajar mengajar yang tenang dan menyenangkan. Disinilah peran guru sebagai fasilitator, motivator dan pemberi inspirasi.

Guru bukan hanya sekedar penyampaian materi saja, tetapi lebih dari itu guru dapat dikatakan sebagai sentral pembelajaran. Sebagai pengatur sekaligus pelaku dalam proses belajar mengajar, gurulah yang mengarahkan bagaimana proses belajar mengajar itu dilaksanakan. Karena itu guru harus dapat membuat suatu pengajaran menjadi lebih efektif juga menarik sehingga bahan pelajaran yang disampaikan akan membuat siswa merasa senang dan merasa perlu untuk mempelajari bahan pelajaran tersebut. Dengan demikianperanan guru sangat menentukan dalam usaha peningkatan mutu pendidikan formal. Untuk itu guru sebagai agen pembelajaran dituntut untuk mampu menyelenggarakanprosespembelajaran dengan sebaik-baiknya, dalam kerangka pembangunan pendidikan. Karena guru mempunyai fungsi dan peran yang sangat strategis dalam pembangunan bidang pendidikan, maka profesi guru perlu dikembangkan sebagai profesi yang bermartabat  (dalam Awe Yosefa 2014: 2).

Proses pembelajaran dalam kelas merupakan faktor yang sangat penting dalam menentukan hasil belajar yang dicapai oleh siswa dalam kegiatan pembelajaran. Untuk dapat mencapai hasil belajar yang optimal guru diharapkan mampu menerapkan strategi yang tepat yakni dengan menerapkan metode, model dan media yang sesuai dengan materi pembelajaran. Namun pada kenyataannya guru masih menggunakan metode ceramah dan menggunakan model pembelajaran yang biasa yang menyebabkan proses pembelajaran bersifat monoton. Hal-hal tersebut sangat dibutuhkan oleh guru dalam mengelolah pembelajaran salah satu mata pelajaran di sekolah dasar adalah mata pelajaran IPS.Mata pelajaran IPS merupakan bidang studi yang mempelajari, menelaah, menganalisis gejala dan masalah sosial di masyarakat dengan meninjau dari berbagai aspek kehidupan atau satu perpaduan.Dengan kondisi ini sangat diperlukan ketrampilan, strategi sehingga mata pelajaran dapat tercapai.

Berdasarkan hasil pengamatan pada saat melakukan observasi awal penelitian pada tanggal 13 Maret 2018 ditemukan hasil belajar IPS belum mencapai KKM sementara dalam mencapai KKM hasil belajar IPS harus mencapai 76% sedangkan  pada nilai rapor  yang di peroleh siswa 68% dengan keadaan seperti ini hasil belajar siswa belum mencapai KKM sedangkan KKM yang di tetapkan di sekolah adalah 76%  jika hasil belajar IPS  siswa  68% maka hasil belajar IPS siswa belum nyatakan tuntas atau lulus, hal ini di akibatkan karena guru masih menggunakan metode ceramah dan strategi yang belum tepat untuk membangkitkan minat siswa terhadap mata pelajaran IPS sehingga berpengaruh pada rendahnya hasil belajar IPS.

Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasi permasalahan di atas adalah dengan menerapkan model kooperatif tipe Think Pair Share (TPS) dapat memberikan kemudahan pemahaman kepada siswa dalam belajar bermakna bagi siwa sehingga nantinya dapat meningkatkan hasil belajar IPS.  Model kooperatif tipe Think Pair Share (TPS) tersebut dipilih karena dalam pembelajaran IPS guru sering menggunakan metode ceramah. Model pembelajaran kooperatif tipe                     Think Pair Share (TPS) merupakan model pembelajaran yang memberi siswa  lebih banyak waktu untuk berpikir, merespon serta saling bantu untuk bekerjasama dengan siswa lain sehingga dapat mengoptimalkan kegiatan suatu pembelajaran dengan fariasi pola kelas.

Keunggulan dari model kooperatif tipeThink Pair Share (TPS) adalah sebagai berikut:                     (1) meningkatkan kemandirian siswa, (2) meningkatkan partisipasi siswa untuk menyumbangkan pemikiran karena merasa leluasa dalam mengungkapkan pendapatnya, (3) membentuk kelompoknya lebih muda dan lebih cepat, dan            (4) melatih kecepatan berpikir siswa.

Berdasarkan keunggulan dari model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS) di atas di harapkan dapat memperbaiki hasil belajar IPS sehingga dapat mengatasi rendahnya hasil belajar IPS pada siswa kelas V SDI Malanuza

 

KAJIAN LITERATUR

 

Abdillda, dkk (Anitha Sri.dkk, 2009: 13) belajar merupakan proses perubahan tingkah laku yang diperoleh melalui latihan dan perubahan itu disebabkan ada dukungan dari lingkungan yang positif yang menyebabkan terjadinya interaksi edukatif. Perubahan tersebut terjadi secara menyeluruh meliputi pengetahuan, sikap dan keterampilan. Belajar merupakan proses tingkah laku seseorang untuk mendapatkan pengetahuan secara menyeluruh.

 Menurut Meka, (2017:180) Belajar merupakan suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh sesuatu perubahan yang baru secara keseluruhan sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan sesamanya.

Menurut Bard dan Kennedy (dalam Istiqomah, 2013: 56) hasil belajar adalah prestasi belajar peserta didik secara luas, menyeluruh, dapat dinilai dan indikator serta penandaannya dapat diamati dan dapat dinilai pada setiap tingkat atau kelas belajar. Hasil belajar merupakan suatu puncak proses belajar.

Sejalan dengan itu Santya (2005: 3) mengatakan bahwa hasil belajar menunjuk pada perubahan struktur pengetahuan individu sebagai hasil dari suatu belajar.Hasil-hasil belajar beraneka ragam besarnya, baik yang menyangkut belajar fakta sederhana maupun ketrampilan-ketrampilan teknis yang bersifat kompleks.Hasil-hasil belajar juga berbeda dengan kawasan isi yang meliputi hasil belajar efektif dan ketrampilan sosial, ketrampilan motorik dan pengetahuan prosedur.

Sedangkan Saidiharjo ( 1996: 4)  menyatakan bahwa  ilmu pengetahuan sosial adalah  hasil kombinasi atau atau hasil pemfusian atau perpaduan dari sejumlah matapelajaran seperti geografi, ekonomi,  sejarah, antropologi dan politik. Mata pelajaran tersebut mempunyai ciri – ciri yang sama oleh karena itu dipadukan menjadi satu bidang studi yaitu ilmu pengetahuan sosial (IPS).

Model pembelajaran kooperatif memiliki beberapa tipe, salah satunya adalah model pembelajaran kooperatif  tipeThink Pair Share (TPS). Pertama kali dikembangkan oleh Frank Lyman dari Unversitas Marylan pada tahun 1985.     Arends (dalam Trianto, 2013: 24) menyatakan bahawa Think Pair Share merupakan suatu cara yang efektif untuk membuat variasi suasana pola diskusi kelas. Dengan asumsi bahwa semua resitasi atau diskusi membutuhkan pengaturan untuk mengendalikan kelas secara keseluruhan, dan prosedur yang digunakan dalam     Think Pair Share dapat memberi siswa lebih banyak waktu berpikir, untuk merespon dan saling membantu.

Komalasari (2014: 64) langkah-langkah model pembelajaran tipe Think Pair Share (TPS) adalah sebagai berikut. 1) Berpikir (Thinking), guru mengajukan suatu pertanyaan atau masalah yang dikaitkan dengan pelajaran dan meminta siswa menggunakan waktu beberapa menit untuk berpikir sendiri jawaban atau masalah. 2) Berpasangan (Pairing) selanjutnya guru meminta siswa untuk berpasangan dan mendiskusikan tentang apa yang mereka pikirkan.        3) Berbagi (Sharing) pada langkah akhir guru meminta pasangan-pasangan untuk berbagi dengan seluruh kelas yang telah dibicarakan.

 

METODE PENELITIAN

Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (PTK) yang menggunakan desain  penelitian yang dikemukakan oleh Kemis dan Mc Taggart dalam Kusuma dan Dwitagama, (2010: 21). Desain Mc Taggart ini terdiri dari tiga komponen yang berurutan yaitu perencanaan, tindakan, pengamatan dan refleksi yang dalam pelaksanaan dan pengamatannya dilakukan secara bersamaan. Artinya pengamatan dilakukan pada saat proses pembelajaran.

Penelitian dilaksanakan pada tanggal 16 April sampai dengan 16 Mei semester genap tahun ajaran 2018/2019.

Penelitian ini dilakukan dalam dua siklus dan setiap siklus terdiri dari duakali pertemuan.Pada siklus I pertemuan pertama pada hari Kamis tanggal 26 April 2018 dan pertemuan kedua pada hari Jumat tanggal 27 April 2018.Pelaksanaan pembelajaran untuk siklus II dilaksanakan dalam dua kali pertemuan.Pertemuan pertama yaitu pada hari Kamis tanggal 10 Mei 2018 dan pertemuan kedua pada hari Jumat 11 Mei 2018.Dalam penelitian tindakan kelas ini memberikan tindakan berupa penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS). Prosedur penelitian ini dilaksanakan dalam bentuk siklus dengan mengacu pada desain Kemis dan Mc Taggart yang meliputi 3 tahap. Tahap-tahap tersebut adalah sebagai berikut.

PerencanaanPada tahap perencanaan langkah-langkah  yang dilakukan oleh peneliti adalah sebagai berikut: menentukan standar kompetensi, kompetensi dasar, indikator dan tujuan pembelajaran, menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) yang berfokus pada langkah-langkah pembelajaran dan penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS) dengan mengoptimalkan waktu yang tersedia seefektif mungkin, menyiapkan media pembelajaran yang dibutuhkan, membuat lembar kerja siswa (LKS) sesuai jumlah kelompok siswa, menyusun alat evaluasi yaitu berupa lembar tes untuk menilai hasil belajar siswa dan membuat format penilaian. 2) Pelaksanaan dan Observasi Tahap ini merupakan tahap melaksanakan proses pembelajaran di kelas. Dalam pelaksanaan pembelajaran ini mengikuti pedoman yang ada dalam RPP yang berfokus pada penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS). 3)Refleksi  Pada tahap ini hasil belajar siswa dianalisis, didiskusikan dan dievaluasi. Hal ini bertujuan untuk menemukan kelebihan ataupun kelemahan proses pembelajaran dan hasil belajar yang dicapai siswa.

Adapun Subyek dari penelitian ini adalah siswa-siswi kelas V SDI Malanuza tahun pelajaran 2018/2019,  yang berjumlah 22 orang siswa, yang terdiri dari 14 orang siswa perempuan dan 8 orang siswa laki-laki.

Objek dari penelitian ini adalah hasil belajar IPS siswa kelas V SDI Malanuza dengan menerapkan model kooperatif tipe Think Pair Share (TPS). Untuk memperoleh data data hasil belajar IPS digunakan metode tes hasil belajar secara individu yang dilakukan setelah diterapkan model kooperatif Think Pair Share (TPS).Tes dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui tingkat kemampuan dan pemahaman siswa dan dilakukan secara tertulis.Metode yang digunakan untuk mengetahui hasil belajar siswa dalam pemebelajaran IPS setelah menerapkan model kooperatif tipe Think Pair Share (TPS) instrument soal-soal.Tes yang digunakan dalam mengumpulkan data tentang hasil belajar siswa padamatapelajaran IPS berupa butir-butir tes objektif yang dilakukan pada setiap akhir siklus dan dikerjakan secara individ.Data diambil dengan menggunakan teknik analisis deskriptif kuantitatif.

 

HASIL PENELITIAN DANPEMBAHASAN

Hasil Penelitian

Penelitian ini dilakukan di SDI Malanuza dengan mengambil subyek penelitian siswa kelas V SDI Malanuza.Penelitian ini dilakukan dalam dua siklus dan setiap siklus terdiri dari dua kali pertemuan. Pada siklus I pertemuan pertama pada hari Kamis tanggal 26 April 2018 membahas tentang Menghargai jasa dan peranan tokoh perjuangan dalam mempersiapkan kemerdekaan Indonesia dan pertemuan kedua pada pada hari Jumat tanggal 27 April 2018 membahas tentang Menghargai jasa dan peranan tokoh perjuangan dalam mempersiapkan kemerdekaan Indonesia. Adapun kegiatan yang dilakukan guru dan siswa dalam kegiatan pembelajaran yaitu: Dalam melaksanakan pembelajaran ini, mengikuti pedoman yang ada dalam RPP yang berfokus pada penerapan model pembelajaran Kooperatif tipe Think Pair Share (TPS). Pelaksanaan proses pembelajaran terdiri dari tiga tahap yaitu kegiatan pendahuluan, kegiatan inti dan kegiatan penutup. Pada kegiatan pendahuluan yang dilakukan peneliti adalah menciptakan suasana kelas yang kondusif dengan menyapa siswa, melakukan doa bersama, mengecek kehadiran siswa dan melakukan apersepsi untuk menggali pemahaman awal siswa mengenai materi dengan mengajukan pertanyaan yang masih berhubungan dengan materi tersebut. Selanjutnya guru menyampaikan kompetensi dasar, indikator dan tujuan pembelajaran yang akan dicapai serta memotivasi siswa. Pada kegiatan inti yang dilakukan oleh guru adalah tahap Think (Berpikir), yaitu membagikan LKS kepada semua siswa, kemudian siswa diminta untuk memikirkan jawaban sesuai dengan pertanyaan yang ada dalam LKS secara mandiri untuk beberapa saat.Pada tahap ini siswa dituntut untuk mampu mengembangkan aspek kognitif yang dimiliki oleh masing-masing siswa yaitu dengan mengingat materi yang sudah disampaikan. Tahap pairing (berpasangan), guru membagi dalam beberapa kelompok (4-5 orang) secara heterogen untuk mendiskusikan apa yang telah dipikirkan pada tahap thinking.Pada tahap ini didalam kelompoknya masing-masing siswa mengemukakan idenya, saling memberikan masukan dan tanggapan, dan pada akhir diskusi diharapkan mereka telah dapat merumuskan suatu kesimpulan yang menjadi milik bersama untuk disampaikan pada tahap berikutnya.Dalam tahap ini, aspek afektif yang ada dalam diri individu siswa sangat menonjol, hal ini terlihat dengan adanya kemauan siswa untuk bergabung dengan pasangannya dalam kelompok dengan menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan oleh guru serta ikut aktif dalam diskusi dengan pasangannya. Selanjutnya pada tahap sharing (berbagi), guru meminta masing-masing pasangan dalam kelompok untuk berbagi dengan kelompok lain tentang apa yang mereka hasilkan pada tahap pairing. Dilakukan secara efektif yaitu masing-masing kelompok mempresentasikan hasil diskusi mereka di depan kelas dan kelompok lain memberikan tanggapan. Selanjutnya guru bersama siswa menyimpulkan hasil diskusi secara bersama-sama.

Pada kegiatan penutup, guru bersama siswa menyimpulkan materi yang telah dipelajari, membuat rangkuman dan melakukan evaluasi untuk menguji pemahaman siswa setelah mengikuti pembelajaran.Setelah selasai siswa mengumpulkan pekerjaannya untuk diberikan penilaian.

Pembahasan

Setelah dilakukan penelitian melalui model Think Pair Share (TPS) maka ditemukan data melalui tes hasil belajar IPS yang berkaitan dengan ruang lingkup materi yang diteliti dengan menganalisis data yang dimulai dari mengitung range, menghitung jumlah kelas, menghitung panjang kelas, menghitung mean,median, modus, membuat kurva juling, menghitung presentase hasil belajar IPS, ketuntasan klasikal, kriteria penggolongan hasil belajar IPS dan menentukan kriteria keberhasilan tindakan. Jika nilai modus lebih besar dari median dan median lebih besar dari mean maka dapat disimpulkan bahwa sebagian besar nilai-nilai hasil belajar IPS  cendrung tinggi sebaliknya jika nilai modus lebih kecil dari median dan median lebih kecil dari mean maka dapat disimpulkan bahwa nilai hasil belajar IPS cendrung rendah. Pada siklus I mean yang dihasilkan 60,45, median sebesar 57,35 dan modus sebesar 56,16 karena nilai Mo˂Md˂M maka dapat disimpulkan bahwa hasil belajar IPS siswa cendrung rendah. Sedangkan pada siklus II meanyang dihasilkan 85,86, median sebesar 86,14 dan modus 86,39 karena Mo˃Md˃M maka dapat disimpulkan bahwa hasil belajar IPS siswa cendrung tinggi. Dari kegiatan menganalisis data secara statistik maka penelitian ini dapat di deskripsikan bahwa terjadi peningkatan hasil belajar IPS dari siklus I ke siklus II.

Secara umum hasil belajar IPS siswa mengalami peningkatan.Hal ini dapat dilihat pada 4.7 di bawah ini.

Tabel 4.7 Perbandingan Hasil Belajar Siklus I dan Siklus II

No Hasil Belajar       Siklus I       Siklus II
 1. Nilai Rata- rata        60.45%        85.86%
 2. Ketuntasan Belajar Klasikal        9.09%        86.36%
  Peningkatan 25.41%  

Hasil belajar siswa pada siklus I dan siklus II diperoleh data dengan rata-rata siklus I 60.45% berada pada kategori sedang  dengan persentase 60.45% dan ketuntasan klasikalnya 25.41%. Sedangkan pada siklus II diperoleh rata-rata 85.86% berada pada kategori tinggi dengan persentase 85.86% dan ketuntasan klasikalnya 86.36%. Hal ini menunjukan bahwa terjadi  peningkatanhasil belajar IPS  dari siklus I ke siklus II sebesar 25.41% .

Hasil penelitian juga sejalan dengan hasil penelitian Jasdilah (tahun 2015/2016) dengan judul “ Penerapan model pembelajaran Kooperatif tipe Think Pair Share (TPS) Untuk Meningkatkan Hasil Belajar IPS pada siswa kelas V di SD 20 Kalumbuk”. Keunggulan dari penelitian ini adalah sebagai berikut: (1) meningkatkan kemandirian siswa, (2) meningkatkan partisipasi siswa untuk menyumbangkan pemikiran karena merasa leluasa dalam mengungkapkan pendapatnya, (3) membentuk kelompoknya lebih muda dan lebih cepat, (4) melatih kecepatan berpikir siswa.

Berdasarkan kekurangan atau hambatan yang dihadapi pada siklus I, dan untuk memperbaiki hasil belajar yang sesuai dengan tuntutan kurikulum, maka pada siklus II peneliti memberikan tindakan perbaikan dengan memberikan penekanan kepada siswa agar lebih baik dan peneliti kembali mensosialisasikan penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS)  kepada siswa. Hal ini dapat dibuktikan dengan meningkatnya hasil belajar dari siswa  Kelas V pada  materi IPS di SDI Malanuza.

 

SIMPULAN DAN SARAN

Simpulan

Penerapan model kooperatif tipe Think Pair Share (TPS) dapat meningkatkan hasil belajar IPS siswa kelas V SDI Malanuza tahun pelajaran 2017/2018. Hal ini dapat diketahui dari hasil analisis data siklus I rata-rata hasil belajar IPS  pada siklus I dan siklus II. Berdasarkan hasil analisis data siklus I diperoleh rata-rata hasil belajar IPS sebesar 60.45% dengan presetasi 60.45% berada pada kategori sedang. Sedangkan di siklus II rata-rata hasil belajar IPS siswa 85.86%dengan presentase 85.86% berada pada kategori tinggi.

Berdasarkan hasil diatas dapat dilihat peningkatan hasil belajar IPS dari siklus I ke siklus II 25.41% dan peningkatan hasil belajar IPS dari siklus I ke siklus II sebesar 25.41% dengan demikian model Think Pair Share (TPS) dapat diterapkan di Sekolah Dasar Inpres Malanuza sebagai upaya untuk memperbaiki hasil belajar IPS dan meningkatkan keterlibatan secara aktif seluruh siswa.

Saran

Bagi Guru dalam upaya untuk mengembangkan pembelajaran yang efektif dan menyenangkan bagi siswa, maka diharapkan agar guru harus terus-menerus mengasah  kemampuan diri karena proses belajar tidak pernah berakhir di lembaga pendidikan tetapi terus menerus sepanjang masa.

Bagi Sekolah Agar menyediakan sarana dan prasarana yang mendukung proses pembelajaran siswa. Sehingga siswa lebih aktif dan semangat dalam mengikuti proses pembelajaran.

Bagi  Siswa Diharapkan bagi siswa untuk dapat lebih aktif dalam mengikuti proses pembelajaran serta memahami materi yang diberikan oleh guru, sehingga dapat meningkatkan  hasil belajar terutama pada mata pelajaran IPS.

DAFTAR PUSTAKA

Alma Buchari. 2009. Guru Profesional Menguasai Metode dan Ketrampilan  Mengajar. Bandung : Alfabeta

Aqib Zainal dkk. 2009. Penelitian Tindakan Kelas Untuk Guru SD, SLB, TK.Bandung: CV. Yrama Widya.

Awe Yosefa. 2014. Hubungan Kualifikasi Akademik,KompetensidanMotivasi Kerja dengan Kinerja Guru Sekolah Dasar di KecamatanBajawa Kabupaten Ngada.Jurnal pasca.undiksha.ac.id.Home.Vol4.No.1.(Diakses 20 Maret 2018)

Kadek Selvia Narayani. 2016. Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Think Pair Share (TPS)UntukMeningkatkan Hasil Belajar IPS. Jurnal.https: //ejournal.Undiksha.ac.id/index.Php/JJPGSD/article/view/7780. . ( Diakses 19 Maret 2018).

Kusuma , Wijaya dan Dedi Dwitagama.  2010. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta Barat: PT Indeks

Koyan, I Wayan.2012. Statistik Pendidikan Teknik Analisis Data Kuantitatif.Universitas Pendidikan Ganesha Perss.

Meka Marsianus. 2017. Hubungan Antara Sikap Siswa Terhadap Matematika Dan Lingkungan Belajar Dengan Hasil Belajar Matematika Siswa Kelas V SDK Olabolo Kecamatan Golewa Kabupaten Ngada. Jurnal Ilmiah Pendidikan Citra Bakti. Vol, 4. No. 1 ( 1 Maret 2017 )

Martono Nanang. 2012. Metode Penelitian Kuantitatif. Jakarta: Rajawali Pers

Novidha Ratna Lestary. 2016.  Model Kooperatif Tipe Think Pair Share Dalam Peningkatan Pembelajaran IPS. Jurnal Pendidikan Indonesia  Vol. 6, No.1..

  1. Thobroni. 2015. Belajar dan Pembelajaran. Yogyakarta: Ar- Ruzz Media.

Trianto. 2013. Model Pembelajaran Terpadu. Jakarta: Bumi Aksara

Trianto. 2007. Model Pembelajaran Terpadu dalam Teori dan Praktek. Jakarta: Perpustakaan Nasional Katalog dalam terbitan (KDT).

Yamin, Martinis. 2012. Paradigma Baru Pembelajaran. Jakarta: Gaung Persada.

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *